Di Jalan Menuju Bollangi, Kenangan Itu Pulang: Smabo 83 Menyulam Rindu di Lereng Persahabatan

PENDIDIKAN51 Dilihat

Penulis: Alimuddin
Alumni Smabo 83

Langit pagi belum sepenuhnya terang ketika roda-roda kendaraan mulai berputar meninggalkan Watampone. Dari rumah sederhana milik Hj. St. Nurbaya di Jalan Gunung Bawakaraeng, satu demi satu alumni SMA Negeri 156 Watampone angkatan 1983, yang akrab disebut Smabo 83, memulai perjalanan menuju Bollangi, kawasan sejuk di kaki pegunungan Kabupaten Gowa.

Sabtu, 9 Mei 2026, bukan sekadar hari libur biasa. Ia menjelma menjadi hari pulangnya kenangan.

Di dalam dua mobil yang melaju perlahan menembus jalur Sumpa Labbu, Camba hingga Bantimurung, tawa kecil terdengar bersahutan. Ada cerita masa remaja yang kembali dibuka, ada nama-nama lama yang disebut dengan mata berbinar, dan ada kerinduan yang diam-diam tumbuh selama puluhan tahun, kini menemukan jalannya untuk bertemu.

Sebuah mobil Rush dikemudikan Abulkhaer, alumni IPA1 yang kini mengemban amanah sebagai Anggota DPRD Kabupaten Bone dari Partai NasDem. Di dalamnya, perjalanan terasa seperti lorong waktu. Baharuddin dari IPA2, Andi Abu Bakar dari IPS1, Andi Arnidah dan Na’imah, duduk bersama penulis, menyusuri tikungan demi tikungan sambil mengenang ruang kelas yang pernah menyatukan mereka di usia belia. Cerita lucu pun tak dapat dihindari saat narasi cerita tak luput dari dimulainya Cinta Segi Tiga di antara 2 lelaki di atas mobil dan seorang adik kelas yang cukup mempesona di jamannya. Gelak tawa pun semakin meledak di atas mobil.

Sementara mobil Avanza yang dikemudikan Sirajuddin, pensiunan PNS dari IPA1, membawa rombongan lain yang tak kalah hangat suasananya. Hj. Rukaya, Sukarmi, Ridwan, Hj. St. Nurbaya, dan Faizal tampak menikmati perjalanan dengan wajah-wajah penuh syukur.

Perjalanan menuju Bollangi bukan sekadar perpindahan jarak dari satu kota ke kota lain. Ia adalah perjalanan hati, perjalanan menuju persaudaraan yang tak lekang oleh usia.

Di grup WhatsApp alumni, kabar terus berdatangan seperti denyut nadi yang menghidupkan semangat reuni. Ketua Smabo 83, H. Asnawi, dilaporkan masih dalam perjalanan dari Jakarta menuju lokasi acara. Dari berbagai penjuru negeri, alumni mulai berkumpul. Ada yang datang dari Kalimantan Selatan, Surabaya, Jawa Barat, Parepare, Wajo, hingga Makassar.

Mereka datang bukan karena undangan resmi semata, melainkan karena panggilan batin yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Satu per satu nama muncul di layar percakapan grup: Prof. Dr. Hj. Indah Raya, Yusnani, Ma’asiah Yube, Andi Nurzaman, Fahrurrazid, hingga H. Ansyaruddin. Semua seperti kembali menjadi siswa SMA yang dulu pernah duduk bersama, bercanda di kantin sekolah, atau saling menyemangati menghadapi ujian kehidupan.

Hingga Sabtu siang, sedikitnya 52 alumni telah terpantau akan hadir. Jumlah itu diyakini masih akan bertambah, sebab sebagian lainnya belum sempat memberi kabar akibat keterbatasan jaringan di perjalanan.

Namun sesungguhnya, reuni bukan soal berapa banyak yang hadir. Reuni adalah tentang siapa yang masih menyimpan tempat di hati untuk sahabat lamanya.

Di Bollangi nanti, mungkin rambut telah memutih, langkah tak lagi secepat dulu, dan wajah telah digurat usia. Tetapi persahabatan sejati rupanya tidak pernah menua.

Di antara dinginnya udara pegunungan, para alumni Smabo 83 akan kembali duduk melingkar, memanggil nama-nama lama dengan sapaan akrab yang tak pernah berubah. Ada doa yang diam-diam dipanjatkan untuk sahabat yang telah lebih dahulu pulang menghadap Ilahi. Ada syukur karena Allah masih memberi umur untuk bertemu kembali setelah lebih dari empat dekade perjalanan hidup.

Dan di ujung perjalanan menuju Bollangi itu, mereka mungkin akan menyadari satu hal sederhana:

Bahwa waktu boleh berjalan jauh, tetapi persaudaraan yang dibangun dengan ketulusan akan selalu menemukan jalan untuk pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *