Keterangan Gambar:
Kondisi tanaman padi berusia dua bulan milik Kelompok Tani Mattiro Walie di Dusun Welonge, Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, Selasa (28/7/2026). Sedikitnya 50 hektare padi terancam gagal panen akibat kekeringan dan minimnya debit air irigasi, tanah sawah tampak kering dan retak.
Oleh: Idris
Editor: Alimuddin
SOPPENG, SUARA PALAPA – Di Dusun Welonge, Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, waktu seolah berhenti. Di hamparan seluas 50 hektare itu, padi yang baru berusia dua bulan menunduk lesu. Daunnya menguning, batangnya meretak bersama tanah yang kehausan. Langit Soppeng masih membiru, namun tak lagi menurunkan janji.
Selasa pagi, 28 Juli 2026, pemandangan itu terasa lebih menyayat dari biasanya. Sawah milik Kelompok Tani Mattiro Walie yang seharusnya menghijau segar, kini pecah-pecah seperti naskah doa yang terlalu lama menunggu jawaban. Di sinilah, di antara garis-garis retakan tanah itulah, harapan menggantung tipis.
Uding berdiri mematung di pematang. Di lahan tiga perempat hektare miliknya, ia menanam bukan sekadar padi, melainkan masa depan keluarganya.
“Kalau begini terus, kami bisa gagal panen,” lirihnya, suaranya nyaris tenggelam oleh angin kemarau. “Debit air dari hulu sudah tidak ada. Sepanjang saluran irigasi, semua kering. Sawah ini hanya menunggu mukjizat.”
Bagi Uding dan puluhan petani lainnya, sawah adalah sajadah penghidupan. Dari sanalah mereka belajar tentang tawakal, bahwa manusia hanya bisa menanam, sementara yang menumbuhkan adalah Yang Maha Kuasa. Namun tahun ini, ujian itu terasa begitu berat. Musim kemarau datang lebih garang, sementara sebagian besar lahan di Welonge masih sangat bergantung pada tadah hujan dan aliran irigasi yang kini hanya menyisakan lumpur.
Kekeringan ini bukan sekadar soal agronomi. Ini adalah soal ketahanan hidup, soal ketahanan pangan. Dan di titik inilah kehadiran negara menjadi begitu dirindukan.
Kini, satu harapan menggantung di bibir para petani Welonge. Sebuah harapan yang sederhana namun begitu vital: hadirnya aliran listrik masuk sawah.
“Kalau listrik masuk, kami bisa pakai pompa,” kata Uding, matanya kembali menatap langit. “Biarlah kami berikhtiar dengan pompa, selagi terus berdoa agar hujan diturunkan.”
Sebab pada akhirnya, petani adalah guru kesabaran terbaik. Ketika tanah retak, mereka tidak mengutuk langit. Mereka justru semakin mendekatkan kening ke tanah, melangitkan doa, dan menunggu dengan sabar, bahwa setelah kesulitan, selalu ada kemudahan. Bahwa setelah kemarau yang panjang, Allah akan menurunkan rahmat-Nya.
Dari Welonge, kita belajar: padi boleh merunduk karena haus, tapi semangat petani Soppeng tidak pernah benar-benar roboh.



