Menjemput Berkah di Manyili: Ketika Ketulusan Berkurban Membasuh Hati dan Merekatkan Harmoni

SYI'AR ISLAM29 Dilihat

Oleh: Sabri

WAJO – Matahari pagi baru saja meninggi di langit Desa Manyili ketika aroma rumput basah bercampur lantunan takbir yang sisa-sisa gungnya masih menggema di sudut-sudut kalbu. Di halaman Masjid Nurul Bayan Manyili, Kecamatan Takkalalla, Kabupaten Wajo, Kamis (27/5/2026), waktu seolah berjalan lebih lambat. Ada sebuah ritual suci yang sedang ditunaikan, bukan sekadar memotong hewan, melainkan sebuah ikhtiar menundukkan ego manusia di hadapan Sang Pencipta, bertepatan dengan momen penuh berkah Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.

Di bawah langit Takkalalla yang teduh, sekat-sekat pembatas antara aparat penegak hukum dan rakyat seketika luruh. Pakaian dinas dan formal disimpan sejenak, digantikan dengan peluh gotong royong yang menyatukan jemari. Di sana, jajaran Polsek Takkalalla membaur erat bersama masyarakat, bahu-bahu mereka merapat, menyatukan tekad untuk mengalirkan kebahagiaan bagi sesama.

Riuh rendah suara warga berpadu khidmat dengan zikir yang merayap di dalam hati. Hari itu, dua ekor sapi dan seekor kambing menjadi saksi bisu dari sebuah kepasrahan. Ketika sebilah pisau yang tajam digoreskan demi memenuhi syariat, darah yang mengalir ke bumi bukan simbol kematian, melainkan lambang dari lahirnya kembali kepedulian sosial yang murni. Ada getar religius yang menyusup di dada setiap orang yang menyaksikan: sebuah pengingat abadi tentang keikhlasan Nabi Ibrahim dan keteguhan Nabi Ismail.

Kapolsek Takkalalla, AKP Mursalim, S.Sos., M.H., yang memimpin langsung jalannya ibadah kurban ini, tampak tak berjarak dengan warga. Didampingi Kanit IK Polsek Takkalalla, AIPDA Mambi, ia ikut merasakan kehangatan kebersamaan tersebut. Bagi Mursalim, ketukan pisau kurban hari ini adalah ketukan pintu hati untuk lebih dekat dengan masyarakat yang mereka ayomi.

“Momentum Iduladha ini adalah madrasah bagi kita semua untuk meningkatkan rasa kebersamaan, kepedulian, serta memperkuat silaturahmi yang barangkali sempat renggang oleh kesibukan duniawi,” tutur AKP Mursalim dengan nada suara yang dalam dan penuh takzim.

“Kami berharap, setiap gram daging kurban yang dibagikan hari ini tidak hanya mengenyangkan perut yang lapar, tetapi juga memberi makan pada jiwa-jiwa kita dengan kebahagiaan dan rasa syukur.”

Lebih dari sekadar menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban umum (Kamtibmas), kehadiran Polri di halaman masjid hari itu membawa misi kemanusiaan yang lebih sejuk. Seragam yang biasa diasosiasikan dengan ketegasan hukum, kini hadir membawa kehangatan dan senyuman.

“Polri adalah bagian dari detak jantung masyarakat. Di sinilah kami, bukan hanya sebagai penjaga gerbang keadilan, tetapi sebagai saudara dalam kemanusiaan dan keimanan. Semoga semangat berbagi dan gotong royong seperti ini terus terjaga, abadi di tengah masyarakat Takkalalla,” tambah AKP Mursalim, menatap nanar sisa-sisa prosesi kurban yang penuh kedamaian.

Hingga matahari tepat berada di atas kepala, proses penyembelihan hingga pembagian hewan kurban berjalan dengan sangat tertib, aman, dan lancar. Antusiasme masyarakat begitu tinggi, tergambar dari senyum-senyum simpul yang terkembang saat kantong-kantong berkah itu berpindah tangan. Di Manyili hari itu, Iduladha bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah simfoni indah tentang cinta kepada Tuhan yang diwujudkan melalui kasih sayang kepada sesama manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *