Di Bollangi, Kami Menemukan Kembali Masa Muda yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

PENDIDIKAN22 Dilihat

Penulis: Alimuddin (Alumni Smabo 83)

Kabut tipis turun perlahan di lereng Bollangi, Kabupaten Gowa, Sabtu hingga Ahad, 9–10 Mei 2026. Udara pegunungan yang dingin seperti menyimpan banyak kenangan lama yang selama puluhan tahun diam dalam dada para alumni SMA Negeri 156 Watampone angkatan 1983, dan yang akrab disebut Smabo 83.

Mereka datang dari berbagai arah mata angin. Dari Bone, Makassar, Jakarta, Bekasi, Kendari, Kalimantan Selatan, hingga Soppeng. Rambut yang dahulu hitam kini mulai memutih. Wajah-wajah yang dulu riuh di ruang kelas kini menyimpan jejak usia dan perjalanan hidup. Namun ketika mereka saling memanggil nama, semuanya terasa kembali muda.

Reuni itu mempertemukan alumni dari tujuh kelas: IPA1, IPA2, IPS1 hingga IPS5. Mereka hadir bukan sekadar untuk berkumpul, melainkan untuk menjemput kembali serpihan masa lalu yang pernah tumbuh bersama di bangku sekolah sederhana di Watampone.

Dari Bone hadir Abulkhair, Sirajuddin, Sukarmi, Hj. Rukaya, Faizal, Ridwan, Hj. St. Nurbaya, St. Rahmah, Andi Alimuddin Maddussila, Hj. St. Saniah, Alimuddin, Baharuddin, hingga Andi Abu Bakar. Dari Makassar hadir Prof. Dr. Indah Raya, hadir juga suami Prof. Indah, Prof. B Takko, Prof. Dr. Sudirman Baco, dan Prof. Dr. Altin Massinai, keempat sahabat lama yang kini menjadi bagian dari civitas akademika Universitas Hasanuddin. Hadir pula Fachrurrazied dan Yulianti.

Perjalanan jauh juga ditempuh H. Asnawi, S.H., M.H., dari Tangerang, serta H. Ansyaruddin dari Bekasi. Dari Kendari hadir Andi Ibitkhri Abbas, sementara dari Kalimantan Selatan datang Drs. Anwar Salujang, M.Si. Penulis sendiri, Alimuddin dari IPA2, hadir dari Soppeng dan bergabung bersama rombongan Bone. Hadir juga Andi Yusnani (IPA2) dari Parepare, juga Andi Nurzaman (IPA2) dari Sidrap.

Namun reuni itu bukan sekadar daftar nama dan kota asal. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar temu kangen.

Di Bollangi, waktu seperti berhenti sejenak.

Gelak tawa terdengar di sela-sela percakapan panjang tentang masa sekolah, tentang guru yang galak namun penuh kasih, tentang tugas-tugas yang dulu terasa berat, juga tentang cinta-cinta remaja yang diam-diam pernah tumbuh di balik jendela kelas.

Beberapa mata tampak berkaca-kaca ketika menyebut nama sahabat yang telah lebih dahulu dipanggil pulang oleh Sang Pemilik Kehidupan. Dalam suasana sederhana itu, para alumni menyadari bahwa usia telah membawa mereka pada satu pemahaman: hidup ternyata hanyalah perjalanan singkat untuk saling mengenang dan saling mendoakan.

Suasana reuni menjadi semakin khidmat ketika dua guru tercinta hadir dari Makassar: Ibunda Aidah, guru Ekonomi, serta Bapak Abd. Rachman, guru Olahraga. Kehadiran mereka disambut penuh hormat. Satu per satu alumni maju menyalami dan mencium tangan gurunya dengan mata yang nyaris basah.

Tak ada jabatan yang lebih tinggi di hadapan seorang guru.

Profesor, pejabat, pengusaha, pensiunan, maupun rakyat biasa, semuanya kembali menjadi murid di hadapan orang-orang yang dahulu menanamkan ilmu dan adab di sekolah mereka.

Di situlah Bollangi berubah bukan hanya menjadi tempat reuni, tetapi menjadi ruang batin tempat manusia belajar menghargai waktu.

Bahwa hidup sejatinya bukan tentang seberapa jauh seseorang pergi, melainkan tentang kepada siapa hati ingin kembali.

Dan pada akhirnya, reuni Smabo 83 bukan hanya pertemuan alumni. Ia adalah pertemuan kenangan dengan usia, pertemuan persahabatan dengan kerinduan, serta pertemuan manusia dengan rasa syukur kepada Allah SWT yang masih memberi kesempatan untuk saling memeluk setelah puluhan tahun dipisahkan oleh kehidupan.

Di tengah dinginnya pegunungan Bollangi, mereka sadar:
persahabatan yang dibangun dengan ketulusan tidak pernah benar-benar tua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *