Lampung Menjemput Sejarah: Dari Ruang Rapat Menuju Panggung Nasional Pers Indonesia

PERS162 Dilihat

Keterangan Gambar:

Jajaran Pengurus PWI Pusat yang dipimpin Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Marthen Selamet Susanto, memberikan arahan saat rapat koordinasi bersama Pengurus PWI Lampung di Kantor PWI Lampung, Bandar Lampung, Sabtu (20/6/2026). Pertemuan tersebut membahas kesiapan Provinsi Lampung sebagai tuan rumah Hari Pers Nasional (HPN) dan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) Tahun 2027 yang akan dihadiri ribuan insan pers dari seluruh Indonesia. (Foto: Dok. PWI Pusat)

LAMPUNG, SUARA PALAPA – Di sebuah ruang rapat sederhana di Kantor PWI Lampung, Sabtu siang itu, percakapan yang berlangsung sesungguhnya bukan sekadar membahas jadwal, hotel, transportasi, atau susunan kepanitiaan. Yang sedang dirancang adalah sebuah peristiwa sejarah.

Lampung tengah bersiap menjemput momentum yang belum pernah singgah sebelumnya: menjadi tuan rumah Hari Pers Nasional (HPN) dan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) 2027.

Di hadapan pengurus PWI Lampung, jajaran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat duduk bersama dalam sebuah rapat koordinasi yang sarat makna. Mereka datang bukan hanya membawa agenda organisasi, tetapi juga membawa amanah nasional yang kelak akan mempertemukan ribuan insan pers dari seluruh penjuru Indonesia di Bumi Ruwa Jurai.

Rapat yang dipimpin Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Marthen Selamet Susanto, menjadi titik awal konsolidasi besar menuju pelaksanaan dua agenda nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 5–12 April 2027.

Di ruang itu hadir berbagai unsur kepengurusan PWI Pusat dan PWI Lampung. Ada wajah-wajah yang telah lama mengabdi dalam dunia jurnalistik, ada pula generasi penerus yang akan mengemban tanggung jawab berikutnya. Semuanya menyatu dalam satu semangat: memastikan Lampung siap menyambut Indonesia.

Namun, sebagaimana setiap perhelatan besar, perjalanan menuju sukses tidaklah sederhana.

Salah satu tantangan yang mencuat adalah kedekatan waktu pelaksanaan HPN 2027 dengan Bulan Suci Ramadhan 1448 Hijriah. Kalender nasional dan kalender keagamaan bertemu dalam satu lintasan waktu yang membutuhkan kecermatan perencanaan.

Karena itulah, menurut Marthen Selamet Susanto, koordinasi harus dilakukan jauh-jauh hari.

Bagi PWI Pusat, kunjungan ini bukan sekadar inspeksi persiapan, melainkan upaya menyamakan persepsi, menyatukan langkah, serta memastikan setiap detail teknis dapat dipersiapkan secara matang.

Lebih dari itu, kehadiran langsung jajaran pusat menunjukkan keseriusan organisasi dalam mengawal pelaksanaan HPN dan Porwanas sejak tahap paling awal.

Ada alasan mengapa Lampung dipilih.

Provinsi di ujung selatan Pulau Sumatera ini selama beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan pesat dalam sektor infrastruktur, pariwisata, dan pelayanan publik. Akses transportasi semakin baik, jaringan hotel bertambah, pusat-pusat kegiatan berskala nasional terus tumbuh, sementara masyarakatnya dikenal terbuka terhadap berbagai kegiatan kebangsaan.

Tetapi modal terbesar Lampung justru berada pada komunitas persnya.

Sebagai daerah dengan jumlah anggota PWI yang besar, Lampung memiliki energi sosial yang kuat. Energi itulah yang kini sedang dihimpun menjadi kekuatan kolektif untuk menyukseskan HPN dan Porwanas.

Ketua PWI Lampung, Wirahadikusumah, menyadari bahwa amanah ini bukan sekadar kehormatan, melainkan juga tanggung jawab besar.

Karena itu, sejak penetapan Lampung sebagai tuan rumah berdasarkan Surat Keputusan PWI Pusat Nomor 077-PLP/PP-PWI/IV/2026, berbagai langkah persiapan terus dilakukan. Sinergi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas masyarakat, hingga jaringan wartawan di kabupaten dan kota terus diperkuat.

Mereka memahami bahwa sekitar lima ribu wartawan dari seluruh Indonesia diperkirakan akan hadir pada perhelatan tersebut.

Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada denyut ekonomi, promosi daerah, pertukaran gagasan, persaudaraan profesi, dan peluang besar memperkenalkan Lampung kepada Indonesia.

Bagi dunia pers nasional, HPN selalu memiliki makna yang melampaui seremoni tahunan.

Ia adalah ruang refleksi atas perjalanan jurnalistik Indonesia. Tempat para wartawan meneguhkan kembali idealisme, etika, dan tanggung jawab profesi di tengah derasnya arus informasi digital yang terus berubah.

Sementara Porwanas menjadi simbol lain yang tak kalah penting: bahwa pers bukan hanya tentang ruang redaksi dan berita yang terbit setiap hari, tetapi juga tentang persaudaraan, kesehatan, sportivitas, dan kebersamaan antarsesama insan media.

Karena itulah, ketika kedua agenda nasional itu digelar bersamaan di Lampung, yang hadir bukan hanya sebuah kegiatan organisasi, melainkan perayaan besar ekosistem pers Indonesia.

Lampung kini memiliki waktu kurang dari setahun untuk mempersiapkan semuanya.

Dan dari ruang rapat yang tampak sederhana itu, sesungguhnya sejarah sedang mulai ditulis.

Sejarah tentang sebuah daerah yang mendapat kepercayaan nasional.

Sejarah tentang insan pers yang bergotong royong melampaui perbedaan.

Serta sejarah tentang Lampung yang bersiap membuka pintunya, menyambut ribuan wartawan Indonesia dengan keramahan, profesionalisme, dan kebanggaan sebagai tuan rumah.

Ketika April 2027 tiba kelak, mungkin publik hanya akan melihat kemeriahan acara dan ribuan peserta yang memenuhi kota.

Namun, di balik semua itu, akan selalu ada cerita tentang kerja-kerja sunyi yang dimulai dari sebuah meja rapat, dari diskusi yang panjang, dan dari tekad bersama untuk menjadikan HPN dan Porwanas 2027 sebagai perhelatan yang dikenang dalam sejarah pers Indonesia. (*/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *