Jejak Doa di Kota Kalong: Kala Siswa Brimob Menjemput Teduh dalam Tugas

POLRI13 Dilihat

Keterangan Gambar:

TEGAK DALAM DISIPLIN, TUNDUK DALAM DOA: Seorang perwira Polres Soppeng memberikan arahan kepada para Siswa Latja Bintara Brimob sebelum melaksanakan ibadah Minggu di Gereja GKSS Jemaat Imanuel, Kabupaten Soppeng. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan mental dan spiritual yang ditekankan oleh Polres Soppeng guna mencetak personel Polri yang tidak hanya profesional secara taktis, tetapi juga memiliki landasan moral dan religiusitas yang kuat dalam melayani masyarakat. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

Oleh: Idris

SOPPENG – Matahari pagi di Bumi Latemmamala baru saja memanjat langit ketika derap langkah tegap namun tenang membelah keheningan Jalan Kesatria. Di bawah naungan langit biru yang membentang luas, para Siswa Latihan Kerja (Latja) Bintara Brimob Polres Soppeng melangkah bukan untuk sebuah simulasi taktis, melainkan untuk sebuah penyerahan diri yang tulus kepada Sang Pencipta.

Minggu, 26 April 2026, menjadi saksi bagaimana seragam cokelat yang melambangkan ketegasan itu bersimpuh dengan penuh kerendahan hati. Di dalam ruang ibadah Gereja GKSS Jemaat Imanuel Soppeng, suasana khidmat merayap perlahan di antara nyanyian pujian dan bait-bait doa. Bagi para siswa yang beragama Kristen dan Katolik ini, ibadah bukan sekadar kewajiban rutinitas, melainkan oase spiritual di tengah kerasnya tempaan latihan fisik dan disiplin kepolisian.

Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., memandang kegiatan ini sebagai fondasi utama dalam membentuk jati diri seorang Bhayangkara. Baginya, seorang anggota Polri tidak hanya harus tajam dalam intuisi dan kuat dalam fisik, tetapi juga harus memiliki “sauh” yang kuat pada nilai-nilai ketuhanan.

“Kami ingin mereka tidak hanya siap menjadi tameng masyarakat secara fisik, tetapi juga memiliki kelembutan hati yang bersumber dari iman yang kuat. Profesionalisme tanpa landasan moral adalah kehampaan,” tutur AKBP Aditya dengan nada yang penuh penekanan humanis.

Narasi besar yang dibangun Polres Soppeng dalam Latja kali ini memang menitikberatkan pada keseimbangan. Di bawah asuhan Polres Soppeng, para siswa diajarkan bahwa toleransi bukanlah sekadar kata di atas kertas, melainkan praktik nyata yang dirasakan dalam setiap denyut nadi pengabdian.

Usai ibadah berakhir, kedamaian tampak jelas terpancar dari wajah-wajah muda calon penjaga keamanan ini. Mereka kembali menuju Hotel Surya dengan langkah yang lebih ringan, membawa bekal ketenangan batin yang akan menjadi modal dalam menjalankan tugas-tugas berat di masa depan.

Di balik seragam yang gagah, tersimpan jiwa-jiwa yang sadar bahwa dalam setiap desah napas dan langkah penugasan, ada campur tangan Tuhan yang menuntun. Melalui bimbingan Polres Soppeng, para siswa Brimob ini belajar satu hal penting: bahwa sebelum melayani manusia, mereka harus terlebih dahulu tunduk kepada Sang Maha Kuasa.

Hari itu, Soppeng tidak hanya bercerita tentang keamanan yang terjaga, tetapi juga tentang bagaimana harmoni antara tugas negara dan panggilan jiwa dapat berjalan seiring, menciptakan melodi pengabdian yang indah dan menyejukkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *