Jejak Kasih di Sejadah Pagi: Ketika Negara Hadir Menyapa Luka di Bumi Soppeng

POLRI103 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., saat berdialog dan berfoto bersama warga usai pelaksanaan Subuh Keliling di Masjid Riyadh Al Shalihin, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng (Foto: Dokumentasi Humas Polda Sulsel)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG) Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

ESSAY PALAPA Nurani Redaksi di Atas Fakta

Oleh: Idris

SUARA PALAPA, SOPPENG — Langit Soppeng baru saja menyibak tabir malam, membiarkan bias fajar merayap pelan di atas kubah-kubah suci. Di saat sisa-sisa arang dan abu musibah kebakaran malam tadi masih menyisakan getir di dada warga Kecamatan Marioriawa, sebuah langkah tegap namun penuh kelembutan mengetuk pintu pagi.

Di Masjid Riyadh Al Shalihin, hari Minggu, 25 Oktober 2026, fajar tidak hanya datang membawa cahaya, tetapi juga merengkuh asa yang sempat runtuh.

Adalah Kapolres Soppeng, AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., yang memilih untuk membersamai langkah-langkah gemetar warga dalam balutan program Subuh Keliling. Tanpa berjarak, ia hadir bukan sekadar sebagai penjaga hukum berseragam, melainkan sebagai sesama hamba yang bersimpuh di atas sejadah, menundukkan kepala di hadapan Sang Maha Pemilik Takdir.

Menyulam Reruntuhan Menjadi Kekuatan

Musibah sering kali datang tanpa menggeser tanya. Ia menyergap, merenggut tempat berlindung, dan meninggalkan sunyi di kepala mereka yang kehilangan. Namun, di sanilah letak esensi kemanusiaan diuji—apakah kita memilih berjalan sendiri, atau bergandengan tangan menembus badai.

Kehadiran Polri di tengah jemaah Masjid Riyadh Al Shalihin menjadi penanda sunyi bahwa negara tidak pernah alpa. Melalui pendekatan yang humanis dan religius, AKBP Hari Budiyanto membawa pesan universal tentang persaudaraan. Di hadapan warga yang sedang diuji, ia menegaskan bahwa tugas kepolisian melampaui batas-batas pengamanan fisik semata.

“Bagi kami, tugas kepolisian bukan semata-mata menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga hadir sebagai bagian dari masyarakat. Setelah musibah kebakaran yang terjadi tadi malam, kami ingin tetap membersamai warga, mempererat silaturahmi, serta memberikan semangat agar masyarakat dapat menghadapi situasi ini dengan tegar. Polri akan terus berupaya menjaga komunikasi dan membangun kebersamaan dengan seluruh elemen masyarakat,” tutur Kapolres dengan nada yang menenangkan.

Kalimat tersebut mengalir bukan sebagai retorika birokratis, melainkan sebagai bisikan nurani dari seorang pemimpin yang merasakan denyut nadi rakyatnya.

Merajut Asa di Balik Shaf Sholat

Subuh keliling pagi itu bertransformasi menjadi ruang sunyi tempat bertemunya air mata dan ketegaran. Barisan shaf yang rapat di dalam masjid tidak hanya melambangkan kesatuan ibadah, tetapi juga solidnya ikatan sosial—sebuah manifestasi nyata dari semangat Polisi Bersama Masyarakat.

Dalam keheningan pagi, komunikasi terjalin tanpa sekat. Ada dialog batin yang terbangun, di mana derita warga diserap dengan telinga yang sabar, dan dikuatkan dengan kehadiran yang nyata. Inilah jurnalisme nurani; melihat fakta bukan sekadar peristiwa hitam di atas putih, melainkan membaca denyut kemanusiaan yang bersemayam di dalamnya.

Renungan Penutup

Kebakaran boleh jadi meluluhlantakkan bangunan dan harta benda, namun ia takkan pernah mampu membakar habis solidaritas dan ketulusan iman. Dari Masjid Riyadh Al Shalihin, kita diingatkan kembali bahwa kemanusiaan adalah bahasa universal yang paling jujur.

Ketika fajar menyapa Soppeng hari ini, ia membawa pesan abadi: bahwa di balik setiap musibah selalu tersimpan tangan-tangan yang terulur untuk menguatkan, dan di dalam setiap pelukan persaudaraan, luka perlahan-lahan menemukan jalan untuk sembuh.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *