Polisi Menguji Dirinya Sendiri

POLRI117 Dilihat

Di Aula Sandi Polres Wajo, integritas tidak diukur dari pangkat, tetapi dari keberanian menjaga diri dari godaan yang paling sunyi: narkoba.

Penulis: Sabri

Pagi itu Aula Sandi Mapolres Wajo dipenuhi seragam cokelat.
Tidak ada barisan upacara. Tidak ada komando keras. Yang terdengar hanya percakapan pelan dan langkah sepatu yang bergeser di lantai keramik.

Namun suasananya terasa berbeda.

Di ruangan itu, para polisi tidak sedang mengawasi masyarakat. Mereka justru sedang diawasi oleh institusinya sendiri.

Satu per satu anggota maju ke meja pemeriksaan. Petugas dari Seksi Profesi dan Pengamanan (Propam) memeriksa atribut, sikap tampang, hingga kelengkapan disiplin. Di meja lain, petugas medis menyiapkan alat tes urine.

Prosedurnya sederhana. Tapi maknanya jauh lebih dalam.

Ini bukan sekadar pemeriksaan rutin. Ini adalah pengingat bahwa penegak hukum pun harus diuji oleh hukum yang mereka tegakkan.

Senin, 9 Maret 2026, kegiatan Penegakan Ketertiban dan Disiplin (Gaktibplin) digelar di Mapolres Wajo. Seluruh personel Polres bersama jajaran Polsek hadir dalam kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.00 WITA.

Kapolres Wajo AKBP Muhammad Rosid Ridho turut memantau langsung jalannya pemeriksaan. Ia berdiri di tengah ruangan, menyaksikan satu per satu anggotanya menjalani proses pengawasan internal.

Tidak ada keistimewaan. Tidak ada pengecualian.

Dalam organisasi yang membawa nama hukum, setiap orang harus berdiri pada garis yang sama.

Kasi Propam Polres Wajo AKP H. Siswanto menjelaskan bahwa Gaktibplin merupakan agenda rutin yang bertujuan memastikan kedisiplinan anggota tetap terjaga.

Namun di balik istilah administratif itu, tersimpan pesan yang lebih mendasar: institusi harus berani membersihkan dirinya sendiri.

“Gaktibplin ini merupakan bentuk pengawasan internal untuk memastikan personel tetap disiplin serta tidak terlibat dalam pelanggaran, khususnya penyalahgunaan narkoba,” ujarnya.

Pernyataan itu terasa penting di tengah kenyataan sosial yang tidak sederhana. Dalam beberapa tahun terakhir, penyalahgunaan narkotika tidak hanya menggerogoti masyarakat sipil, tetapi juga pernah menyentuh sebagian aparat penegak hukum di berbagai daerah.

Karena itulah pengawasan internal menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar.

Tes urine yang dilakukan secara acak dalam kegiatan itu menjadi bagian dari komitmen tersebut.

Bukan sekadar formalitas.

Tetapi pesan yang ingin ditegaskan kepada publik: polisi yang memerangi narkoba harus lebih dulu bersih dari narkoba.

Di salah satu sudut aula, seorang petugas Dokpol mencatat hasil pemeriksaan. Lambang medis di punggung rompinya terlihat jelas. Ia bekerja tanpa banyak bicara.

Di ruangan itu tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorotan kamera yang berlebihan. Hanya proses yang berjalan tenang, namun membawa makna besar bagi institusi.

Kapolres Wajo, AKBP Muhammad Rosid Ridho, dalam arahannya mengingatkan seluruh personel agar menjaga sikap, perilaku, dan profesionalitas dalam menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

Bagi seorang polisi, katanya, disiplin bukan sekadar kewajiban administratif. Ia adalah fondasi moral.

Tanpa integritas, hukum akan kehilangan wibawanya.

Tanpa kedisiplinan, kepercayaan masyarakat akan perlahan memudar.

Dan bagi masyarakat, kepercayaan adalah segalanya.

Karena pada akhirnya, hukum bukan hanya berdiri di ruang pengadilan. Ia juga hidup dalam cara aparat menjalankan tanggung jawabnya sehari-hari.

Kegiatan Gaktibplin dan pemeriksaan urine itu berlangsung hingga seluruh personel selesai menjalani pemeriksaan. Semuanya berjalan tertib, aman, dan tanpa hambatan.

Namun pesan yang tertinggal dari kegiatan itu jauh melampaui sebuah agenda rutin.

Di tengah sorotan publik terhadap institusi penegak hukum, langkah-langkah seperti ini menjadi pengingat penting bahwa menjaga integritas bukan hanya tugas negara.

Ia juga bagian dari tanggung jawab moral, bahkan spiritual.

Karena seragam polisi bukan sekadar simbol kekuasaan.

Ia adalah amanah.

Dan seperti setiap amanah dalam kehidupan manusia, ia akan selalu diuji, bukan hanya oleh hukum, tetapi juga oleh hati nurani dan oleh Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *