Pulang ke Watampone, Merawat Persahabatan Smabo 83

BUDAYA DAN SENI128 Dilihat

ILUSTRASI

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Abd. Azis Usman
Editor: Alimuddin
Pemimpin Redaksi Palapa Media Group

SUARA PALAPA, BONE — Waktu mempunyai cara yang sunyi untuk mengubah manusia.

Ia memutihkan rambut, memperlambat langkah, mengubah ruang-ruang sekolah menjadi kenangan, dan membawa anak-anak muda yang dahulu duduk sebangku menuju kehidupan masing-masing.

Tetapi ada sesuatu yang tidak selalu berhasil ditaklukkan waktu: persahabatan.

Di antara mereka yang pernah mengenakan seragam putih abu-abu di SMA Negeri 156 Watampone tahun 1983, yang kini berubah nomenklatur menjadi SMA Negeri 1 Watampone, persahabatan itu masih menemukan jalannya.

Mereka menamakannya Smabo 83.

Bukan sekadar nama sebuah angkatan. Ia menjadi semacam rumah kenangan. Tempat orang-orang yang pernah berbagi masa muda kembali menemukan dirinya di antara wajah-wajah lama.

September 2026 nanti, rumah kenangan itu akan kembali ramai.

Watampone menjadi tujuan perjalanan para alumni. Di kota inilah agenda arisan Smabo 83 sekaligus silaturahmi akan berlangsung.

Bagi sebagian orang, arisan mungkin hanya pertemuan rutin. Tetapi bagi mereka yang telah melewati puluhan tahun kehidupan, sebuah pertemuan semacam itu mempunyai arti yang berbeda.

Ia adalah kesempatan untuk memastikan bahwa nama-nama yang dahulu begitu dekat masih berada dalam ingatan.

Bahwa sahabat yang dulu duduk di samping kita masih dapat dipeluk.

Bahwa cerita masa sekolah belum benar-benar selesai.

Tiga Bulan Sekali, Mereka Bertemu

Arisan Smabo 83 dilaksanakan setiap tiga bulan.

Putaran sebelumnya berlangsung di Makassar, di kediaman Dra. Hj. Andi Aidah Makkulawu, guru Ekonomi dan Koperasi pada masa mereka bersekolah, bersama Drs. H. Abd. Rahman, guru Olahraga.

Di rumah sang guru, para murid yang kini telah memasuki usia matang itu kembali menjadi anak-anak dalam ingatan.

Mungkin mereka tidak lagi berbicara tentang pelajaran Ekonomi atau teknik olahraga seperti dahulu.

Mereka berbicara tentang kehidupan.

Tentang keluarga. Tentang pekerjaan. Tentang anak-anak yang telah dewasa. Tentang sahabat yang sudah lebih dulu berpulang. Tentang rambut yang mulai memutih. Dan mungkin tentang satu hal yang semakin terasa ketika usia bertambah: betapa singkat sebenarnya perjalanan manusia.

Karena itu, pertemuan tiga bulan sekali bukan sekadar agenda komunitas.

Ia seperti jeda.

Jeda bagi orang-orang yang sepanjang hidup sibuk mengejar tanggung jawab, untuk sejenak duduk dan bersyukur bahwa Tuhan masih memberi kesempatan bertemu.

Jakarta–Watampone

Dari Jakarta, Ketua Smabo 83, H. Asnawi, S.H., M.H., memastikan dirinya akan pulang kampung.

Mantan jaksa itu memiliki dua alasan penting untuk menempuh perjalanan menuju Watampone: menghadiri arisan alumni dan menghadiri resepsi pernikahan putra sahabatnya, Andi Ansar Amal, S.H., M.Si.

Ada sesuatu yang indah dari kata pulang.

Ia tidak selalu berarti kembali ke rumah tempat seseorang dilahirkan.

Kadang pulang berarti kembali kepada orang-orang yang membuat masa lalu terasa berarti.

H. Asnawi telah lama menempuh perjalanan pengabdian di dunia hukum. Kariernya sebagai jaksa membawanya hingga dipercaya menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat.

Kini jabatan itu telah menjadi bagian dari masa lalu.

Ia menikmati masa purna bakti bersama keluarga di Jakarta.

Namun, ketika sahabat lama memanggil dan sebuah keluarga sedang menjemput hari bahagia, jarak Jakarta–Watampone seakan bukan lagi persoalan.

Ada alasan untuk pulang.

Ada sahabat yang harus ditemui.

Ada doa yang ingin disampaikan.

Pernikahan di Tengah Persahabatan

Hari bahagia itu adalah pernikahan Letda Andi Andry Yuniawan Amal, putra Andi Ansar Amal, S.H., M.Si., dan Dra. Andi Rosdiana Andi Baso Darja (Andi Netty).

Ia akan menikah dengan Andi Rima Rizki Oktavia, S.H., putri tunggal pasangan Andi Man Aswad AM, S.E., dan Sri Ritaharty.

Resepsi pernikahan dijadwalkan berlangsung Sabtu, 19 September 2026, pukul 19.00 Wita hingga selesai, pada malam Minggu.

Rangkaian acara diawali dengan upacara Korps Pedang Pora di Aula Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif, Jalan Ahmad Yani, Watampone.

Kabar pernikahan itu kemudian menjadi percakapan hangat di grup WhatsApp Smabo 83.

Satu demi satu alumni menyatakan kesiapan hadir.

Mereka datang bukan karena sebuah undangan semata.

Mereka datang membawa sejarah persahabatan.

Membawa kenangan tentang masa muda.

Dan yang paling penting, membawa doa.

Di usia yang tidak lagi muda, mungkin inilah salah satu bentuk kebahagiaan yang paling sederhana: dapat hadir ketika anak sahabat memasuki babak baru kehidupannya.

Dari Camat hingga Masa Purna

Andi Ansar Amal sendiri memiliki perjalanan panjang dalam pengabdian pemerintahan di Kabupaten Bone.

Sebagai birokrat, ia beberapa kali dipercaya mengemban tugas sebagai camat. Perjalanan pengabdiannya kemudian membawanya ke posisi Kepala Bappelitbangda Kabupaten Bone.

Kini, seperti sahabatnya H. Asnawi, ia telah meninggalkan rutinitas jabatan dan memasuki masa purna bakti.

Ada fase dalam kehidupan ketika seseorang berhenti mengejar jabatan.

Bukan berarti berhenti berkarya.

Ia hanya berpindah ruang.

Dari kantor menuju rumah.

Dari rapat menuju keluarga.

Dari tanggung jawab kedinasan menuju waktu yang lebih banyak untuk anak-anak dan orang-orang tercinta.

Pada fase seperti itulah, persahabatan lama terasa semakin berharga.

Sebab jabatan mempunyai batas waktu.

Tetapi kenangan yang baik dapat tinggal jauh lebih lama.

Mereka Pernah Muda

Dahulu, mereka adalah anak-anak sekolah.

Mungkin tidak pernah membayangkan bahwa empat puluh tiga tahun kemudian, mereka akan bertemu kembali dengan rambut yang memutih dan kisah kehidupan yang begitu panjang.

Ada yang menjadi birokrat.

Ada yang menjadi jaksa.

Ada yang menempuh profesi lain.

Ada yang telah menjadi orang tua, bahkan mungkin kakek dan nenek.

Namun, ketika berada di tengah komunitas Smabo 83, sekat-sekat itu menjadi tipis.

Jabatan tidak lagi menjadi ukuran.

Pangkat tidak lagi penting.

Yang tersisa adalah nama dan wajah yang pernah hadir dalam masa paling sederhana kehidupan mereka.

Masa ketika kebahagiaan bisa ditemukan hanya dengan duduk bersama di halaman sekolah.

Masa ketika persahabatan belum membutuhkan alasan.

Waktu yang Mengajarkan Syukur

Barangkali semakin tua seseorang, semakin ia memahami bahwa hidup bukan tentang berapa banyak yang berhasil dikumpulkan.

Hidup juga tentang siapa yang masih dapat ditemui.

Siapa yang masih dapat disapa.

Siapa yang masih dapat diajak tertawa.

Dan siapa yang masih dapat didoakan.

Karena itu, pertemuan Smabo 83 sesungguhnya menyimpan pelajaran yang sederhana: manusia boleh pergi jauh, tetapi jangan terlalu jauh meninggalkan silaturahmi.

Dalam kehidupan yang bergerak cepat, mereka memilih untuk berhenti sejenak.

Menoleh.

Mengingat.

Kemudian bertemu.

Ada arisan di sana.

Ada pesta pernikahan.

Ada nostalgia.

Tetapi lebih dari semuanya, ada rasa syukur.

Syukur karena Tuhan masih memberi umur untuk bertemu.

Syukur karena masih ada sahabat yang bersedia datang.

Dan syukur karena perjalanan panjang kehidupan ternyata tidak menghapus semua jejak masa lalu.

Pulang Membawa Doa

Pada malam 19 September nanti, ketika lampu-lampu pesta menyala dan keluarga kedua mempelai menerima ucapan selamat, mungkin akan ada sekelompok orang yang memandang dari kejauhan dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Mereka adalah para sahabat lama.

Orang-orang yang pernah melewati masa muda bersama.

Mereka mungkin tersenyum melihat seorang anak sahabat kini berdiri di pelaminan.

Dalam senyum itu ada kenangan.

Dalam kenangan ada perjalanan waktu.

Dan dalam perjalanan waktu ada kesadaran bahwa setiap manusia pada akhirnya hanya sedang menempuh perjalanan menuju satu titik yang sama.

Karena itu, sebelum perjalanan benar-benar sampai pada ujungnya, silaturahmi menjadi salah satu cara manusia meninggalkan kebaikan.

Smabo 83 akan kembali pulang ke Watampone.

Mereka datang bukan sekadar untuk berkumpul.

Mereka datang untuk merawat sebuah persahabatan yang telah melewati empat dekade.

Sebab pada akhirnya, ketika jabatan telah ditinggalkan, usia telah bertambah, dan langkah tidak lagi secepat dahulu, yang mungkin tetap tinggal adalah kenangan tentang orang-orang yang pernah berjalan bersama.

Dan barangkali, itulah makna pulang yang sesungguhnya: kembali kepada orang-orang yang pernah membuat hidup terasa lebih berarti.

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *