Saat Musibah Datang, Kesiapsiagaan Menjadi Ikhtiar: Polres Soppeng Perkuat Kapasitas DVI

POLRI30 Dilihat

Keterangan Gambar:

Wakapolres Soppeng Kompol Sudarmin, S.Sos., membuka kegiatan Sosialisasi Disaster Victim Identification (DVI) dan Penanggulangan Bencana di Aula Tantya Sudhirajati Polres Soppeng, Kamis (25/6/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkuat kesiapsiagaan personel dalam menghadapi situasi bencana serta mendukung operasi kemanusiaan secara profesional dan bermartabat. (Foto: Dok. Humas Polres Soppeng)

Oleh: Hasanuddin Tinco
Editor: Alimuddin

SOPPENG, SUARA PALAPA — Bencana kerap datang tanpa aba-aba. Ia bisa hadir dalam sunyi, merenggut dalam sekejap, meninggalkan duka yang tak selalu mudah diterjemahkan oleh kata-kata. Di tengah kemungkinan terburuk itulah, kesiapsiagaan bukan sekadar prosedur, melainkan ikhtiar kemanusiaan, upaya menjaga martabat manusia bahkan setelah hayat meninggalkan raga.

Kesadaran itulah yang terasa kuat di Aula Tantya Sudhirajati Polres Soppeng, Kamis (25/6/2026), saat jajaran Polres Soppeng mengikuti Sosialisasi Disaster Victim Identification (DVI) dan Penanggulangan Bencana yang digelar oleh Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Sidokkes) Polres Soppeng.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Wakapolres Soppeng, Kompol Sudarmin, S.Sos., sebagai bagian dari penguatan kapasitas personel dalam menghadapi situasi darurat, khususnya penanganan bencana dan proses identifikasi korban.

Di ruangan itu, pembelajaran tidak hanya berbicara tentang teknik dan prosedur. Lebih dari itu, para peserta diajak memahami satu hal mendasar: bahwa di balik setiap korban bencana, ada keluarga yang menanti kepastian, ada air mata yang menunggu jawaban, dan ada hak kemanusiaan yang wajib dijaga dengan penuh kehormatan.

Materi sosialisasi disampaikan oleh Kaur DVI Bid Dokkes Polda Sulsel, Kompol Abd. Rahman, S.H., S.K.M., M.AP. Ia memaparkan secara komprehensif prosedur identifikasi korban bencana, penanganan korban massal, hingga langkah-langkah penanggulangan bencana yang terintegrasi lintas sektor.

Metode Disaster Victim Identification (DVI) menjadi salah satu pilar penting dalam operasi kemanusiaan modern. Melalui pendekatan ilmiah, sistematis, dan akurat, proses identifikasi korban dapat dilakukan secara profesional, sehingga setiap jenazah dapat kembali kepada keluarganya dengan identitas yang jelas dan penghormatan yang layak.

Dalam perspektif kemanusiaan, tugas ini bukan semata pekerjaan teknis. Ia adalah bentuk penghormatan terakhir kepada sesama manusia.

Sebab dalam setiap musibah, ada amanah besar yang diemban para petugas: menghadirkan kepastian di tengah ketidakpastian, menyalakan harapan di tengah duka, serta memastikan bahwa pelayanan negara tetap hadir saat masyarakat berada pada titik paling rentan.

Secara terpisah, Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K. menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Polri dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk menjawab tantangan tugas yang semakin kompleks.

“Kemampuan penanganan bencana dan identifikasi korban merupakan kompetensi penting yang harus dimiliki personel Polri. Melalui sosialisasi ini, kami berharap seluruh personel semakin memahami peran dan tanggung jawabnya dalam mendukung operasi kemanusiaan, sehingga dapat memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan profesional kepada masyarakat saat terjadi bencana maupun keadaan darurat,” ujarnya.

Menurut Kapolres, kesiapsiagaan personel merupakan fondasi penting dalam keberhasilan tugas kepolisian, terutama pada fungsi perlindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat.

Pada akhirnya, kesiapan menghadapi bencana bukan hanya soal kecakapan lapangan, tetapi juga tentang membangun ketangguhan batin. Sebab dalam setiap tugas kemanusiaan, profesionalisme harus berjalan beriringan dengan empati.

Dan ketika musibah datang menguji, yang paling dibutuhkan masyarakat bukan hanya kehadiran aparat, tetapi juga ketenangan, kepastian, dan sentuhan kemanusiaan.

Di situlah Polri dituntut hadir, bukan sekadar sebagai institusi penegak hukum, melainkan sebagai penguat harapan. Karena dalam setiap bencana, selalu ada satu cahaya yang harus dijaga tetap menyala: kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *