Merawat Rumah Bhayangkara: Esensi Bersih dan Disiplin di Polsek Pammana

POLRI43 Dilihat

Keterangan Gambar:

TINJAU KESIAPAN MAKO: Kapolsek Pammana AKP Ami Suandi, S.H. (kedua dari kiri) mendampingi Tim Penilai dari Polres Wajo saat meninjau kebersihan dan kerapian papan nama serta lingkungan luar Mako Polsek Pammana, Kabupaten Wajo, Senin (22/6/2026). Kegiatan penilaian lomba kebersihan mako antar Satker dan Polsek jajaran ini digelar dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80. (Foto: Istimewa)

Oleh: Sabri

Kantor polisi atau yang karib disebut Markas Komando (Mako), bukan sekadar gedung tempat tumpukan berkas perkara atau ruang administrasi formalitas birokrasi. Bagi masyarakat, ia adalah gerbang pertama pencarian keadilan dan rasa aman.

Bagi para personel yang mengabdi di dalamnya, mako adalah rumah kedua. Tempat di mana dedikasi diuji setiap hari, dari terbit fajar hingga larut malam. Kesadaran akan pentingnya menjaga “rumah” ini tecermin nyata di Polsek Pammana, jajaran Polres Wajo, pada Senin pagi, 22 Juni 2026.

Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 WITA ketika riuh kesibukan yang tak biasa melingkupi mako yang terletak di jalan poros tersebut. Hari itu, Kapolsek Pammana AKP Ami Suandi, S.H., bersama seluruh personelnya berdiri tegap menyambut kedatangan Tim Penilai Lomba Kebersihan Mako tingkat Polres Wajo.

Lomba ini bukan sekadar agenda tahunan yang digulirkan untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80. Lebih dari itu, ia adalah sebuah instrumen refleksi diri bagi institusi kepolisian di tingkat tapak (akar rumput).

Tim penilai yang dipimpin oleh perwira senior seperti AKP H. Siswanto, S.H., M.H., dan Kasiwas Polres Wajo AKP Bagus Pujiantoro, S.Sos., bergerak dengan ketelitian tingkat tinggi. Didampingi Ps. Kanit Paminal Aiptu Awaluddin dan Briptu Ilal Fahri dari Sie Propam, mereka menyisir setiap sudut mako. Tidak ada ruang yang luput dari pandangan.

Aspek yang dinilai mencakup spektrum yang sangat luas: kebersihan, kerapian, hingga pemenuhan fasilitas operasional. Mulai dari halaman depan, estetika tata ruang kerja, kerapian kabel-kabel elektronik yang kerap luput dari perhatian, pengelolaan arsip, hingga kebersihan toilet dan ruang tahanan. Bahkan, performa fisik kendaraan dinas roda dua dan roda empat pun tak luput dari inspeksi.

Mengapa kebersihan fisik ini begitu krusial? Jawabannya melampaui estetika visual. Di dalam dunia pelayanan publik, kebersihan lingkungan kerja adalah cerminan langsung dari kedisiplinan dan kesiapan mental para personelnya. Bagaimana mungkin sebuah institusi dapat memberikan pelayanan yang prima dan humanis kepada masyarakat jika rumah tempat mereka bekerja sehari-hari berada dalam kondisi semrawut?

Keteraturan arsip mencerminkan tertib administrasi dalam penegakan hukum. Kenyamanan ruang pelayanan dan kebersihan toilet mencerminkan bagaimana polisi menghargai hak-hak warga yang datang meminta pertolongan. Bahkan, kebersihan ruang tahanan adalah wujud dari penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, sekalipun terhadap mereka yang sedang berhadapan dengan hukum.

Usai pemeriksaan mendalam, Ketua Tim Penilai memberikan arahan khusus. Sebuah pesan moral agar momentum lomba ini tidak berhenti sebagai ajang seremonial belaka. Kebersihan dan kerapian harus menjadi habituasi, sebuah kebiasaan yang mendarah daging, bukan kepura-puraan sesaat demi meraih piala.

Ketika tim penilai melangkah meninggalkan Polsek Pammana dalam suasana yang aman dan tertib, esensi dari peringatan HUT Bhayangkara ke-80 sesungguhnya telah tertanam. Bahwa semangat Bhayangkara sejati tidak hanya ditunjukkan lewat keberhasilan mengungkap perkara di lapangan, melainkan juga dari konsistensi menjaga marwah dan keasrian institusi, dimulai dari halaman rumah sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *