Oleh: Alimuddin
(Pemred Palapa Media Group)
Malam di Bollangi belum benar-benar tidur ketika satu per satu lampu penginapan mulai meredup. Kabut pegunungan turun perlahan menyelimuti udara dingin Kabupaten Gowa, Ahad dini hari. Di tengah suasana yang mulai senyap itu, beberapa alumni Smabo 83 masih bertahan dalam lingkaran cerita dan tawa, seolah tak rela membiarkan waktu segera berlalu.
Namun usia memang mengajarkan manusia untuk berdamai dengan keadaan.
Karena alasan kesehatan, salah seorang alumni harus meninggalkan lokasi reuni lebih awal dan kembali ke Makassar sekitar pukul 02.00 dini hari. Meski langkah pulang itu terasa berat, ada kebahagiaan yang telah lebih dahulu memenuhi hati: kebahagiaan karena masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk kembali bersua dengan sahabat-sahabat lama dalam suasana hangat penuh persaudaraan.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur kepada Allah SWT dan merasa bahagia bisa bersilaturahim dengan teman-teman dalam suasana yang sangat akrab dan penuh kegembiraan,” ungkapnya melalui pesan singkat kepada rekan-rekan alumni Smabo 83.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam.
Sebab pada usia yang telah melewati separuh abad, pertemuan seperti reuni bukan lagi sekadar acara berkumpul biasa. Ia telah berubah menjadi ruang batin tempat manusia merawat kenangan, menyambung kembali kasih persaudaraan, dan mengobati rindu yang lama tersimpan di balik kesibukan hidup.
Di Bollangi, para alumni SMA Negeri 156 Watampone angkatan 1983 seperti kembali menemukan masa muda mereka. Tidak ada sekat jabatan, profesi, ataupun status sosial. Semua larut dalam panggilan nama lama, canda yang tetap sama, dan pelukan hangat yang tak pernah kehilangan ketulusan.
Mereka bercakap tentang masa sekolah, tentang guru-guru tercinta, tentang perjalanan hidup yang membawa masing-masing ke tempat berbeda. Ada yang datang dari Bone, Makassar, Jakarta, Kendari, Kalimantan, hingga Soppeng. Semua dipersatukan oleh satu kenangan yang sama: Smabo 83.
Suasana reuni semakin terasa menyentuh ketika rasa syukur dan kebersamaan begitu kuat menyelimuti seluruh rangkaian acara. Tawa pecah di banyak sudut, tetapi di sela-selanya ada mata yang diam-diam berkaca-kaca. Sebab setiap perjumpaan pada akhirnya selalu mengingatkan manusia bahwa waktu berjalan begitu cepat.
Karena itu, momen silaturahim seperti inilah yang selalu dirindukan para alumni.
“Momen seperti inilah yang selalu kita harapkan sehingga keakraban kita tidak pernah putus,” lanjut pesan itu.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada ketua panitia dan seluruh panitia reuni yang telah bekerja menghadirkan pertemuan penuh kesan tersebut. Dalam kesederhanaannya, reuni itu berhasil menghadirkan sesuatu yang mahal di zaman sekarang: rasa kekeluargaan yang tulus.
Dan di penghujung pesan, terselip sebuah kalimat yang terdengar sederhana namun terasa sangat dalam:
“Semakin tua, semakin bahagia.”
Sebuah kalimat yang bukan sekadar slogan.
Karena pada akhirnya, kebahagiaan di usia senja bukan lagi tentang kemewahan dunia, melainkan tentang masih adanya sahabat yang saling mendoakan, tangan yang masih bisa berjabat, serta hati yang tetap hangat dalam ikatan persaudaraan.
Di Bollangi, malam itu, para alumni Smabo 83 belajar sekali lagi bahwa usia boleh menua, tetapi persahabatan yang dibangun dengan ketulusan akan selalu menemukan jalan untuk tetap hidup.












