Menjaga Janji di Balik Jubah Akhlak: Saat Seragam Polisi Duduk Bersimpuh di Serambi Pesantren Yasrib

POLRI6 Dilihat

Keterangan Gambar: Kasat Binmas Polres Soppeng Iptu Andri Hermansyah, S.Sos., M.Si., bersama jajaran Sat Binmas duduk bersimpuh memberikan penyuluhan dan motivasi di hadapan santri dan santriwati Pondok Pesantren Yasrib, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng. (Foto: Dok. Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG) Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

ESSAY PALAPA Refleksi Nurani di Atas Fakta

Oleh: Idris

SUARA PALAPA, SOPPENG — Di balik sejuknya angin pagi di bumi Latemmamala, gema lantunan ayat-ayat suci bersahutan dengan cita-cita besar para penuntut ilmu. Namun, menjaga keheningan jiwa di era yang penuh riak zaman bukanlah perkara mudah. Menyadari bahwa akhlak adalah benteng utama penjaga peradaban, jejak-jejak langkah aparat kepolisian kembali menyusuri lantai suci tempat para generasi muda menempa diri.

Senin, 21 September 2026, jarum jam baru saja menunjuk angka 09.00 WITA ketika seragam cokelat kepolisian tak lagi berdiri tegak penuh sekat, melainkan duduk bersimpuh rendah hati bersama ratusan santri di Pondok Pesantren Yasrib, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng. Di ruang bernuansa islami itu, Sat Binmas Polres Soppeng merajut dialog spiritual dan sosial—sebuah ikhtiar preventif untuk menjaga marwah dan masa depan para penjaga benteng moral bangsa.

Dipimpin oleh Kasat Binmas Polres Soppeng, Iptu Andri Hermansyah, S.Sos., M.Si., bersama KBO, Kaur Mintu, dan para Kanit Sat Binmas, perjumpaan tersebut menghadirkan perwakilan santri putra dan putri dari kelas XII MA serta kelas IX MTs. Tak ada raut ketakutan; yang ada adalah kehangatan tatap mata yang saling menaruh percaya.

Di tengah hamparan sajadah dan ubin masjid yang teduh, bait-bait pesan moral dialirkan. Bukan sekadar doktrin hukum, melainkan sebuah sentuhan jiwa tentang pentingnya menjaga kedisiplinan dan kesucian asrama. Para personel menguraikan betapa berharganya menjaga ikatan persaudaraan, menjauhi bayang-bayang kenakalan remaja, seperti meninggalkan asrama tanpa izin, bahaya rokok, godaan dunia maya tanpa kendali, perilaku asusila, hingga tindakan perundungan (bullying) dan kekerasan yang merusak tali silaturahmi.

“Santri tingkat akhir adalah pelita bagi adik-adiknya,” pesan Iptu Andri Hermansyah lembut namun bergetar tegas. Beliau mengajak para santri senior untuk menjadi cermin kebaikan—mengayomi, membimbing, dan menebar keteladanan, bukan dengan kepalan tangan, melainkan dengan keteladanan nurani.

Upaya penyuluhan ini merupakan wujud nyata kepolisian dalam membangun pondasi kesadaran sejak dini. Sebuah gerak melangkah yang juga terus ditanamkan secara konsisten ke pelbagai sekolah di wilayah hukum Polres Soppeng.

Secara terpisah, Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., menegaskan bahwa fungsi kepolisian sejatinya bukan sekadar menegakkan hukum saat kepedihan telah terjadi, melainkan hadir lebih awal untuk merawat ketenteraman dan menyelamatkan jiwa-jiwa muda dari prasangka buruk kehidupan.

“Pembinaan kepada generasi muda harus dilakukan secara berkelanjutan,” tutur AKBP Hari Budiyanto penuh ketulusan. “Kami ingin para santri tidak hanya memahami aturan, tetapi juga memiliki kepedulian untuk menjaga kedisiplinan, menghormati sesama, dan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan tertib.”

Kapolres menekankan betapa besarnya tanggung jawab moral yang dipikul para santri senior di pesantren. Dalam pandangannya, pesantren adalah rahim tempat lahirnya pemimpin masa depan yang berakhlak mulia.

“Santri senior memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan contoh yang baik,” sambung Kapolres. “Jika ada persoalan, hendaknya disampaikan kepada guru atau pembina, bukan diselesaikan dengan kekerasan maupun tindakan yang melanggar aturan.”

Ketika acara usai dan surut langkah mengantar kepulangan para pengayom masyarakat, bisik doa berhembus pelan. Di Pondok Pesantren Yasrib hari itu, fakta dan kepedulian bertemu dalam muara yang sama: menjaga agar pelita di dada para santri tak padam diterjang angin zaman. Kerja sama ini menjadi bukti bahwa hukum dan nilai spiritualitas bisa berjalan seiring demi memuliakan martabat manusia.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *