Keterangan Gambar:
Personel Polres Wajo mengikuti kegiatan Bimbingan Rohani dan Mental (Binrohtal) di Masjid At-Taqwa Polres Wajo, Kamis (24/9/2026). Kegiatan rutin tersebut diisi dengan pembacaan hadis, Yasinan dan dzikir sebagai bagian dari pembinaan mental dan spiritual personel. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)
PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani
FEATURE PALAPA
Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta
Oleh: Sabri
Editor: Alimuddin
SUARA PALAPA, WAJO –
Pagi belum sepenuhnya beranjak dari kesejukannya ketika sejumlah seragam cokelat memilih untuk sejenak menepi dari hiruk-pikuk tugas.
Di atas hamparan karpet Masjid At-Taqwa Polres Wajo, Kamis (24/9/2026) pagi, mereka duduk bersisian. Buku terbuka di tangan. Kepala menunduk. Lantunan ayat dan dzikir mengisi ruang yang sebelumnya akrab dengan kesibukan pelayanan kepolisian.
Di sana, pangkat dan jabatan seakan menemukan jedanya.
Ada saat ketika seorang polisi tidak sedang berdiri sebagai penjaga ketertiban, melainkan sebagai manusia yang juga membutuhkan penguatan batin.
Sekitar pukul 08.35 Wita, Polres Wajo kembali melaksanakan Bimbingan Rohani dan Mental (Binrohtal) bagi personel. Kegiatan dipimpin Wakapolres Wajo Kompol H. Andi Syamsulifu, S.Sos., dan diikuti para Pejabat Utama (PJU), perwira serta personel Polres Wajo, khususnya yang beragama Islam.
Kegiatan diawali dengan pembacaan hadis. Setelah itu, suasana masjid diisi dengan Yasinan dan dzikir yang dipimpin Imam Masjid At-Taqwa Polres Wajo, Ustaz Arif.
Tidak ada yang istimewa dalam kesederhanaan itu, kecuali makna yang ingin dijaga.
Sebab tugas kepolisian bukan semata tentang kewenangan, aturan dan penegakan hukum. Di balik seragam yang dikenakan, terdapat manusia yang setiap hari berhadapan dengan beragam wajah kehidupan—dengan persoalan, harapan, keresahan, bahkan air mata masyarakat.
Karena itu, pembinaan mental dan spiritual menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mempersiapkan personel dalam menjalankan tugasnya.
Menjaga Hati di Tengah Tugas
Binrohtal di Polres Wajo dilaksanakan secara rutin setiap Kamis setelah apel pagi personel.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu sarana pembinaan mental dan spiritual bagi anggota Polri. Melalui kegiatan itu, personel diharapkan dapat memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus menumbuhkan karakter yang lebih humanis dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
Di titik inilah nilai spiritual bertemu dengan pengabdian.
Seorang aparat dituntut bekerja secara profesional. Namun profesionalitas juga membutuhkan landasan moral agar kewenangan tetap berjalan dalam koridor yang semestinya.
Doa tidak menggantikan tugas. Dzikir tidak menggantikan tanggung jawab. Tetapi keduanya dapat menjadi ruang perenungan agar manusia yang memegang amanah tidak kehilangan arah ketika menjalankan kewajibannya.
Di tengah tuntutan pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, nilai-nilai moral dan spiritual menjadi pengingat bahwa setiap tugas pada akhirnya menyentuh kehidupan manusia.
Maka, pembinaan rohani bukan hanya tentang bagaimana seseorang mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai yang diyakininya diterjemahkan dalam sikap ketika kembali menjalankan tugas.
Dari Masjid, Kembali kepada Masyarakat
Usai rangkaian Binrohtal, para personel akan kembali kepada rutinitas masing-masing.
Ada yang kembali kepada tugas pelayanan. Ada yang menjalankan fungsi sesuai bidangnya. Ada pula yang bersiap menghadapi dinamika masyarakat yang tidak selalu dapat diprediksi.
Namun pagi itu meninggalkan satu pesan sederhana: bahwa sebelum seseorang menjalankan amanah kepada sesama, ada baiknya ia terlebih dahulu mengingat kepada siapa seluruh amanah itu pada akhirnya dipertanggungjawabkan.
Di atas karpet masjid, mereka duduk dalam kesederhanaan.
Seragam tetap melekat. Pangkat tetap tersemat. Tugas tetap menanti.
Tetapi sejenak, hati diajak untuk merendah.
Sebab kekuatan seorang manusia bukan hanya terletak pada kewenangan yang dimilikinya, melainkan juga pada kemampuan menjaga nurani ketika kewenangan itu digunakan.
Dan dari ruang ibadah yang tenang itu, sebuah ikhtiar kecil terus dirawat: agar pengabdian kepada masyarakat tidak kehilangan sentuhan kemanusiaan, agar profesionalitas tetap berjalan bersama moral, dan agar setiap langkah dalam menjalankan tugas senantiasa memiliki arah yang baik.
Karena pada akhirnya, seragam hanyalah tanda pengabdian. Tetapi hati dan nurani adalah tempat seorang manusia menjaga makna dari amanah yang dipercayakan kepadanya.
Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.









