Ketika Rumah Besar Pers Menata Kembali Barisan Organisasi

BREAKING NEWS34 Dilihat

Keterangan Gambar:

Ketua PWI Sulsel Dr. H. Suwardi Thahir bersama sejumlah pengurus dalam suasana diskusi dan koordinasi organisasi di Makassar. Pertemuan menjadi bagian dari upaya memperkuat konsolidasi dan menjaga keberlangsungan organisasi PWI di daerah. (Foto: Dok. Humas PWI Sulsel)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

ESSAY PALAPA

Refleksi Nurani di Atas Fakta

Oleh: Masykur Thahir

SUARA PALAPA, MAKASSAR — Ada kalanya sebuah organisasi perlu berhenti sejenak. Bukan untuk kehilangan langkah, melainkan untuk memastikan bahwa jalan yang ditempuh masih menuju arah yang benar.

Di sebuah ruang sederhana di Makassar, Minggu, 23 Agustus 2026, percakapan tentang organisasi pers mengalir di antara para pengurus PWI Sulawesi Selatan. Tidak ada panggung besar. Tidak ada sorotan berlebihan. Hanya diskusi, koordinasi, dan kegelisahan yang sama: bagaimana menjaga rumah besar wartawan tetap berdiri kokoh ketika sebagian tiangnya mulai membutuhkan penguatan.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan, Dr. H. Suwardi Thahir, bersama Wakil Ketua PWI Sulsel Bidang Organisasi, H. Mappiar, menegaskan bahwa keberadaan dan keberlangsungan kepengurusan PWI di tingkat kabupaten/kota merupakan bagian dari pembinaan organisasi di bawah koordinasi PWI Provinsi Sulawesi Selatan.

Penegasan itu disampaikan di sela-sela kegiatan diskusi dan koordinasi bersama sejumlah pengurus PWI Sulsel serta pengurus PWI kabupaten/kota di Warkop Sami, Panakkukang, Makassar.

Bagi sebuah organisasi profesi, struktur bukan sekadar susunan nama dalam sebuah surat keputusan. Struktur adalah cara sebuah rumah menjaga agar pintunya tetap terbuka, pelayanannya tetap berjalan, dan seluruh penghuninya merasa memiliki tempat yang sama untuk bertumbuh.

Karena itu, sejumlah kepengurusan PWI kabupaten/kota yang masa baktinya telah berakhir maupun yang mengalami kekosongan menjadi perhatian PWI Sulsel.

“Saat ini sejumlah kepengurusan PWI di kabupaten menjadi perhatian serius kami, terutama sejumlah kabupaten/kota yang masa kepengurusannya telah berakhir. Kami akan melakukan pembenahan struktur organisasi PWI, terutama yang saat ini mengalami kekosongan. Untuk sementara, kepengurusan yang kosong akan diambil alih oleh pengurus PWI Provinsi,” ujar Suwardi.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa konsolidasi organisasi bukan sekadar agenda administratif. Ia adalah ikhtiar untuk memastikan roda organisasi tidak berhenti hanya karena terjadi kekosongan kepemimpinan.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah PWI Kabupaten Wajo, di tengah dinamika internal organisasi yang membutuhkan penyelesaian secara arif dan bermartabat.

Wakil Ketua PWI Sulsel Bidang Organisasi, H. Mappiar, menyebut Wajo, Soppeng, dan Bone sebagai sejumlah daerah yang mendapat perhatian dalam proses pembenahan organisasi.

Untuk Wajo, kata Mappiar, PWI Sulsel akan menyiapkan langkah penunjukan pelaksana harian agar aktivitas organisasi tetap berjalan sembari proses penyempurnaan struktur menuju kepengurusan definitif dilakukan.

“Untuk sementara kepengurusan PWI Wajo akan ditunjuk sebagai pelaksana harian. Langkah ini diambil agar roda organisasi tetap berjalan sambil menunggu penyelesaian dan penyempurnaan struktur kepengurusan,” kata Mappiar.

Pelaksana harian, dalam konteks ini, bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Ia lebih tepat dipandang sebagai jembatan. Sebuah ruang transisi agar organisasi tidak kehilangan arah dan pelayanan kepada anggota tetap berlangsung.

Sebab organisasi profesi wartawan tidak hanya berbicara tentang siapa yang memimpin. Ia juga berbicara tentang bagaimana setiap orang yang berada di dalamnya mampu menjaga kehormatan profesi.

PWI adalah rumah besar wartawan Indonesia. Di dalam rumah itu terdapat perbedaan pandangan, pengalaman, karakter, dan latar belakang. Namun perbedaan semestinya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh.

Justru dari perbedaan itulah kedewasaan organisasi diuji.

Mappiar mengingatkan seluruh anggota PWI di daerah agar tetap menjaga kekompakan dan profesionalisme dalam menjalankan tugas jurnalistik.

“PWI itu rumah besar wartawan. Jangan sampai ada perpecahan yang merugikan organisasi dan citra wartawan di mata publik,” tegasnya.

Pesan itu sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan tanggung jawab yang besar.

Sebab ketika wartawan kehilangan persatuan, yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah organisasi. Yang ikut dipertaruhkan adalah kepercayaan publik terhadap profesi yang setiap hari berbicara atas nama kebenaran.

Wartawan bekerja dengan kata-kata, tetapi tanggung jawabnya melampaui kata-kata. Berita dapat mengubah cara orang memandang sebuah peristiwa. Tulisan dapat membuka mata yang tertutup. Kritik dapat menyelamatkan kebijakan dari kesalahan. Dan pada saat yang sama, berita yang tidak dikerjakan dengan nurani dapat melukai mereka yang tidak bersalah.

Karena itu, pembenahan organisasi seharusnya berjalan beriringan dengan pembenahan kualitas profesi.

Konsolidasi bukan untuk memperbesar kekuasaan. Pembinaan bukan untuk mencari siapa yang harus dikalahkan. Dan pergantian kepengurusan bukan semestinya dibaca sebagai pertarungan antarkelompok.

Ia harus ditempatkan sebagai ikhtiar bersama untuk mengembalikan organisasi kepada tujuan awalnya: menjaga kehormatan profesi, meningkatkan kompetensi wartawan, dan memberikan manfaat bagi kehidupan pers serta masyarakat.

Di situlah muruah organisasi menemukan maknanya.

Sebuah rumah besar akan tetap kokoh bukan karena tidak pernah mengalami retak, melainkan karena penghuninya memiliki kesediaan untuk memperbaiki bagian yang mulai rapuh.

Begitu pula PWI.

Ketika dinamika organisasi datang silih berganti, yang dibutuhkan bukan sekadar ketegasan, tetapi juga kebijaksanaan. Bukan hanya aturan, tetapi juga keteladanan. Bukan hanya kewenangan, tetapi juga keikhlasan untuk menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi.

Pada akhirnya, setiap jabatan akan berakhir. Setiap kepengurusan akan berganti. Nama-nama akan datang dan pergi. Tetapi nilai yang ditanamkan dalam sebuah organisasi dapat hidup jauh lebih lama daripada masa jabatan siapa pun.

Barangkali di sanalah kita belajar bahwa menjaga rumah besar pers bukan hanya pekerjaan manusia.

Ia adalah amanah.

Dan setiap amanah, pada waktunya, akan dimintai pertanggungjawaban.

Semoga pembenahan yang sedang dilakukan PWI Sulsel menjadi jalan menuju organisasi yang semakin solid, profesional, dan bermartabat, sebuah rumah besar tempat wartawan tidak hanya belajar menulis kebenaran, tetapi juga belajar hidup dengan kebenaran.

Sebab pers yang kuat tidak lahir dari suara yang paling keras.

Ia lahir dari nurani yang tetap menyala ketika kebenaran harus diperjuangkan.

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *