Di Bawah Rumah Panggung, Negara Menyala Kecil-Kecil

POLANTAS12 Dilihat

Oleh: Alimuddin

Ada sesuatu yang menarik dari malam di Lapajung itu. Bukan karena lampu yang menggantung redup di bawah rumah panggung. Bukan pula karena seragam hijau neon polisi yang memantulkan cahaya seperti kunang-kunang di musim hujan.

Melainkan karena negara tampak hadir dalam bentuk yang paling sederhana: percakapan.

Kita terlalu sering membayangkan negara sebagai gedung besar, pidato panjang, aturan yang tebal, atau sirene yang meraung-raung di jalan raya. Padahal kadang-kadang, negara hanya muncul sebagai seorang polisi yang meminta seorang anak muda mengenakan helm dengan benar.

Dan dari sana, kehidupan dipertaruhkan.

Sebab jalan raya, pada akhirnya, adalah cermin kecil dari bangsa ini. Di sana kita melihat manusia yang terburu-buru, manusia yang ingin lebih dulu, manusia yang merasa aturan hanyalah nasihat yang bisa dipilih untuk ditaati atau diabaikan.

Kita hidup dalam kebudayaan yang aneh: semua orang ingin selamat, tetapi banyak yang enggan tertib.

Padahal kematian sering kali datang bukan dengan ledakan besar. Ia hadir lewat hal-hal kecil yang diremehkan. Sebuah helm yang tidak dikancingkan. Sebuah lampu sein yang malas dinyalakan. Sebuah kecepatan yang dianggap biasa.

Lalu sebuah keluarga kehilangan seseorang.

Karena itu malam di Lapajung menjadi penting. Di bawah rumah kayu yang sederhana itu, polisi tidak sedang bicara tentang tilang semata. Mereka sedang bicara tentang cara menjaga hidup agar tidak patah di jalan aspal.

Dan menariknya, mereka memilih bahasa yang lebih manusiawi: edukasi.

Mungkin karena mereka sadar, ketertiban tidak bisa hanya lahir dari rasa takut. Ia harus tumbuh dari kesadaran. Dari pengertian bahwa mematuhi aturan lalu lintas bukanlah kepatuhan kepada polisi, melainkan penghormatan kepada nyawa sendiri.

Di negeri ini, kita memang terlalu sering akrab dengan penindakan, tetapi kurang mesra dengan pendidikan.

Padahal bangsa yang matang bukan bangsa yang sibuk menghukum, melainkan bangsa yang berhasil membuat warganya sadar sebelum pelanggaran terjadi.

Karena itu Call Center 110 yang diperkenalkan malam itu terasa lebih dari sekadar nomor darurat. Ia adalah simbol kecil bahwa negara seharusnya mudah dipanggil ketika rakyat merasa genting.

Tentu kita tahu, negara tidak selalu datang tepat waktu. Kadang ia terlambat. Kadang pula sibuk dengan dirinya sendiri. Tetapi harapan tentang negara yang sigap tetap perlu dipelihara, meski hanya lewat satu nomor pendek yang dihafal masyarakat.

Dan di situlah pekerjaan besar sesungguhnya dimulai: membangun kepercayaan.

Kepercayaan tidak lahir dari baliho. Ia tumbuh perlahan dari perjumpaan-perjumpaan kecil. Dari polisi yang mau mendengar. Dari masyarakat yang merasa dihargai. Dari percakapan sederhana di bawah rumah panggung.

Mungkin negeri ini memang tidak berubah lewat pidato besar.

Kadang ia berubah pelan-pelan, di sebuah malam sederhana di Lapajung, ketika seorang anak muda membetulkan tali helmnya—dan untuk sesaat, kehidupan terasa lebih dijaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *