Ketika Air Mengalir, Harapan Petani Tak Lagi Kering

TAJUK RENCANA25 Dilihat

Keterangan Gambar:
Kepala BBWS Pompengan Jeneberang Dr. Heriyantono Waluyo, S.T., M.T. bersama Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan SDA BBWS Pompengan Jeneberang Yusma Elfita, S.T., M.Sc., serta gambaran hamparan persawahan dan aktivitas di sekitar Saluran Kiri Gilireng, Kelurahan Pinceng Pute Kec. Tanasitolo., Kabupaten Wajo. Dukungan suplai air pada musim kemarau menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pertanian dan ketahanan pangan. (Foto: Dokumentasi Humas BBWS Pompengan Jeneberang)

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

TAJUK RENCANA PALAPA

Suara Resmi Redaksi

SUARA PALAPA, WAJO — Ada kalanya, makna pembangunan tidak terdengar melalui suara mesin, tidak pula selalu tampak dalam megahnya sebuah bangunan.

Ia justru hadir dengan cara yang sederhana.

Air yang mengalir ke sawah. Padi yang tetap tumbuh di tengah kemarau. Dan wajah petani yang masih menyimpan harapan untuk memanen hasil kerja kerasnya.

Di Kelurahan Pinceng Pute Kec. Tanasitolo., Kabupaten Wajo, cerita tentang air pada musim kemarau kembali mengingatkan kita bahwa sumber daya air bukan sekadar persoalan teknis.

Di sana ada kehidupan.

Ada petani yang menggantungkan penghidupan kepada tanah. Ada keluarga yang menunggu hasil panen. Ada pangan yang harus dijaga keberlangsungannya. Dan ada amanah negara untuk memastikan sumber daya air dikelola bagi sebesar-besarnya kemanfaatan masyarakat.

Informasi Humas BBWS Pompengan Jeneberang menyebutkan, dukungan suplai air pada musim kemarau diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan persawahan di sekitar Saluran Kiri Gilireng.

Air tersebut bersumber dari Bendungan Paselloreng dan dialirkan melalui Bendung Gilireng, dengan pemompaan pada Saluran Induk dan saluran pembuang Gilireng Kiri.

Ikhtiar tersebut menjadi semakin berarti karena kebutuhan air pertanian tetap harus dipenuhi meskipun saluran tersier di kawasan tersebut belum terbangun.

Namun, kerja pelayanan tidak boleh berhenti hanya karena sebuah saluran belum sempurna.

Di situlah pengelolaan sumber daya air menemukan maknanya: mencari jalan agar air tetap dapat memberi kehidupan, sepanjang dilakukan sesuai kewenangan, ketentuan teknis dan tata kelola yang semestinya.

Ketika Air Menjadi Jalan Kehidupan

Dukungan suplai air itu dilaporkan memberi manfaat bagi lahan pertanian di sekitar Saluran Kiri Gilireng, salah satunya di Desa Alausalo.

Pada musim kemarau ini, petani disebut berhasil melakukan panen pada areal sekitar 285 hektare, dengan produktivitas mencapai sekitar 6–7 ton gabah per hektare.

Angka itu memang dapat dibaca sebagai data.

Tetapi Palapa memandang, di balik angka tersebut terdapat kisah manusia yang jauh lebih panjang.

Ada benih yang ditanam.

Ada tanah yang dibajak.

Ada telapak kaki yang menginjak lumpur.

Ada keringat yang jatuh di bawah terik matahari.

Dan ada doa yang diam-diam dipanjatkan agar air tidak berhenti sebelum tanaman menyelesaikan kehidupannya.

Karena bagi petani, air bukan sekadar bagian dari sistem irigasi.

Air adalah kemungkinan untuk bertahan hidup.

Di Balik Aliran Air, Ada Amanah Kelembagaan

Suara Resmi Redaksi Palapa memandang bahwa keberhasilan pengelolaan sumber daya air tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab kelembagaan dan orang-orang yang menjalankan amanah tersebut.

Dalam konteks BBWS Pompengan Jeneberang, kepemimpinan Dr. Heriyantono Waluyo, S.T., M.T., selaku Kepala BBWS Pompengan Jeneberang, bersama jajaran teknis dan pengelola sumber daya air, memiliki posisi penting dalam memastikan tugas kelembagaan berjalan di wilayah kerjanya.

Demikian pula peran Yusma Elfita, S.T., M.Sc., selaku Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan SDA BBWS Pompengan Jeneberang, berada pada bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga fungsi layanan sumber daya air, termasuk bagaimana infrastruktur yang telah dibangun dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Palapa memandang, menyebut kedua pejabat tersebut bukanlah untuk menempatkan mereka sebagai pusat cerita.

Pusat cerita tetaplah rakyat.

Para pejabat dan aparatur negara hanyalah bagian dari mata rantai amanah yang harus bekerja agar sumber daya yang dikelola negara benar-benar sampai kepada masyarakat.

Sebab ukuran keberhasilan sebuah pelayanan publik pada akhirnya tidak hanya terlihat dari dokumen, laporan atau bangunan yang berdiri.

Ia juga dapat dirasakan ketika seorang petani berkata:

“Sawah kami masih bisa panen.”

BBWS dan Tanggung Jawab Mengelola Air

BBWS Pompengan Jeneberang merupakan unit pelaksana teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum yang menjalankan tugas pengelolaan sumber daya air sesuai wilayah kewenangannya.

Tugas tersebut memiliki cakupan yang luas.

Bukan hanya membangun atau memelihara infrastruktur.

Ada pengelolaan sumber daya air, konservasi, pendayagunaan, operasi dan pemeliharaan, pengendalian daya rusak air, hingga berbagai bentuk koordinasi dan pelayanan kepada masyarakat.

Karena itu, ketika air dari suatu bendungan dapat memberi kehidupan kepada persawahan di tengah kemarau, yang terlihat sesungguhnya bukan hanya keberhasilan sebuah sistem teknis.

Di sana terdapat kerja kelembagaan.

Ada perencanaan.

Ada pengawasan.

Ada operasi.

Ada pemeliharaan.

Ada tenaga teknis yang bekerja.

Dan ada keputusan-keputusan yang harus diambil agar air yang tersedia dapat memberi manfaat secara optimal.

Di sinilah kepemimpinan menjadi penting.

Bukan karena seorang kepala lembaga harus selalu disebut namanya, melainkan karena kepemimpinan menentukan bagaimana sebuah amanah kelembagaan diterjemahkan menjadi pelayanan yang dapat dirasakan masyarakat.

Kemarau Mengajarkan Kita Tentang Keadilan Air

Kemarau juga mengajarkan satu hal yang sering terlupakan:

air harus dikelola dengan kebijaksanaan.

Sumber daya air bukan milik satu orang.

Bukan pula hanya untuk satu wilayah.

Ia adalah sumber kehidupan yang harus dikelola dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, keberlanjutan lingkungan dan kepentingan pembangunan.

Karena itu, Palapa memandang bahwa keberlanjutan layanan air irigasi harus terus menjadi perhatian.

Apa yang dilakukan pada musim kemarau hari ini tentu penting.

Tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana sistem pengelolaan air dapat terus diperkuat untuk menghadapi musim-musim berikutnya.

Ketersediaan jaringan.
Kondisi saluran.
Operasi dan pemeliharaan.
Ketersediaan sumber air.
Koordinasi antarpemangku kepentingan.
Serta partisipasi masyarakat.

Semua itu merupakan bagian dari pekerjaan panjang yang tidak selesai dalam satu musim tanam.

Petani Tidak Meminta Kemewahan

Petani sesungguhnya tidak sedang meminta kemewahan.

Mereka hanya berharap air datang ketika tanah membutuhkannya.

Mereka ingin tanaman yang ditanam dengan susah payah tidak mati sebelum waktunya.

Mereka ingin panen dapat berlangsung.

Dan mereka ingin hasil dari sawahnya mampu membawa pulang kehidupan yang lebih baik bagi keluarga.

Karena itu, setiap kebijakan dan pelayanan yang membuat sawah tetap hidup sesungguhnya memiliki nilai kemanusiaan yang jauh lebih besar daripada sekadar angka dalam laporan.

Satu hektare sawah yang berhasil panen berarti ada kehidupan yang tetap berjalan.

Dan ketika ratusan hektare dapat dipanen di tengah kemarau, maka ada ratusan harapan yang ikut diselamatkan.

Air Adalah Amanah

Palapa memandang, kisah Desa Alausalo bukan semata-mata tentang Bendungan Paselloreng.

Bukan pula hanya tentang Bendung Gilireng.

Bukan hanya tentang saluran air.

Dan bukan semata tentang angka produktivitas gabah.

Lebih dari itu, ia adalah cerita tentang bagaimana infrastruktur negara bertemu dengan kebutuhan manusia.

Di satu sisi terdapat amanah pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

Di sisi lain terdapat petani yang setiap hari menggantungkan hidup kepada tanah dan air.

Di antara keduanya terdapat lembaga, aparatur dan para pengelola yang harus memastikan amanah itu berjalan sebagaimana mestinya.

Karena itu, Palapa melihat kepemimpinan Dr. Heriyantono Waluyo bersama jajaran BBWS Pompengan Jeneberang, termasuk bidang yang menangani operasi dan pemeliharaan sumber daya air, dalam konteks yang lebih luas: sebagai bagian dari tanggung jawab pelayanan publik untuk menjaga agar manfaat sumber daya air benar-benar dirasakan masyarakat.

Namun, pekerjaan itu tentu belum selesai.

Setiap musim membawa tantangan.

Setiap saluran membutuhkan perhatian.

Dan setiap petani masih menyimpan harapan yang sama: jangan biarkan air berhenti sebelum kehidupan selesai bertumbuh.

Sebab pembangunan yang paling bermartabat bukanlah pembangunan yang hanya tampak dari kejauhan.

Melainkan pembangunan yang dapat dirasakan dari dekat.

Di telapak tangan petani.

Di hamparan sawah.

Di lumbung pangan.

Dan di meja makan keluarga Indonesia.

Maka, ketika air mengalir menuju sawah-sawah Alausalo, sesungguhnya bukan hanya air yang sedang bergerak.

Harapan pun ikut mengalir.

Dan selama harapan itu masih menghidupi manusia, selama itu pula pengelolaan air menjadi sebuah amanah yang tidak boleh kehilangan nurani.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *