Ketika Polisi Mengajarkan AI, Sekolah Menyiapkan Masa Depan

POLRI28 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kabag SDM Polres Soppeng Kompol Sulaeman Abu, S.H., M.H., berada di tengah kegiatan edukasi Artificial Intelligence (AI) bersama para siswa SMA Negeri 2 Soppeng, Rabu (2/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Polres Soppeng membekali generasi muda agar mampu memahami dan memanfaatkan teknologi secara cerdas, produktif, dan bertanggung jawab. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

EDITORIAL PALAPA

Suara Nurani Redaksi

SUARA PALAPA, SOPPENG – Ada zaman ketika polisi identik dengan seragam, hukum, ketertiban, dan penjagaan. Namun zaman berubah. Ancaman tidak selalu datang dari jalanan. Sebagian hadir tanpa suara, menyelinap melalui layar, masuk ke ruang belajar, lalu perlahan memengaruhi cara manusia berpikir.

Di tengah arus perubahan itulah, kehadiran Polres Soppeng di ruang pendidikan menemukan makna yang lebih luas.

Bukan dengan membawa pendekatan yang menakutkan, melainkan dengan membawa pengetahuan.

Pada Rabu, 2 September 2026, sekitar pukul 07.30 Wita, Polres Soppeng melaksanakan edukasi pemahaman Artificial Intelligence (AI) kepada siswa kelas XII SMA Negeri 2 Soppeng. Kegiatan tersebut dipimpin Kabag SDM Polres Soppeng Kompol Sulaeman Abu, S.H., M.H., bersama personel yang tergabung dalam tim edukasi AI.

Sebanyak tujuh personel Polres Soppeng dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

Di dalam ruang komputer, para pelajar berhadapan dengan dunia yang barangkali beberapa tahun lalu terasa seperti sesuatu yang jauh. Kini, kecerdasan buatan telah hadir di sekitar mereka—menjadi alat bantu belajar, bekerja, berkarya, sekaligus membawa tantangan baru yang tidak sederhana.

Teknologi Bukan Sekadar Kemudahan

Redaksi memandang, pendidikan mengenai AI kepada pelajar bukan semata-mata kegiatan memperkenalkan teknologi baru.

Yang jauh lebih penting ialah membangun kesadaran tentang bagaimana teknologi digunakan.

AI dapat membantu manusia mencari pengetahuan, mengembangkan gagasan dan menyelesaikan berbagai pekerjaan. Namun, teknologi tetaplah alat. Ia tidak boleh mengambil alih nalar, tanggung jawab, kreativitas, dan karakter manusia.

Di sinilah pesan Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto menjadi penting.

Menurutnya, perkembangan teknologi tidak dapat dihindari. Karena itu, generasi muda perlu dipersiapkan agar mampu memahaminya sekaligus menggunakannya dengan penuh tanggung jawab.

“Yang perlu kita bangun bukan rasa takut terhadap teknologi, tetapi kemampuan untuk memahami, mengendalikan dan menggunakannya dengan benar.”

Pernyataan itu bukan sekadar pesan kepada pelajar. Ia juga menjadi pengingat bagi orang tua, guru, pemerintah, dan seluruh masyarakat bahwa kemajuan teknologi membutuhkan kedewasaan moral.

Sebab, semakin canggih sebuah alat, semakin besar pula tanggung jawab manusia dalam menggunakannya.

Jangan Biarkan AI Mematikan Daya Pikir

Ada satu hal yang patut digarisbawahi dari kegiatan tersebut: AI semestinya menjadi alat bantu berpikir, bukan pengganti pikiran.

Kapolres Soppeng menegaskan, para pelajar perlu melihat AI sebagai sarana untuk membantu belajar dan berkembang, bukan sebagai jalan pintas yang menggantikan proses berpikir.

Di tengah budaya serba cepat, pesan itu terasa semakin relevan.

Mencari jawaban dengan mudah bukan berarti memahami persoalan. Mendapatkan tulisan dengan cepat bukan berarti memiliki gagasan. Dan memperoleh informasi bukan berarti telah memiliki pengetahuan.

Karena itu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas dan karakter tetap menjadi fondasi.

Teknologi boleh semakin pintar. Tetapi manusia tidak boleh kehilangan kebijaksanaan.

Di sinilah sekolah memiliki peran yang tidak tergantikan. Sekolah bukan hanya tempat anak-anak memperoleh jawaban, melainkan tempat mereka belajar mengajukan pertanyaan yang benar.

Polisi dan Wajah Pengabdian yang Berubah

Kegiatan edukasi AI tersebut merupakan bagian dari implementasi Program Quick Wins Presisi Triwulan III Tahun 2026, khususnya indikator 9.1 dan 9.2 yang menyasar pelajar SMA, SMK, MA atau sederajat.

Secara kelembagaan, kegiatan itu merupakan bagian dari program kepolisian.

Namun dari perspektif kemanusiaan, maknanya dapat dibaca lebih jauh.

Polisi hadir bukan hanya ketika hukum telah dilanggar. Polisi juga dapat hadir sebelum persoalan itu terjadi—melalui pendidikan, pembinaan, literasi dan pencegahan.

Pendekatan seperti inilah yang semestinya terus dikembangkan.

Sebab menjaga generasi muda bukan hanya persoalan menjaga mereka dari kejahatan di dunia nyata. Pada zaman digital, mereka juga harus dibekali kemampuan untuk mengenali manipulasi informasi, memahami risiko teknologi, menjaga etika, serta menggunakan ruang digital secara bertanggung jawab.

Kehadiran tujuh personel Polres Soppeng di ruang pendidikan, dengan demikian, tidak semata-mata berbicara tentang AI.

Ia berbicara tentang membangun jembatan antara institusi kepolisian dan generasi yang akan mewarisi masa depan.

Mendidik Sebelum Mengadili

Ada nilai kemanusiaan yang patut dirawat dari langkah tersebut: mendidik sebelum mengadili.

Anak-anak muda tidak cukup hanya diberi larangan. Mereka membutuhkan pengetahuan agar memahami alasan di balik sebuah larangan.

Mereka tidak cukup diberi peringatan. Mereka membutuhkan keteladanan.

Dan mereka tidak cukup diajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Mereka juga harus dibimbing memahami untuk apa teknologi itu digunakan.

Dalam perspektif yang lebih dalam, pengetahuan tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Kecerdasan tanpa nurani dapat berubah menjadi alat yang merugikan sesama.

Karena itu, kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan nilai kemanusiaan, tanggung jawab dan moralitas.

Bukankah ilmu pada akhirnya bukan sekadar membuat manusia menjadi lebih tahu, tetapi membuat manusia menjadi lebih bijaksana?

Masa Depan Tidak Hanya Dibangun dengan Mesin

Redaksi Palapa memandang kegiatan edukasi AI di SMA Negeri 2 Soppeng sebagai langkah yang patut diapresiasi, sepanjang terus dikembangkan secara konsisten, terbuka dan terukur.

Generasi muda Soppeng akan hidup dalam dunia yang berbeda dari dunia orang tua mereka.

Mereka akan bekerja dengan mesin yang semakin cerdas, berkomunikasi melalui ruang digital yang semakin luas, dan mengambil keputusan di tengah derasnya arus informasi.

Tetapi masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang mahir menggunakan teknologi.

Masa depan membutuhkan manusia yang mampu membedakan benar dan salah, fakta dan manipulasi, kemudahan dan kemalasan, kebebasan dan tanggung jawab.

Itulah sebabnya pendidikan teknologi harus selalu ditemani pendidikan karakter.

AI boleh membantu manusia menghitung.
AI boleh membantu manusia mencari.
AI boleh membantu manusia mencipta.

Tetapi nurani tetap harus menjadi kompas.

Sebab secanggih apa pun teknologi yang diciptakan manusia, ia tidak pernah boleh menggantikan nilai kemanusiaan yang membuat hidup ini layak diperjuangkan.

Dan mungkin, di sebuah ruang kelas di Soppeng pada pagi 2 September 2026 itu, sebuah pelajaran yang jauh lebih besar sedang dimulai: bahwa masa depan bukan hanya tentang siapa yang paling cepat menguasai teknologi, melainkan tentang siapa yang tetap mampu menggunakan kecerdasannya dengan akal sehat, hati yang jernih, dan tanggung jawab di hadapan Tuhan.

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *