Kekeringan Wajo Menguji Keteguhan Kita Merawat Air

TAJUK RENCANA56 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kepala BBWS Pompengan Jeneberang Dr. Heriyantono Waluyo, S.T., M.T. bersama Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan SDA BBWS Pompengan Jeneberang Yusma Elfita, S.T., M.Sc., saat melakukan koordinasi terkait kondisi kekeringan dan ketersediaan air di Kabupaten Wajo.
(Foto: Humas BBWS Pompengan-Jeneberang/PMG)

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

TAJUK RENCANA PALAPA

Suara Resmi Redaksi

SUARA PALAPA, WAJO — Ada masa ketika langit seakan menyimpan hujan terlalu lama. Tanah mulai kehilangan kelembapannya, sawah menunggu air, dan para petani memandang langit dengan harapan yang sederhana: semoga hujan segera kembali.

Di tengah keadaan seperti itulah kekeringan tidak lagi sekadar persoalan alam. Ia menjadi persoalan kehidupan.

Ketika air berkurang, yang ikut dipertaruhkan bukan hanya hamparan persawahan, melainkan keberlangsungan usaha tani, ketahanan pangan, dan penghidupan masyarakat yang menggantungkan harapannya pada tanah dan air.

Kondisi kekeringan di Kabupaten Wajo tersebut mendapat perhatian melalui koordinasi antara Kepala BBWS Pompengan Jeneberang Dr. Heriyantono Waluyo, S.T., M.T. bersama jajaran dengan Bupati Wajo.

Koordinasi itu membahas kondisi kekeringan pada sejumlah areal persawahan yang berada di luar kewenangan pusat, sekaligus membicarakan langkah penanganan yang dapat dilakukan terhadap wilayah terdampak, antara lain Kecamatan Tanasitolo, Belawa, dan Maniangpajo.

Bagi Suara Palapa, pertemuan tersebut memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar agenda koordinasi antarlembaga.

Di dalamnya terdapat sebuah pesan bahwa persoalan air membutuhkan kehadiran negara yang bekerja melalui kewenangan masing-masing, sekaligus membutuhkan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk duduk bersama membaca persoalan di lapangan.

Air Tidak Mengenal Batas Administratif

Dalam kedudukannya sebagai unit pelaksana teknis Kementerian Pekerjaan Umum yang menjalankan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Sumber Daya Air di wilayah kerjanya, BBWS Pompengan Jeneberang mempunyai posisi penting dalam pengelolaan sumber daya air sesuai kewenangan yang diberikan negara.

Karena itu, perhatian terhadap kondisi Bendung Bila dan Waduk Kalola menjadi bagian penting dalam melihat ketersediaan air, khususnya dalam mendukung kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian.

Di sinilah peran Kepala BBWS Pompengan Jeneberang, Dr. Heriyantono Waluyo, menjadi penting dalam memastikan pengelolaan sumber daya air dan koordinasi kelembagaan berjalan dalam kerangka tugas serta kewenangan BBWS.

Sementara itu, keterlibatan Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan SDA BBWS Pompengan Jeneberang, Yusma Elfita, S.T., M.Sc., memiliki relevansi dengan aspek operasional dan pemeliharaan sumber daya air yang berada dalam lingkup tugas bidangnya.

Kehadiran kedua pejabat tersebut bersama jajaran BBWS dalam koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Wajo memperlihatkan bahwa pengelolaan air tidak cukup hanya dilihat dari satu sisi.

Ada sisi kebijakan, ada sisi teknis, ada kondisi lapangan, dan ada pula kebutuhan masyarakat yang harus dibaca secara bersama.

Suara Palapa memandang, di tengah ancaman kekeringan, koordinasi adalah jembatan antara data dan tindakan.

Sebab keputusan mengenai air tidak boleh hanya lahir dari perkiraan. Ia harus bertumpu pada informasi lapangan, kondisi sumber air, kebutuhan masyarakat, kemampuan infrastruktur, serta batas-batas kewenangan yang telah ditetapkan.

Bendung, Waduk dan Harapan Petani

Bendung Bila dan Waduk Kalola bukan sekadar bangunan infrastruktur.

Di balik keduanya terdapat kebutuhan masyarakat yang nyata. Ada sawah yang harus diairi, ada petani yang menunggu musim tanam, dan ada keluarga yang menggantungkan penghidupan pada keberhasilan panen.

Karena itu, pembahasan mengenai ketersediaan air pada kedua infrastruktur tersebut menjadi penting dalam membaca kondisi kekeringan di Wajo.

BBWS Pompengan Jeneberang bersama Pemerintah Kabupaten Wajo bertukar informasi mengenai kondisi terkini di lapangan dan langkah-langkah penanganan dampak kekeringan.

Bagi Palapa, sinergi seperti ini perlu terus dijaga.

Namun lebih dari itu, setiap hasil koordinasi harus sedapat mungkin diterjemahkan menjadi langkah yang terukur, tepat sasaran, dan sesuai dengan kewenangan masing-masing.

Sebab masyarakat tidak membutuhkan sekadar kabar bahwa pemerintah telah berkoordinasi. Masyarakat membutuhkan kepastian bahwa persoalan mereka didengar, dipetakan, dan ditangani sesuai kemampuan negara.

Ketika Air Menjadi Amanah

Kekeringan pada akhirnya mengajarkan manusia tentang sesuatu yang sering terlupakan ketika air berlimpah: bahwa air adalah amanah.

Ia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai angka debit, kapasitas waduk, atau laporan teknis.

Di dalam setiap tetes air terdapat kehidupan.

Ada petani yang berharap sawahnya tetap hijau. Ada keluarga yang menunggu hasil panen. Ada anak-anak yang kelak akan mewarisi tanah yang hari ini sedang kita kelola.

Karena itu, Suara Palapa memandang bahwa pengelolaan sumber daya air harus selalu diletakkan dalam semangat pelayanan kepada masyarakat, kehati-hatian teknis, kepatuhan terhadap kewenangan, dan tanggung jawab antargenerasi.

BBWS Pompengan Jeneberang, dalam kapasitasnya sebagai pelaksana teknis Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum di wilayah kerjanya, bersama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan lainnya, memiliki peran penting untuk terus menjaga komunikasi dan mencari langkah penanganan sesuai kondisi serta kewenangan yang tersedia.

Masyarakat pun memiliki ruang untuk menyampaikan kondisi kekeringan atau kekurangan air yang terjadi di wilayahnya.

BBWS Pompengan Jeneberang membuka akses pengaduan melalui WA Posko Induk BBWS Pompengan Jeneberang di 0821 9339 4049.

Saluran itu bukan sekadar nomor telepon yang tercantum dalam sebuah rilis.

Ia adalah pintu komunikasi antara masyarakat dan pengelola sumber daya air, agar kondisi yang terjadi di lapangan dapat diketahui dan menjadi bahan dalam menentukan langkah penanganan.

Sebab pemerintah tidak mungkin membaca seluruh persoalan dari balik meja.

Kadang, kenyataan justru hadir dari sawah yang mulai mengering, dari saluran yang kehilangan aliran, atau dari suara petani yang berharap ada perhatian.

Palapa: Merawat Air, Merawat Kehidupan

Suara Palapa meyakini bahwa menghadapi kekeringan tidak cukup dengan menyalahkan musim.

Kemarau adalah bagian dari siklus alam. Yang menjadi tanggung jawab manusia adalah bagaimana mengelola sumber daya yang tersedia dengan sebaik-baiknya.

Di situlah ilmu pengetahuan, infrastruktur, koordinasi pemerintahan, kedisiplinan pengelolaan air, dan kepedulian sosial bertemu.

Dr. Heriyantono Waluyo dan Yusma Elfita, bersama jajaran BBWS Pompengan Jeneberang, berada dalam bagian dari ikhtiar kelembagaan tersebut, masing-masing dengan tugas dan tanggung jawab sesuai kedudukannya.

Dan Pemerintah Kabupaten Wajo pun memiliki peran yang tidak kalah penting dalam membaca kebutuhan masyarakat di wilayahnya serta membangun koordinasi dengan berbagai pihak.

Karena air tidak mengenal batas administratif.

Ketika sawah mengering, yang merasakan akibatnya adalah manusia.

Ketika sumber air berkurang, yang diuji bukan hanya kemampuan sebuah lembaga, tetapi juga kesungguhan kita sebagai bangsa dalam menjaga kehidupan.

Maka, di tengah langit yang masih menahan hujan, barangkali yang paling layak kita rawat adalah harapan.

Harapan petani.

Harapan keluarga.

Dan harapan bahwa setiap ikhtiar manusia untuk menjaga air senantiasa mendapat jalan dari Yang Maha Menghidupkan.

Suara Palapa percaya, merawat air bukan semata-mata pekerjaan teknis. Ia adalah bentuk tanggung jawab kemanusiaan sekaligus amanah kepada Tuhan.

Sebab selama air masih dijaga, kehidupan masih memiliki alasan untuk terus tumbuh.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

u

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *