Di Bawah Tenda Reses, Suara Rakyat Mengalir: Dari Air Keruh hingga Jalan Gelap di Soppeng

PARLEMEN8 Dilihat

Keterangan Gambar:

Ketua DPRD Kabupaten Soppeng, Andi Muhammad Farid, menyampaikan sambutan sekaligus mendengarkan aspirasi masyarakat dalam kegiatan reses di Salotungo, Watansoppeng, yang dihadiri ratusan warga dengan berbagai keluhan terkait layanan dasar dan infrastruktur.

Oleh: Syamsuddin Andy

Di bawah tenda sederhana yang berdiri di Salotungo, Watansoppeng, suara-suara itu akhirnya menemukan ruangnya. Bukan sekadar forum formal, reses Ketua DPRD Kabupaten Soppeng, Andi Muhammad Farid, menjelma menjadi panggung kejujuran warga, tempat keluhan lama yang terpendam kembali diucapkan dengan harap.

Ratusan warga datang tidak hanya membawa usulan, tetapi juga membawa ingatan tentang janji-janji yang pernah dilontarkan dalam forum serupa: Musrenbang dan reses sebelumnya. Pertanyaan yang mengemuka sederhana namun menggugah: sejauh mana semua itu benar-benar terwujud?

Dalam reses kedua masa persidangan 2025/2026 itu, persoalan mendasar mencuat tanpa bisa dibendung. Air bersih, jalan, lampu penerangan, hingga irigasi, semuanya bersatu dalam satu benang merah: kebutuhan dasar yang belum sepenuhnya terpenuhi.

Keluhan tentang air bersih menjadi suara paling lantang. Warga bercerita tentang air PDAM yang tak menentu, mengalir di waktu yang tak bersahabat, tengah malam, dan seringkali dalam kondisi keruh. Air, yang semestinya menjadi sumber kehidupan, justru menghadirkan kegelisahan.

Di sudut lain, kegelapan malam menjadi ancaman tersendiri. Jalan Lakitta hingga ruas antara Kantor DPRD dan Masjid Salotungo disebut-sebut minim penerangan. Bagi warga, gelap bukan hanya soal cahaya yang hilang, tetapi juga rasa aman yang memudar.

Persoalan infrastruktur tak kalah mendesak. Jalan Lakitta di kawasan drainase disebut mulai rapuh, seolah menunggu waktu untuk runtuh. Akses menuju pemakaman Lolloe pun belum tersentuh aspal, meski hanya sepanjang satu kilometer. Sementara itu, drainase di Jalan Perintis yang terbentang sekitar 100 hingga 200 meter menjadi simbol lain dari pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Di balik semua itu, ada pula kegelisahan petani. Saluran irigasi yang belum optimal membuat harapan akan hasil panen yang baik terasa menggantung di antara musim.

Menghadapi gelombang aspirasi tersebut, Andi Muhammad Farid berdiri dengan satu penegasan: reses bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah ruang mendengar, ruang untuk menyerap keluhan, saran, dan harapan masyarakat.

“Untuk lampu jalan, akan segera kami coba tindak lanjuti,” ujarnya, singkat namun memberi secercah harapan.

Lebih dari itu, ia memastikan bahwa setiap suara yang terucap tidak akan berhenti di forum tersebut. Semua akan dibawa ke meja pembahasan bersama pemerintah daerah. Sebab baginya, sinergi adalah kunci, agar setiap rencana yang lahir dari Musrenbang dan reses tidak hanya menjadi catatan, tetapi benar-benar hadir sebagai solusi nyata.

Reses hari itu mungkin akan berakhir, tenda akan dibongkar, dan kursi-kursi akan kembali kosong. Namun suara warga, tentang air yang keruh, jalan yang gelap, dan harapan yang belum padam, akan terus bergema, menunggu untuk dijawab dengan tindakan nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *