Di Bawah Langit Syawal, Muhammadiyah Sulsel Menyulam Ukhuwah dan Menyalakan Energi Tauhid

SYI'AR ISLAM123 Dilihat

Keterangan Gambar:

Sejumlah tokoh Muhammadiyah dan pejabat daerah berdiri bersama saat soft opening Klinik Utama dalam rangkaian kegiatan Syawalan Muhammadiyah Sulawesi Selatan di Makassar, Sabtu (28/3/2026), sebagai simbol kolaborasi dakwah dan pelayanan umat.

Oleh: Masykur Thahir
Ka. Dewan Redaksi Palapa Media Group

MAKASSAR — Pagi itu, cahaya Syawal turun perlahan di halaman Pusat Dakwah Muhammadiyah Makassar. Embun seakan belum sepenuhnya pergi, namun hangat silaturahmi telah lebih dulu menyapa. Di ruang terbuka itu, ribuan langkah berkumpul, menyatukan niat dalam satu tarikan napas ukhuwah yang panjang dan teduh.

Momentum Syawalan Muhammadiyah Sulawesi Selatan bukan sekadar pertemuan pasca-Idulfitri 1447 Hijriah. Ia menjelma menjadi ruang batin, tempat hati-hati yang lama terpisah kembali saling merangkul. Dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah, organisasi otonom, hingga angkatan muda, semua hadir dalam satu irama: memperkuat kebersamaan dan meneguhkan langkah perjuangan.

Di tengah kerumunan yang khidmat, hadir sosok-sosok penting bangsa. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia sekaligus Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., berdiri sebagai penuntun pesan. Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, serta jajaran kepala daerah dan tokoh-tokoh Muhammadiyah turut melengkapi harmoni pertemuan itu.

Ketua panitia, Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, menyampaikan dengan nada penuh harap bahwa Syawalan ini bukan sekadar tradisi, melainkan titik temu untuk merawat ukhuwah Islamiyah dan mengokohkan gerakan Muhammadiyah di bumi Sulawesi Selatan.

Salah satu momen yang menyita perhatian adalah peluncuran program “Tauhid sebagai Energi Spiritual dan Sosial Muhammadiyah.” Sebuah gagasan yang tidak hanya mengajak kembali kepada inti keimanan, tetapi juga mendorong lahirnya gerakan sosial yang berakar dari nilai tauhid itu sendiri, tenang, kuat, dan menghidupkan.

Dalam tausiyahnya, Prof. Abdul Mu’ti berbicara dengan nada yang menyejukkan. Ia mengingatkan bahwa perbedaan, termasuk dalam penetapan 1 Syawal, adalah bagian dari dinamika ijtihad yang tak terelakkan. Namun, di atas segala perbedaan, ada keharusan untuk saling menghormati dan menjaga persatuan.

“Perbedaan itu keniscayaan. Yang utama adalah kebijaksanaan dalam menyikapinya,” tuturnya, mengalir pelan namun mengena.

Pesan itu seperti angin yang berhembus lembut di antara para hadirin. Mengajak setiap jiwa untuk tidak hanya merayakan kemenangan, tetapi juga merenungi perjalanan diri. Syawal, dalam makna terdalamnya, adalah panggilan untuk kembali bersih dan berlomba dalam kebaikan.

Antusiasme jamaah menjadi bukti betapa kuatnya ikatan itu. Dua ribu kursi yang disiapkan panitia tak mampu menampung seluruh hadirin. Sebagian rela berdiri, bukan karena kekurangan tempat, tetapi karena limpahan semangat yang tak terbendung.

Sementara itu, Gubernur Andi Sudirman Sulaiman mengingatkan pentingnya perhatian terhadap dunia pendidikan. Ia menekankan agar akses pendidikan tidak menjadi beban bagi orang tua, melainkan jembatan harapan bagi generasi masa depan.

Syawalan itu pun berakhir bukan sebagai penutup, melainkan sebagai awal. Awal dari langkah-langkah baru yang lebih kokoh. Awal dari tekad yang diperbarui. Dan di bawah langit Syawal yang masih bening, Muhammadiyah Sulawesi Selatan kembali meneguhkan dirinya, bahwa dakwah bukan hanya kata, tetapi juga karya nyata bagi umat.

Di sana, dalam hening yang penuh makna, Syawal mengajarkan satu hal: bahwa persatuan adalah ibadah, dan kebersamaan adalah jalan menuju keberkahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *