Kompetensi Wartawan Diasah, Informasi Publik Dijaga dengan Nurani

POLRI130 Dilihat

FEATURE PALAPA
Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Syukur Mariorante Katalawala

SUARA PALAPA, SOPPENG — Di balik setiap berita yang sampai kepada masyarakat, ada proses yang tidak selalu terlihat. Ada informasi yang harus disimak dengan saksama, pertanyaan yang perlu dirumuskan dengan tepat, serta fakta yang mesti diuji sebelum akhirnya disampaikan kepada publik.

Di sanalah kompetensi jurnalistik menemukan maknanya. Bukan sekadar kecakapan menulis atau kecepatan menyampaikan kabar, melainkan kesungguhan menjaga kebenaran agar informasi tidak kehilangan arah dan kepercayaan masyarakat tetap terpelihara.

Semangat itulah yang mengemuka dalam rangkaian kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Kabupaten Soppeng Tahun 2026, Kamis (29/10/2026). Dalam kegiatan tersebut, Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polres Soppeng, AKP H. Husain, S.Sos., S.H., M.H., menjadi narasumber simulasi penyampaian materi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas).

Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan materi mengenai keamanan dan ketertiban masyarakat. Lebih dari itu, simulasi tersebut menjadi ruang latihan bagi wartawan untuk mengasah kemampuan menyimak, menggali keterangan, serta menguji informasi melalui sesi doorstop atau wawancara singkat setelah pemaparan materi.

Dalam suasana pembelajaran itu, pertanyaan menjadi bagian penting dari proses jurnalistik. Wartawan dituntut tidak berhenti pada apa yang terdengar, tetapi juga memahami konteks, memastikan kejelasan informasi, dan melakukan konfirmasi terhadap hal-hal yang masih memerlukan penjelasan.

Sebab, sebuah berita yang baik tidak lahir hanya dari banyaknya informasi yang terkumpul. Ia tumbuh dari ketekunan memeriksa fakta, kecermatan memilih kata, dan keberanian menjaga jarak profesional agar pemberitaan tetap akurat serta berimbang.

Ketika Kompetensi Menjadi Tanggung Jawab

Kapolres Soppeng, AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi wartawan dalam membangun ekosistem informasi publik yang sehat, terutama dalam pemberitaan mengenai keamanan dan ketertiban masyarakat.

Menurutnya, informasi mengenai Harkamtibmas perlu disampaikan berdasarkan fakta, melalui proses konfirmasi yang tepat, serta menggunakan bahasa yang jelas dan bertanggung jawab.

Kompetensi, dalam pandangan tersebut, bukan semata-mata ukuran kemampuan seseorang menjalankan profesinya. Ia juga menjadi landasan untuk memastikan bahwa informasi yang diterima masyarakat tidak menyesatkan, tidak menimbulkan kesalahpahaman, dan memberikan pemahaman yang memadai mengenai persoalan yang diberitakan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, informasi tentang keamanan memiliki arti penting. Berita yang disampaikan secara cermat dapat membantu masyarakat memahami keadaan, meningkatkan kewaspadaan, dan mengenali peran yang dapat dilakukan bersama untuk menjaga lingkungan tetap aman dan tertib.

Sebaliknya, informasi yang tidak teruji berpotensi menimbulkan kegelisahan yang tidak perlu. Karena itu, ketelitian dalam jurnalistik bukan sekadar tuntutan profesi, melainkan juga bentuk tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.

Kemitraan yang Tetap Menjaga Batas

Kapolres juga menekankan pentingnya hubungan kemitraan antara kepolisian dan wartawan yang dibangun di atas profesionalisme, keterbukaan informasi sesuai ketentuan, serta penghormatan terhadap tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Kemitraan semacam ini memiliki arti ketika komunikasi berlangsung secara terbuka tanpa menghilangkan batas independensi.

Kepolisian menjalankan tugasnya dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Sementara itu, wartawan bekerja mencari, menguji, mengolah, dan menyampaikan informasi kepada masyarakat berdasarkan kaidah jurnalistik.

Keduanya dapat bertemu dalam ruang komunikasi publik yang konstruktif. Namun, hubungan tersebut tetap perlu berpijak pada penghormatan terhadap fungsi masing-masing.

Bagi pers, kedekatan dengan narasumber tidak boleh mengurangi daya kritis. Bagi institusi yang menjadi sumber informasi, keterbukaan yang sesuai ketentuan dapat membantu masyarakat memperoleh penjelasan yang lebih utuh.

Di antara keduanya, kepentingan publik harus tetap menjadi perhatian utama.

Sebab, kepercayaan masyarakat tidak tumbuh hanya karena hubungan yang baik antara wartawan dan narasumber. Kepercayaan itu tumbuh ketika informasi disampaikan secara benar, pertanyaan diajukan secara bertanggung jawab, dan setiap keterangan ditempatkan sesuai fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Belajar untuk Menjaga Kepercayaan

Melalui simulasi materi Harkamtibmas dan sesi doorstop, peserta UKW diharapkan semakin terampil melakukan wawancara, menguji informasi, serta menyajikan berita sesuai kaidah jurnalistik.

Latihan tersebut menjadi pengingat bahwa pekerjaan wartawan tidak berakhir ketika narasumber selesai berbicara. Setelah wawancara, masih ada pekerjaan penting yang harus dilakukan: memeriksa kembali keterangan, memastikan ketepatan nama dan jabatan, memahami konteks pernyataan, serta memberi ruang bagi klarifikasi apabila diperlukan.

Di situlah profesionalisme diuji, bahkan ketika tidak ada yang menyaksikan proses di balik layar.

Polres Soppeng mendorong terjalinnya sinergi positif dengan kalangan wartawan sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi publik yang konstruktif dan memperluas edukasi mengenai keamanan serta ketertiban masyarakat.

Semangat Polisi Bersama Masyarakat pun memperoleh makna yang lebih luas ketika masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga pihak yang memperoleh pengetahuan untuk berpartisipasi menjaga lingkungan dan kehidupan sosialnya.

Pada akhirnya, kompetensi jurnalistik bukan sekadar tentang bagaimana sebuah berita ditulis dengan baik. Ia juga berbicara tentang bagaimana kebenaran diperlakukan dengan hormat, bagaimana manusia dijaga martabatnya, dan bagaimana kepentingan publik ditempatkan di atas kepentingan sesaat.

Sebab, kata-kata yang dimuat dalam sebuah berita mungkin hanya dibaca dalam beberapa menit. Namun, dampaknya dapat tinggal jauh lebih lama dalam pikiran dan kehidupan pembacanya.

Wartawan yang kompeten tidak hanya dituntut mampu menyampaikan apa yang terjadi, tetapi juga bertanggung jawab atas cara fakta itu disampaikan. Sebab, ketika informasi dijaga dengan akal yang jernih dan nurani yang hidup, pers tidak sekadar menjadi penyampai kabar, melainkan penjaga kepercayaan di tengah masyarakat.


PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *