Menenun Persatuan dari Ruang Virtual: Langkah Sunyi Formatur Menata Masa Depan PWI Sulsel

PERS145 Dilihat

Keterangan Gambar:

Menembus batas ruang dan jarak, Dewan Formatur PWI Sulawesi Selatan menggelar rapat koordinasi secara virtual untuk mematangkan struktur kepengurusan masa bakti mendatang serta membahas berbagai persoalan strategis organisasi. Forum yang diikuti para formatur dari Makassar, Parepare, Kendari hingga Bima itu menjadi simbol kuat semangat persatuan, konsolidasi, dan komitmen bersama dalam menata masa depan PWI Sulsel yang lebih solid, profesional, dan inklusif. (Foto: Dok. PWI Sulsel)

Oleh: Alimuddin

MAKASSAR, SUARA PALAPA – Malam belum sepenuhnya larut ketika layar-layar digital itu menyala dari berbagai penjuru negeri. Ada yang berbicara dari Makassar, ada yang menyimak dari Kendari, sebagian lagi bergabung dari Parepare. Bahkan, seorang di antaranya mengikuti rapat dari Bima, Nusa Tenggara Barat, sembari mendampingi orang tua yang sedang sakit.

Jarak yang membentang ratusan kilometer seolah kehilangan maknanya. Di ruang virtual itulah, Dewan Formatur hasil Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan merajut satu tujuan yang sama: menata masa depan organisasi dengan semangat persatuan, kebersamaan, dan tanggung jawab.

Tak terdengar riuh. Tak ada tepuk tangan. Namun di balik percakapan yang mengalir melalui jaringan internet, tersimpan kesungguhan para insan pers yang tengah memikul amanah organisasi.

Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulsel terpilih, Dr. H. Muh. Dahlan Abubakar, mengikuti rapat dari Bima. Di saat bersamaan, Sarjono yang mewakili Pengurus Pusat PWI bergabung dari Kendari. Sementara Abdul Razak Arsyad hadir dari Parepare sebagai representasi suara daerah.

Di Makassar, Ketua PWI Sulsel terpilih, H. Suwardi Thahir, bersama H. Mappiar dan sejumlah anggota formatur lainnya berkumpul di Kantor PWI Sulsel. Teknologi telekonferensi menjadi jembatan yang menyatukan seluruh gagasan, menghapus batas geografis, dan menghadirkan forum yang produktif tanpa kehilangan nuansa kekeluargaan.

Di balik suasana yang hangat itu, pembahasan yang berlangsung sesungguhnya tidak ringan. Dewan Formatur menuntaskan berbagai agenda strategis, mulai dari finalisasi struktur kepengurusan PWI Sulsel masa bakti mendatang hingga mencari jalan keluar atas sejumlah persoalan administrasi keanggotaan yang selama ini menjadi perhatian bersama.

Suwardi Thahir menjelaskan bahwa rancangan kepengurusan pada dasarnya telah selesai disusun. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk melakukan penyempurnaan terakhir agar struktur organisasi yang lahir nantinya benar-benar mampu menjawab kebutuhan zaman dan dinamika profesi kewartawanan yang terus berkembang.

“Alhamdulillah, secara umum susunan kepengurusan telah berhasil kita rampungkan bersama. Pertemuan ini menjadi ruang untuk memastikan seluruh komposisi organisasi tersusun secara proporsional dan dapat bekerja secara efektif,” ujarnya.

Namun rapat itu tidak hanya berbicara tentang nama-nama yang akan mengisi kepengurusan baru. Perhatian besar juga diarahkan pada persoalan Kartu Tanda Anggota (KTA), legalitas keanggotaan, hingga berbagai dinamika internal yang selama ini mengemuka di kalangan anggota.

Dalam forum tersebut, para formatur sepakat bahwa setiap persoalan harus diselesaikan melalui mekanisme organisasi yang profesional, terbuka, dan berpedoman pada aturan yang berlaku.

Sarjono melihat proses yang dijalankan tim formatur sebagai cerminan semangat konsolidasi yang sehat. Menurutnya, struktur kepengurusan yang sedang difinalisasi lahir dari proses musyawarah yang matang dan mengedepankan kepentingan organisasi di atas kepentingan kelompok.

Ia meyakini kepengurusan yang akan segera diumumkan mampu menjadi ruang bersama bagi seluruh elemen PWI Sulsel untuk kembali berjalan dalam satu irama.

“Apa yang dirumuskan tim formatur merupakan hasil musyawarah yang matang. Kami optimistis kepengurusan yang terbentuk nanti dapat merepresentasikan semangat rekonsiliasi dan memperkuat soliditas organisasi,” katanya.

Nada yang sama juga disampaikan Muh. Dahlan Abubakar. Bagi Dewan Kehormatan, menjaga marwah organisasi bukan sekadar slogan, melainkan tanggung jawab moral yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Karena itu, setiap persoalan yang berkaitan dengan keanggotaan, termasuk berbagai polemik yang berkembang, akan ditangani secara objektif dan berlandaskan Peraturan Dasar serta Peraturan Rumah Tangga organisasi.

“Marwah dan kehormatan organisasi harus kita jaga bersama. Setiap persoalan keanggotaan akan diselesaikan secara profesional dan sesuai aturan organisasi,” tegasnya.

Sementara itu, H. Mappiar dan Abdul Razak Arsyad menaruh harapan besar pada komposisi kepengurusan yang sedang difinalisasi. Mereka menilai susunan yang dibangun telah berupaya mengakomodasi berbagai unsur, mulai dari daerah, lintas generasi, hingga beragam latar belakang yang ada di tubuh PWI Sulsel.

Bagi mereka, representasi yang seimbang merupakan fondasi penting untuk membangun organisasi yang inklusif, terbuka, dan mampu menjadi rumah bersama bagi seluruh anggotanya.

Di tengah perkembangan teknologi yang bergerak begitu cepat, rapat virtual tersebut juga menghadirkan pesan yang lebih luas. Bahwa organisasi modern tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Ketika komitmen dan tanggung jawab menjadi pijakan, jarak hanyalah angka yang tidak mampu menghalangi lahirnya keputusan-keputusan penting.

Kini, proses finalisasi kepengurusan tinggal menunggu langkah terakhir. Harapan pun menggantung tinggi di langit organisasi wartawan tertua di Sulawesi Selatan itu.

Seperti sebuah kapal yang tengah bersiap meninggalkan dermaga, PWI Sulsel menatap pelayaran baru. Di tangan para pengurus yang akan segera dilantik, organisasi ini diharapkan semakin kokoh menjaga profesionalisme, memperkuat kompetensi wartawan, serta tetap menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga kualitas pers di Bumi Sawerigading.

Pada akhirnya, rapat yang berlangsung melalui layar-layar digital itu bukan sekadar pertemuan administratif. Ia adalah ikhtiar bersama untuk merawat persatuan, meneguhkan amanah, dan memastikan bahwa PWI Sulsel tetap berdiri sebagai rumah besar yang menaungi seluruh insan pers dengan kehormatan, kebersamaan, dan martabat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *