Ketika Pancasila Menjadi Jalan Pengabdian Polres Soppeng

POLRI79 Dilihat

Keterangan Gambar:
Wakapolres Soppeng Kompol Tamar, S.Sos., memimpin upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di halaman Mapolres Soppeng, Kamis (1/10/2026), yang diikuti jajaran personel Polres Soppeng. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)


PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA

Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Syukur Mariorante Katalawala

SUARA PALAPA, SOPPENG — Pancasila tidak selalu harus hadir dalam kalimat-kalimat besar. Ia dapat tumbuh dalam hal-hal sederhana: ketika seseorang menghormati sesamanya, ketika perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling menjauh, dan ketika sebuah tugas dijalankan dengan kesadaran bahwa di balik setiap pelayanan terdapat manusia yang berharap diperlakukan dengan adil.

Semangat itulah yang terasa dalam peringatan Hari Kesaktian Pancasila di halaman Mapolres Soppeng, Kamis, 1 Oktober 2026.

Upacara dipimpin Wakapolres Soppeng Kompol Tamar, S.Sos., dan diikuti personel Polres Soppeng. Bagi jajaran kepolisian, momentum tersebut bukan semata-mata agenda seremonial, melainkan kesempatan untuk kembali menengok nilai yang menjadi bagian penting dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di tengah halaman upacara, barisan personel berdiri dalam ketertiban. Matahari pagi menerangi lapangan, sementara penghormatan kepada Pancasila mengingatkan kembali bahwa tugas negara pada akhirnya selalu bersentuhan dengan kehidupan manusia.

Sebab, tugas kepolisian tidak berhenti pada seragam, pangkat, ataupun kewenangan.

Ada masyarakat yang harus dilayani. Ada warga yang membutuhkan perlindungan. Ada persoalan yang memerlukan kehadiran aparat dengan ketegasan, tetapi sekaligus dengan kebijaksanaan.

Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H. menegaskan bahwa peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak semestinya berhenti sebagai agenda tahunan.

Menurutnya, momentum tersebut menjadi pengingat bagi setiap personel untuk menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan dalam menjalankan tugas.

“Pancasila merupakan nilai yang menyatukan kita dalam keberagaman. Karena itu, semangat tersebut harus tercermin dalam pelaksanaan tugas, terutama dalam memberikan pelayanan, perlindungan dan pengayoman kepada masyarakat dengan penuh tanggung jawab,” ujar AKBP Hari Budiyanto.

Pesan itu sederhana, tetapi memiliki ruang perenungan yang panjang.

Dalam kehidupan masyarakat yang beragam, persatuan bukan berarti menghapus perbedaan. Persatuan justru tumbuh ketika perbedaan dapat ditempatkan dalam penghormatan yang sama terhadap kemanusiaan.

Di situlah nilai Pancasila menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi anggota Polri, nilai tersebut dapat diterjemahkan melalui cara memberikan pelayanan, menghadapi persoalan masyarakat, menjaga ketertiban, serta menggunakan kewenangan secara bertanggung jawab.

Kapolres juga menekankan pentingnya menjaga soliditas internal sekaligus membangun hubungan yang baik dengan masyarakat sebagai bagian dari pengabdian Polri.

Hubungan antara aparat dan masyarakat, pada akhirnya, bukan hanya perkara tugas dan kewenangan. Ia juga menyangkut kepercayaan.

Kepercayaan tidak lahir hanya karena seseorang mengenakan seragam. Ia tumbuh dari sikap, keteladanan, pelayanan yang tulus, dan kesediaan untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Karena itu, peringatan Hari Kesaktian Pancasila dapat menjadi ruang untuk mengingat kembali bahwa pengabdian kepada negara sesungguhnya memiliki wajah yang sangat manusiawi.

Ada tangan yang menolong.
Ada telinga yang mendengar.
Ada ketegasan yang tetap berpijak pada keadilan.
Dan ada hati yang tidak kehilangan rasa ketika menjalankan kewenangan.

Di tengah kehidupan yang terus berubah, nilai-nilai Pancasila membutuhkan lebih dari sekadar hafalan. Ia membutuhkan penghayatan dan tindakan.

Sebab sebuah nilai akan memiliki makna ketika ia menjelma menjadi perilaku.

Bagi Polres Soppeng, peringatan ini menjadi pengingat untuk terus memperkuat semangat kebangsaan, menjaga persatuan dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

Pada akhirnya, pengabdian bukan tentang seberapa sering sebuah nilai diucapkan, melainkan seberapa jauh nilai itu hidup dalam tindakan.

Dan mungkin, di situlah makna paling dalam dari Pancasila: ketika nilai yang luhur tidak hanya berdiri di atas podium, tetapi berjalan bersama manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Karena negara akan terasa dekat ketika aparatnya hadir dengan tanggung jawab.

Dan masyarakat akan merasa dihargai ketika kewenangan berjalan bersama kemanusiaan.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *