Diguyur Hujan, Semangat Tak Padam: Tim Kesenian Banyuasin Menari Memeluk Sriwijaya

BUDAYA DAN SENI134 Dilihat

Keterangan Gambar:

Tim Kesenian Kabupaten Banyuasin membawakan Tari “Beleyen” pada Festival Sriwijaya XXXIV di Kawasan Dekranasda Jakabaring, Palembang, Sabtu (16/5/2026) malam. Meski sempat diguyur hujan, para penari tetap tampil memukau dengan mengangkat kekayaan budaya lokal Banyuasin.

Oleh: Ibnu Sultan

PALEMBANG — Hujan yang turun deras di kawasan Dekranasda Jakabaring, Palembang, Sabtu malam (16/5/2026), sempat membuat panggung Festival Sriwijaya XXXIV terasa lengang. Kursi-kursi penonton basah, sebagian pengunjung berteduh di sudut arena, sementara lampu panggung memantulkan kilau air yang jatuh tanpa henti.

Namun ketika musik tradisional mulai menggema dari sisi panggung, suasana perlahan berubah. Tim Kesenian Kabupaten Banyuasin hadir membawa semangat yang tak ikut luruh bersama hujan.

Kontingen seni yang diperkuat Sanggar Seni SMA Negeri 1 Banyuasin III itu tampil sebagai penutup rangkaian pertunjukan hari kedua Festival Sriwijaya. Meski jadwal semula tertunda akibat cuaca buruk, para penari dan pemusik tetap menunjukkan performa penuh energi dan penghayatan.

Di bawah sorotan lampu malam yang memantul di lantai panggung basah, satu per satu gerak tari tradisi mulai dimainkan. Banyuasin tidak sekadar tampil untuk menghibur, tetapi membawa identitas budaya yang diwariskan dari kampung-kampung tua di Bumi Sedulang Setudung.

Tari Tradisi Setundok dari Desa Lubuk Lancang menjadi pembuka yang menyita perhatian penonton. Gerakan para penari yang lembut namun tegas berpadu dengan irama musik daerah menghadirkan suasana khas Melayu Banyuasin yang kental.

Tak hanya itu, lantunan lagu daerah “Jengan Ngukur Baju di Badan” dan “Lagu Ngundang” ikut menghidupkan atmosfer festival. Penonton tampak larut menikmati pertunjukan yang tetap berjalan meski hujan belum sepenuhnya reda.

Puncak penampilan hadir melalui Tari “Beleyen”, sebuah pertunjukan artistik yang terinspirasi dari tradisi penyajian makanan masyarakat Banyuasin. Properti seperti kuali, nampan, dan sencong nasi dimainkan secara teatrikal, menghadirkan visual budaya yang sederhana namun sarat makna.

Sub Koordinator Kesenian Bidang Kebudayaan Disdikbud Banyuasin, Sitiana, S.Kom., mengaku bangga terhadap semangat para siswa yang tetap tampil maksimal di tengah tantangan cuaca.

Menurutnya, hujan bukan alasan untuk berhenti memperkenalkan budaya daerah kepada masyarakat luas.

“Anak-anak tetap semangat tampil. Ini bukti bahwa generasi muda Banyuasin memiliki kepedulian terhadap budaya daerahnya sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Banyuasin terus memberikan dukungan terhadap pembinaan sanggar-sanggar seni sebagai ruang tumbuh kreativitas generasi muda.

“Kami ingin anak-anak memiliki panggung untuk menunjukkan identitas budaya Banyuasin, termasuk melalui Festival Sriwijaya ini,” katanya.

Sebelumnya, Wakil Bupati Banyuasin, Ir. Netta Indian, S.P., yang hadir pada pembukaan festival sehari sebelumnya, menegaskan pentingnya Festival Sriwijaya sebagai ruang promosi budaya dan produk unggulan daerah.

Ia berharap pelestarian warisan budaya tidak berhenti pada seremoni tahunan, tetapi terus diwariskan kepada generasi muda agar tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi.

Malam itu, hujan memang sempat membasahi panggung Festival Sriwijaya. Tetapi semangat para penari Banyuasin membuktikan bahwa budaya tidak mudah padam oleh cuaca.

Di atas panggung yang licin dan dingin, mereka tetap menari, menjaga nyala tradisi agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *