Di Paotere, Solar dan Harapan Kapal Menanti Kepastian Pasokan

KAMTIBMAS23 Dilihat

Keterangan Gambar: Personel Polsek Kawasan Paotere berkoordinasi dengan pengelola SPBB Paotere terkait ketersediaan solar, Sabtu (12/9/2026). (Foto: Dokumentasi Polsek Kawasan Paotere)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

ESSAY PALAPA

Refleksi Nurani di Atas Fakta

Oleh: Waone

SUARA PALAPA, MAKASSAR — Di pelabuhan, waktu memiliki cara sendiri untuk berbicara. Setiap kapal yang menunggu bahan bakar bukan sekadar menanti solar, tetapi menunggu agar roda kehidupan di laut tetap berputar.

Di , kekhawatiran mengenai kemungkinan tersendatnya pasokan solar menjadi perhatian tersendiri. Sebab, bagi kapal-kapal yang menggantungkan perjalanan pada bahan bakar, ketersediaan solar adalah bagian penting dari keberlangsungan aktivitas mereka.

Atas kondisi itu, personel Polsek Kawasan Paotere turun melakukan monitoring dan koordinasi dengan pengelola SPBB Paotere 57.411.01, Sabtu (12/9/2026), sekitar pukul 10.30 WITA.

Langkah tersebut bukan sekadar memastikan berapa banyak solar yang tersedia. Lebih jauh, polisi berupaya membaca kemungkinan dampak yang dapat muncul apabila pasokan terlambat—mulai dari antrean hingga terganggunya aktivitas kapal dan masyarakat di sekitar pelabuhan.

Dari hasil koordinasi, pengelola SPBB Paotere telah mengajukan tambahan pasokan kepada Pertamina. Sebanyak 8 ton solar dijadwalkan dikirim untuk menambah persediaan.

SPBB tersebut memiliki kapasitas penampungan sekitar 16 ton solar dan melayani kebutuhan 117 kapal layar motor (KLM) yang beraktivitas di kawasan Pelabuhan Paotere. Pelayanan pengisian BBM mencakup kapal-kapal yang menggunakan Dermaga 1 hingga Dermaga 10.

Angka-angka itu menunjukkan bahwa persoalan pasokan tidak berdiri sendiri. Di balik kapasitas tangki dan jumlah kapal, ada aktivitas ekonomi masyarakat yang bergerak bersama denyut pelabuhan.

Karena itu, keterlambatan distribusi BBM dapat menghadirkan persoalan berantai. Kapal yang tertahan berarti waktu yang terbuang. Dan bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan dari aktivitas pelabuhan, waktu sering kali memiliki nilai yang tidak kecil.

Kepolisian memilih hadir lebih awal—memantau, berkoordinasi, sekaligus menjaga situasi di sekitar SPBB tetap aman dan tertib.

Pengamanan dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan kepadatan maupun gangguan keamanan selama proses distribusi BBM berlangsung. Polisi juga terus memantau perkembangan pasokan guna membaca perubahan situasi di lapangan.

Hingga monitoring dilakukan, kondisi di kawasan SPBB Paotere dilaporkan aman dan kondusif.

Namun, ketenangan sebuah pelabuhan tidak hanya ditentukan oleh keadaan hari ini. Ia juga membutuhkan kepastian untuk hari esok.

Di antara suara mesin kapal, aroma laut, dan lalu-lalang manusia yang mencari penghidupan, solar menjadi sesuatu yang tampak sederhana tetapi menentukan. Ketika pasokan terjaga, kapal dapat kembali mengarungi perairan. Ketika distribusi tersendat, kehidupan di darat pun dapat ikut merasakan akibatnya.

Maka, koordinasi antara kepolisian, pengelola SPBB dan pihak terkait bukan semata urusan distribusi bahan bakar. Di dalamnya terdapat ikhtiar menjaga agar aktivitas masyarakat tetap berjalan dalam suasana aman dan tertib.

Sebab, menjaga pelabuhan pada akhirnya adalah menjaga denyut kehidupan yang ada di dalamnya.

Dan setiap upaya memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi dengan tertib, adalah ikhtiar kecil untuk merawat amanah—agar laut tetap menjadi jalan penghidupan, bukan ruang yang menunggu kepastian.

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *