Keterangan Gambar:
MERAWAT ASA UMAT: Kapolsek Tempe IPTU Irwan Taufik, SH, saat berdialog ramah dan penuh takzim dengan warga yang antusias menebus Beras SPHP dalam kegiatan Gerakan Pangan Murah di halaman Mapolsek Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Kamis (16/7/2026). Sinergi kemanusiaan yang diinisiasi bersama Perum Bulog dan Primkoppol ini hadir sebagai oase religius dan humanis guna meringankan beban ekonomi masyarakat di tengah naiknya harga kebutuhan pokok. (Foto: Dok. Humas Polres Wajo)
Catatan Humanis Gerakan Pangan Murah Polsek Tempe di Tengah Impitan Hidup
Oleh: Sabri
WAJO, SUARA PALAPA — Pagi itu, Kamis 16 Juli 2026, matahari Wajo belum lagi meninggi, namun di pelataran Mapolsek Tempe, pancaran kepedulian telah lebih dahulu menghangatkan suasana. Di bawah panji-panji pelayanan, terhampar butiran beras dan rizki pokok yang dijajakan bukan demi memburu laba duniawi, melainkan sebagai wujud jabat tangan kemanusiaan antara penegak hukum dan rakyat yang dilayaninya.
Di sinilah, sebuah ikhtiar mulia bertajuk Gerakan Pangan Murah digelar—sebuah oase kecil di tengah badai kenaikan harga yang kerap menghimpit dada-dada kaum dhuafa.
Bagi masyarakat kecil, pangan bukan sekadar komoditas komersial; ia adalah untaian doa yang khusyuk dipanjatkan setiap usai bersujud, sebuah pengharapan agung agar dapur tetap mengepul dan anak-anak tak terbangun dalam kelaparan.
Memahami getar sanubari warganya, Kapolsek Tempe IPTU Irwan Taufik, S.H., bersama segenap personelnya, menyulap halaman kantor polisi yang biasa terkesan formal dan kaku menjadi pasar kebajikan yang penuh berkah. Kehadiran para ibu dengan guratan lelah namun menyimpan binar harap di wajah mereka, disambut hangat dengan senyum tulus para penegak hukum yang melepas sejenak ego sektoral, berganti pakaian pelayan umat sejati.
Waktu menunjukkan pukul 09.30 Wita ketika riuh rendah rasa syukur mulai menggema di Jalan Bau Baharuddin, Kelurahan Bulu Pabulu, Kecamatan Tempe. Lembar demi lembar rupiah yang dikeluarkan warga dari dompet tipis mereka mendadak bernilai lebih dari biasanya. Di atas meja penawaran, hasil sinergi tulus antara Polsek Tempe, Perum Bulog Kabupaten Wajo, dan Primkoppol Polres Wajo menghadirkan kepastian pangan yang menentramkan.
Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kemasan 5 kilogram yang di pasaran melambung tinggi, di tempat ini dapat ditebus dengan harga Rp58.000. Minyak Kita mengalir jernih memberi harapan baru seharga Rp21.000 per liter, Tepung Terigu Kompas untuk hidangan keluarga dihargai Rp12.000 per kemasan, serta telur ayam sebagai sumber energi anak-anak negeri dibanderol Rp38.000 per rak.
Angka-angka ini bukan sekadar nominal dagang, melainkan manifestasi nyata dari keadilan sosial dan kasih sayang yang dihadirkan langsung di depan mata rakyat.
“Melalui gerakan pangan murah ini, kami berharap masyarakat dapat memperoleh bahan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau,” ujar Kapolsek Tempe IPTU Irwan Taufik, SH, dengan nada wibawa yang sarat akan empati.
Bagi institusi Polri di Tempe, tugas menjaga keamanan ketertiban masyarakat pada hakikatnya tak terpisahkan dari ikhtiar menjaga ketenangan batin umat agar tidak dirundung cemas akibat urusan perut. Bukankah kelaparan seringkali mendekatkan manusia pada kegelisahan sosial?
Di sinilah esensi kehadiran negara; merangkul jemari rakyat yang gemetar menghadapi ketidakpastian ekonomi dengan ketulusan yang bersumber dari nilai-nilai luhur kepedulian sesama. Masyarakat yang hadir tampak begitu antusias, bukan hanya karena murahnya harga, melainkan karena mereka merasa diayomi dan dimanusiakan.
Program ini menjadi bukti autentik bahwa di balik seragam tegas korps Bhayangkara, berdegup jantung-jantung yang peka terhadap penderitaan sesama.
Ketika bedug dzuhur mulai membayang dan antrean warga perlahan mencair, ada kebahagiaan mendalam yang tertinggal di halaman Mapolsek Tempe. Gerakan Pangan Murah ini mungkin tidak menghapus seluruh potret kemiskinan makro, namun hari itu, ia telah berhasil menjadi perpanjangan tangan ketulusan untuk meredakan kecemasan di hati banyak kepala keluarga.
Di tanah Wajo, hari itu, korps kepolisian tidak hanya sukses menegakkan hukum, tetapi juga berhasil menegakkan pilar-pilar kasih sayang, sebuah jejak bakti mulia yang akan lama terpatri dalam sanubari warga yang pulang dengan tangan penuh berkah dan hati penuh kesyukuran.






