Di Atas Riak Tempe, Kepedulian Polres Wajo Menyapa Warga Watalipue

POLRI127 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kapolres Wajo AKBP Douglas Mahendrajaya bersama jajaran saat menyusuri perairan dengan perahu menuju kawasan TPI 45, Kelurahan Watalipue, Kecamatan Tempe, Wajo, dalam kegiatan bakti sosial menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

EDITORIAL PALAPA

Suara Nurani Redaksi

SUARA PALAPA, WAJO — Ada kalanya sebuah pengabdian tidak membutuhkan suara sirene, barisan upacara, atau pidato yang panjang. Ia cukup hadir dalam sebuah perahu kecil, menyusuri riak air, lalu berhenti di tepian tempat rakyat menjalani hari dengan kesederhanaannya.

Selasa pagi, 11 Agustus 2026, pemandangan semacam itu hadir di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) 45, Jalan Udang, Kelurahan Watalipue, Kecamatan Tempe, Wajo.

Di atas air, sebuah perahu bergerak perlahan. Di dalamnya terdapat Kapolres Wajo AKBP Douglas Mahendrajaya bersama jajaran kepolisian dan aparatur kelurahan. Mereka datang bukan untuk menghadirkan ketegangan, melainkan membawa sesuatu yang jauh lebih sederhana: perhatian.

Di tengah kehidupan masyarakat pesisir yang akrab dengan air, perahu, ikan, dan ketidakpastian rezeki, kehadiran seorang pejabat yang bersedia duduk berdekatan dengan warga mengandung pesan yang sesungguhnya lebih dalam daripada sekadar sebuah kegiatan seremonial.

Sebab rakyat tidak selalu membutuhkan pejabat yang datang dengan kemegahan. Sering kali, mereka hanya ingin merasa bahwa keberadaannya dilihat, kehidupannya didengar, dan kesulitannya tidak dilupakan.

Hari itu, sekitar pukul 10.15 WITA, sebanyak 30 paket bantuan sosial diserahkan kepada warga di kawasan TPI 45.

Secara angka, 30 paket mungkin bukan sesuatu yang besar. Tetapi ukuran sebuah kebaikan tidak selalu terletak pada jumlah yang dibawa. Ia sering kali justru terletak pada ketulusan ketika menyerahkannya.

Di situlah makna kemanusiaan memperoleh tempatnya.

Kemerdekaan yang akan memasuki usia ke-81 semestinya memang tidak hanya dirayakan melalui baliho, umbul-umbul dan upacara. Kemerdekaan harus menemukan wajahnya dalam kehidupan sehari-hari: ketika negara hadir di tengah rakyat, ketika aparat tidak berjarak dengan masyarakat, dan ketika mereka yang memiliki kewenangan masih mampu menundukkan hati di hadapan kesederhanaan kehidupan.

Polisi tentu memiliki tugas utama menjaga keamanan, ketertiban dan menegakkan hukum. Namun institusi negara yang hidup di tengah masyarakat tidak boleh kehilangan dimensi kemanusiaannya.

Seragam adalah simbol kewenangan. Tetapi nurani adalah alasan mengapa kewenangan itu harus digunakan dengan bijaksana.

Kehadiran Kapolres Wajo bersama Kapolsek Tempe IPTU Irwan Taufik, pejabat utama Polres Wajo dan jajaran aparatur Kelurahan Salomenraleng di tengah warga menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik tidak lahir semata-mata dari penegakan aturan.

Kepercayaan tumbuh dari perjumpaan.

Dari sapaan.

Dari kesediaan mendengar.

Dari tangan yang tidak canggung menyentuh kehidupan rakyat kecil.

Dan dari kesanggupan seorang pemimpin untuk hadir bukan hanya ketika negara sedang membutuhkan rakyat, tetapi juga ketika rakyat sedang membutuhkan negara.

Dalam kehidupan berbangsa, gotong royong bukan sekadar warisan sejarah. Ia adalah watak sosial yang harus terus dirawat. Di dalamnya terdapat kesadaran bahwa tidak seorang pun benar-benar berdiri sendiri. Ada tangan yang membantu, ada bahu yang menguatkan, dan ada hati yang memilih untuk tidak berpaling ketika melihat sesama sedang membutuhkan.

Bagi Palapa, kegiatan sosial semacam ini patut ditempatkan dalam bingkai yang lebih luas: sebagai bagian dari ikhtiar membangun kembali hubungan emosional antara institusi negara dan masyarakat.

Sebab pembangunan kepercayaan publik tidak selalu dimulai dari ruang rapat. Kadang-kadang ia tumbuh dari tepian sungai, dari pasar, dari pelabuhan kecil, dari tempat nelayan menunggu rezeki, atau dari sebuah perahu sederhana yang bergerak perlahan di atas air.

Dan barangkali, di sanalah makna pengabdian menemukan bentuknya yang paling jujur.

Tidak semua kebaikan harus diumumkan dengan suara keras. Sebagian cukup dilakukan dengan tangan yang ikhlas, lalu dibiarkan menjadi doa yang kembali kepada Allah SWT.

Menjelang 81 tahun Indonesia merdeka, riak Tempe seolah mengajarkan satu perkara sederhana: negara akan terasa dekat ketika manusia di dalamnya memilih untuk saling mendekat.

Karena pada akhirnya, kehormatan sebuah institusi bukan hanya diukur dari seberapa kuat ia menjalankan kewenangan, tetapi juga dari seberapa lembut ia memperlakukan manusia.

Dan pengabdian yang paling indah mungkin bukan ketika nama seorang pejabat tertulis panjang dalam berita, melainkan ketika setelah ia pergi, masih ada warga yang berkata dalam hati:

“Mereka pernah datang. Mereka melihat kami. Mereka peduli.”

Itulah jejak yang tidak mudah hanyut, bahkan ketika perahu telah lama meninggalkan tepian.

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *