Di Ujung Takbir yang Menggema, Petta Barang Menyulam Maaf dari Madining untuk Sesama

SYI'AR ISLAM125 Dilihat

Di antara gema takbir yang masih berpendar di langit pagi, ada kehangatan yang tak pernah usai: doa, harapan, dan saling memaafkan yang mengalir dari hati ke hati.

Penulis: Chemank Farel

Di sebuah sudut kampung yang teduh di Madining, Kelurahan Attangsalo, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, suasana Idul Fitri hadir bukan sekadar perayaan, melainkan perjumpaan batin yang sarat makna.

Dari ruang sederhana namun penuh kehangatan itu, keluarga besar Petta Barang mengirimkan pesan yang melampaui jarak dan waktu. Sebuah video ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah pun diunggah, menjadi jembatan silaturahmi bagi keluarga, kerabat, dan handai tolan.

“Atas nama keluarga besar Petta Barang, kami mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah, 2026 Masehi. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.”

Ucapan itu mengalir lembut, seperti doa yang terbang bersama gema takbir. Ia tidak hanya terdengar, tetapi terasa, menyentuh ruang-ruang sunyi dalam hati setiap yang menyimaknya.

Sosok Petta Barang sendiri bukanlah nama asing di tengah masyarakat setempat. Pria yang bernama asli H. Abdul Azis ini dikenal sebagai salah satu tokoh masyarakat di wilayahnya. Meski masih tergolong muda, langkah dan pengabdiannya telah meninggalkan jejak yang berarti.

Di Masjid Raya Kelurahan Attangsalo, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Bendahara Pengurus Masjid, sebuah peran yang tidak hanya menuntut tanggung jawab, tetapi juga keikhlasan dalam menjaga rumah ibadah sebagai pusat kehidupan spiritual warga.

Tak hanya itu, hampir setiap kegiatan olahraga dan seni di daerahnya, nama Petta Barang kerap hadir sebagai sponsor utama. Ia tidak sekadar memberi, tetapi ikut menumbuhkan semangat kebersamaan dan kreativitas generasi muda di lingkungannya.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah, di tengah kesibukan dan dinamika kehidupan, keluarga besar ini menyempatkan diri untuk berhenti sejenak, merenung, lalu menyapa. Video ucapan yang mereka bagikan bukan sekadar formalitas, melainkan wujud kerendahan hati untuk memohon maaf dengan tulus dan ikhlas.

Idul Fitri, bagi mereka, bukan hanya tentang kemenangan setelah sebulan berpuasa. Ia adalah perjalanan pulang, pulang kepada fitrah, kepada hati yang bersih, dan kepada hubungan yang kembali dirajut dengan kasih sayang.

Dalam setiap senyum yang terbingkai di video itu, tersimpan harapan agar silaturahmi tetap terjaga. Dalam setiap kata yang terucap, ada doa agar kehidupan ke depan dipenuhi keberkahan dan kedamaian.

Keluarga besar Petta Barang seakan mengingatkan, bahwa di tengah derasnya arus kehidupan, manusia tetap membutuhkan ruang untuk saling memaafkan. Sebab dari situlah lahir ketenangan, dan dari ketenangan itulah tumbuh kebahagiaan yang sejati.

Dan di hari yang suci ini, ketika langit seakan lebih dekat dengan doa-doa manusia, ucapan maaf bukan lagi sekadar tradisi, melainkan panggilan jiwa untuk kembali menjadi manusia seutuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *