Di Tepian Sungai Baliase, Ikhtiar Menjaga Rumah dan Harapan

SDA10 Dilihat

Keterangan Gambar:

Alat berat melakukan pekerjaan pengendalian banjir di kawasan Sungai Baliase, Kabupaten Luwu Utara, sebagai bagian dari upaya memperkuat tebing dan mengurangi risiko luapan sungai. (Foto: Dokumentasi BBWS Pompengan Jeneberang)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA

Bukan Sekadar Fakta, Ada Manusia dan Harapan di Baliknya

Oleh: Masykur Thahir
Kepala Dewan Redaksi Palapa Media Group

SUARA PALAPA, MAKASSAR — Air selalu menemukan jalannya. Namun ketika hujan turun dengan deras dan sungai kehilangan ruang untuk menampung limpahan air, jalan itu dapat berubah menjadi ancaman bagi manusia, rumah, lahan pertanian, dan kehidupan yang dibangun bertahun-tahun.

Di Kabupaten Luwu Utara, Sungai Baliase menyimpan cerita tentang kerentanan itu.

Pada 2025, curah hujan tinggi menyebabkan Sungai Baliase meluap. Tebing sungai mengalami kerusakan, sementara ancaman banjir kembali mengingatkan bahwa alam harus dipahami bukan hanya sebagai bentang geografis, melainkan juga sebagai ruang hidup manusia.

Di tepian sungai, keselamatan bukan perkara angka semata. Di sana ada rumah yang menjadi tempat pulang, lahan yang menjadi sumber penghidupan, fasilitas umum yang menopang aktivitas warga, serta harapan agar kehidupan dapat berlangsung tanpa selalu dibayangi luapan air.

Karena itu, pengendalian banjir Sungai Baliase menjadi bagian penting dari ikhtiar mengurangi risiko bencana.

Pembangunan pengendalian banjir Sungai Baliase dilakukan pada sepanjang 0,4 kilometer. Pekerjaan tersebut diarahkan untuk memperkuat kawasan sungai dan mengurangi potensi dampak luapan terhadap masyarakat di sekitarnya.

Penanganannya mencakup perkuatan tebing sepanjang 0,5 kilometer, pembangunan tanggul tanah sepanjang 0,3 kilometer, serta normalisasi sungai sepanjang 0,2 kilometer.

Di balik angka-angka teknis tersebut terdapat tujuan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan manusia: melindungi masyarakat, fasilitas umum, dan lahan pertanian sekitar empat hektare dari dampak luapan Sungai Baliase.

Sebuah tanggul mungkin hanya tampak sebagai tanah yang ditinggikan. Tebing yang diperkuat mungkin hanya terlihat sebagai konstruksi di sepanjang aliran sungai. Namun bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya, setiap meter penguatan adalah bagian dari ikhtiar menghadirkan rasa aman.

Begitu pula normalisasi sungai.

Ia bukan sekadar pekerjaan teknis untuk mengatur kembali aliran air. Di baliknya terdapat harapan agar sungai kembali memiliki ruang yang memadai untuk mengalir, sehingga air tidak mudah mencari jalan lain menuju kawasan yang dihuni dan diusahakan masyarakat.

Pembangunan infrastruktur pengendalian banjir pada akhirnya bukan hanya tentang membangun fisik. Ia adalah tentang mengurangi risiko terhadap jiwa dan harta benda, sekaligus menjaga agar aktivitas masyarakat dan roda perekonomian tetap dapat berjalan lebih aman.

Sebab bencana selalu menyisakan pelajaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar mampu menaklukkan alam. Yang dapat dilakukan adalah membaca tanda-tandanya, memperkuat kesiapsiagaan, dan membangun perlindungan dengan perencanaan yang baik.

Di situlah pembangunan menemukan maknanya.

Jalan, tanggul, tebing yang diperkuat, dan sungai yang dinormalisasi bukan sekadar benda-benda fisik. Semuanya seharusnya bermuara pada satu tujuan: menjaga kehidupan.

Dan di sepanjang Sungai Baliase, ikhtiar itu sedang diletakkan dalam bentuk nyata.

Barangkali manusia hanya mampu membangun tanggul setinggi yang dapat dijangkau tangannya. Tetapi harapan yang hendak dijaganya jauh lebih tinggi: agar hujan tidak berubah menjadi petaka, sungai tetap menjadi sumber kehidupan, dan masyarakat dapat menjalani hari-hari dengan rasa aman.

Pada akhirnya, menjaga manusia dari bencana adalah bagian dari menjaga amanah kehidupan.

Sebab setiap ikhtiar untuk menyelamatkan satu rumah, satu lahan, dan satu kehidupan, sekecil apa pun bentuknya, selalu memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar ukuran panjang sebuah proyek.

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *