Menjemput Rahmat di Langit Kering: Ikhtiar Mencegah Kebakaran Hutan

PARLEMEN9 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kapoksi Komisi V DPR RI Fraksi Gerindra, Danang Wicaksana Sulistya, saat memberikan arahan terkait mitigasi karhutla dan kesiapsiagaan BMKG di Jakarta. (Foto: Dokumentasi Fraksi Partai Gerindra DPR RI)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA: Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Ibnu Sultan

SUARA PALAPA, JAKARTA — Di bawah naungan langit nusantara yang kian terik, bumi pertiwi kembali menguji ketabahan kita. Kemarau ekstrem merayap perlahan, mengeringkan dedaunan dan membiarkan tanah-tanah gambut berbisik tentang ancaman yang tak kasat mata: kebakaran hutan dan lahan. Di tengah pasrah dan harap manusia akan datangnya setetes air, ikhtiar tak boleh terhenti.

Kesadaran akan menjaga kehidupan inilah yang ditegaskan oleh Ketua Kelompok Komisi (Kapoksi) Komisi V DPR RI Fraksi Gerindra, Danang Wicaksana Sulistya. Ia menyerukan agar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bergerak lebih cepat melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Menjemput hujan sebelum api sempat menyapa adalah wujud nyata dari amanah menjaga alam.

“BMKG perlu memaksimalkan modifikasi cuaca sebagai langkah mitigasi menghadapi kemarau ekstrem. Jangan sampai kita menunggu karhutla meluas baru kemudian melakukan penanganan,” tegas Danang dengan nada penuh ketulusan di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Bagi Danang, menabur benih hujan bukan sekadar kalkulasi sains semata, melainkan ikhtiar kemanusiaan. Ketika titik panas meluas, yang bertaruh bukan hanya pohon-pohon tua di rimba, melainkan napas anak-anak kecil, ketenangan para ibu, hingga denyut ekonomi warga yang menggantungkan hidup pada tanah yang subur.

Melalui pemetaan meteorologis yang presisi, OMC menjadi jembatan antara doa manusia dan ketetapan Sang Maha Kuasa. Namun, ikhtiar langit tak akan berdampak tanpa sinergi di bumi. Danang menekankan pentingnya keterpaduan langkah antara BMKG, kementerian, pemerintah daerah, hingga para petugas yang bersiap di garis depan.

“Yang paling penting adalah sinergi. Data dan informasi BMKG harus terhubung dengan langkah konkret di lapangan. Kalau sudah terdeteksi wilayah yang rawan, mitigasinya harus segera dilakukan,” ujarnya.

Dampak karhutla melampaui kerugian material; ia melukai ikatan harmonis antara manusia dan alam tempatnya mengabdi. Mencegah bencana sejak dini adalah bentuk rasa syukur dan tanggung jawab atas bumi yang dititipkan-Nya.

“Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan. Dampaknya bisa merembet ke kesehatan, transportasi, ekonomi masyarakat, bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan sedini mungkin,” pungkas Danang.

Sebab pada akhirnya, merawat alam adalah menjaga napas kehidupan itu sendiri. Sebelum asap mengepul membungkus langit, ketegasan nurani untuk bertindak hari ini adalah benteng terkuat yang menyelamatkan masa depan bumi pertiwi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *