Dari Watampone, Firman Jamil Menyeberangi Dunia Lewat Seni

BUDAYA DAN SENI90 Dilihat

Keterangan Gambar: Seniman Firman Jamil di ruang pamer bersama karya yang merefleksikan hubungan seni, kebudayaan, lingkungan, dan perjalanan manusia.

PALAPA MEDIA GROUP Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA | Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Ada perjalanan yang dimulai dari sebuah kota kecil, tetapi tidak pernah benar-benar selesai di sana.

Watampone adalah salah satunya.

Di kota itu, pada awal dekade 1980-an, seorang remaja bernama Firman Jamil duduk di bangku SMA Negeri 156 Watampone. Ia berada di Kelas IPS 5. Di sekolah yang kini dikenal sebagai SMA Negeri 1 Bone itu, ia berjumpa dengan dunia seni lukis melalui gurunya, Andi Youshan.

Barangkali ketika itu tak seorang pun membayangkan ke mana kelak perjalanan seorang siswa itu akan membawanya.

Dari Watampone, Firman melanjutkan pendidikan. Ia belajar seni di IKIP Ujung Pandang. Ia kemudian menjadi guru seni, mengajar di sebuah sekolah di Pondingao, wilayah yang berada di perbatasan Tana Toraja dan Mamasa. Selama satu dasawarsa, 1990–2000, ia bolak-balik antara Somba Opu dan wilayah pengabdiannya itu.

Lalu dunia seni membawanya lebih jauh.

Jepang. Korea Selatan. Australia. Taiwan. Turki. Belanda. Rumania. Kanada. Hungaria.

Bukan sekadar perjalanan geografis. Setiap tempat menjadi semacam halaman baru bagi seorang seniman yang membawa sesuatu dari tanah asalnya: ingatan tentang alam, kebudayaan Bugis, bambu, mitologi, manusia, dan lingkungan.

Firman lahir di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pada 1964. Kini ia bermukim di Makassar. Garland Magazine mencatat perjalanan artistiknya sebagai perjalanan yang banyak bergerak melampaui batas-batas konvensional seni rupa kontemporer Indonesia, terutama melalui seni lingkungan atau environmental art.

Namun ada sesuatu yang menarik dari perjalanan panjang itu.

Semakin jauh Firman pergi, semakin kuat pula jejak tanah asalnya terbawa.

Dari kelas IPS 5

Sebuah perjalanan panjang terkadang memiliki titik awal yang sederhana.

Sebuah ruang kelas.

Sebuah guru.

Sebuah pensil.

Sebidang kertas.

Dan mungkin sebuah dorongan kecil yang pada masa itu belum diketahui akan menjadi jalan hidup.

Pada 1983, Firman Jamil menamatkan pendidikan menengahnya di SMA Negeri 156 Watampone, Kelas IPS 5. Guru seni lukisnya ketika itu adalah Andi Youshan.

Di sekolah itulah salah satu bab penting perjalanan keseniannya berlangsung.

Tahun-tahun kemudian membawa Firman keluar dari Watampone. Tetapi pendidikan seni yang pernah disentuhnya di bangku sekolah tidak berhenti sebagai kenangan. Ia berkembang menjadi pilihan hidup.

Firman kemudian menempuh pendidikan keguruan seni di IKIP Ujung Pandang. Sumber Garland Magazine mencatat bahwa setelah itu ia menjalani pengalaman panjang sebagai guru seni. Pada 1990 hingga 2000, ia mengajar di sebuah sekolah di Pondingao, sebuah wilayah terpencil di perbatasan Tana Toraja dan Mamasa.

Sepuluh tahun adalah waktu yang panjang.

Cukup panjang untuk membuat seseorang mengenal manusia, alam, kesunyian, dan kehidupan dari jarak yang berbeda.

Mungkin dari sanalah sebagian kepekaan artistik Firman menemukan tanahnya.

Somba Opu dan rumah yang menyimpan cerita

Sebelum dunia internasional mengenal karya-karyanya, Firman membangun ruang kreatifnya sendiri di Somba Opu.

Selama sekitar 23 tahun, hingga 2013, ia berkarya di Somba Opu Studio and Gallery. Tempat itu bukan sekadar studio. Ia menjadi bagian dari ekosistem seni di kawasan yang menyimpan lapisan sejarah panjang Sulawesi Selatan.

Di kawasan itu, sejarah Gowa, Makassar, Bugis, dan Sulawesi Selatan seperti bertemu dalam satu lanskap.

Seorang seniman yang tumbuh dari Bone kemudian memilih ruang itu untuk mengembangkan bahasa seninya.

Penyair Afrizal Malna pernah menggambarkan pengalaman memasuki studio Firman sebagai sesuatu yang mengingatkan pada kisah-kisah epik Bugis-Makassar. Catatan tersebut dikutip Garland Magazine dalam tulisan Caitlin Hughes tentang perjalanan seni lingkungan Firman.

Di sana, tradisi tidak ditempatkan sebagai benda museum.

Ia bergerak.

Ia berubah.

Ia berdialog dengan zaman.

Ketika bambu menjadi bahasa

Ada satu benda yang terus muncul dalam perjalanan artistik Firman: bambu.

Bagi sebagian orang, bambu mungkin hanya tanaman.

Bagi seorang seniman, ia dapat menjadi bahasa.

Dalam karya Firman, bambu menjelma menjadi struktur, ruang, simbol, sekaligus penghubung antara manusia dan lingkungan.

Pada 2000, Firman mengikuti 2nd Yokohama International Open Air Art Exhibition di Jepang. Ia menghadirkan Root Ritual, karya yang menggunakan bambu, rumput, akar rumput, padi dan tanaman lain. Bentuknya berpilin seperti spiral, dengan bambu kuning dan sarang burung sebagai bagian dari karya.

Di balik karya tersebut terdapat hubungan dengan kebudayaan Bugis, termasuk kisah To-Manurung dan La Galigo.

Tetapi Firman tidak berhenti pada simbol.

Ia membawa persoalan lingkungan ke dalamnya.

Bambu yang ditebang, habitat burung yang hilang, dan kebutuhan manusia untuk terus mengambil dari alam bertemu dalam satu karya. Firman menyebutnya sebagai pertemuan paradoks, dan dari paradoks itu ia ingin menemukan sesuatu yang dapat menjamin keberlangsungan hidup.

Di sini seni tidak sekadar memanjakan mata.

Ia mengajak manusia berpikir tentang akibat dari tindakannya sendiri.

Dari Jepang ke dunia

Setelah Yokohama, perjalanan Firman semakin jauh.

Garland Magazine mencatat keterlibatannya dalam berbagai kegiatan seni internasional di Jepang dan Korea Selatan, sebuah performance di Byron Bay, Australia, serta pameran berulang di Turki dan Taiwan. Pada dekade 2010-an, perjalanan itu berlanjut ke Belanda, Rumania, Kanada dan Hungaria.

Di Korea Selatan pada 2006, ia menghadirkan Bamboo Tunnel dalam Geumgang Nature Biennale.

Di Taiwan pada 2008, muncul Zero Chimney.

Di Belanda pada 2009, ia membuat Fuel Flue dalam Drenthe International Art in Nature Symposium & Exhibition.

Di Kanada pada 2011, gagasan tersebut berlanjut melalui O2 Chimney.

Karya-karya itu menunjukkan bahwa perjalanan Firman bukan sekadar berpindah negara.

Ia membawa pengalaman dari satu tempat ke tempat lain.

Kemudian mengembalikannya dalam bentuk yang baru.

Bambu dari kebudayaan Asia Tenggara dapat berbicara di Jepang. Bentuk bubu dalam tradisi menangkap ikan Indonesia dapat berubah menjadi Bamboo Tunnel di tengah hutan Korea Selatan. Di Taiwan, tanaman jagung dan bambu dipakai untuk menyampaikan kritik terhadap persoalan produksi energi dan lingkungan.

Seni menjadi semacam jembatan.

Bukan jembatan untuk menghapus perbedaan.

Justru untuk mempertemukan perbedaan tanpa harus menghilangkan identitas asalnya.

Bissu di antara seni dan tafsir

Di titik inilah pembicaraan tentang karya Firman menjadi lebih sensitif.

Bissu merupakan bagian dari sejarah dan kebudayaan Bugis. Karena itu, ketika simbol atau tradisi Bissu dibawa ke ruang seni dan kemudian bertemu dengan pembacaan masyarakat dari latar budaya yang berbeda, selalu ada kemungkinan lahirnya tafsir yang tidak sama.

Hal itu merupakan kenyataan dalam perjalanan kebudayaan.

Namun tafsir tidak seharusnya menghapus konteks.

Bissu tidak cukup dibaca hanya melalui satu kategori sosial modern. Ia perlu ditempatkan dalam sejarah kebudayaan Bugis, dalam struktur tradisi dan ritual yang melatarinya, serta dalam perjalanan masyarakat Bugis sendiri.

Pengalaman semacam ini terasa semakin nyata ketika sebuah simbol budaya dibawa keluar dari tanah asalnya.

Dalam perjalanan ke Belanda, penulis juga pernah berada dalam satu kegiatan seni dengan seorang seniman Amerika yang memiliki perspektif berbeda mengenai identitas dan keberagaman. Dalam percakapan tersebut, Bissu Bugis muncul sebagai salah satu pintu pembicaraan tentang kebudayaan Bugis.

Pengalaman itu menyisakan sebuah pertanyaan.

Ketika sebuah simbol budaya berpindah ruang, apakah makna yang dibawa bersamanya tetap sama?

Pertanyaan itu tidak harus dijawab dengan kemarahan.

Sebab seni, sebagaimana jurnalistik, membutuhkan ruang untuk bertanya.

Yang perlu dijaga adalah batas antara fakta kebudayaan dan tafsir terhadap kebudayaan.

Di sinilah kehati-hatian menjadi penting.

Bissu dapat dibicarakan sebagai bagian dari warisan budaya Bugis tanpa harus menjadikannya pembenaran atau penolakan terhadap identitas kelompok lain.

Menghormati sebuah kebudayaan tidak mengharuskan kita merendahkan kebudayaan atau manusia yang berbeda.

Sebaliknya, menghormati perbedaan juga tidak berarti kita harus kehilangan hak untuk menjelaskan kebudayaan sendiri berdasarkan sejarah dan konteksnya.

Seni yang pulang kepada akar

Ada paradoks dalam perjalanan Firman Jamil.

Ia semakin jauh dari Bone secara geografis, tetapi karya-karyanya justru semakin sering memperlihatkan hubungan dengan akar kebudayaan Sulawesi Selatan.

Bambu.

La Galigo.

To-Manurung.

Laut.

Gelombang.

Lingkungan.

Dan manusia.

Dalam karya 9 Waves, misalnya, gelombang dikaitkan dengan pengalaman orang Bugis menghadapi laut, perjalanan, tantangan, dan kehidupan di berbagai tempat. Garland Magazine mencatat pandangan Firman bahwa gelombang dapat menjadi simbol kekuatan, ketekunan, dan tantangan dalam mengarungi laut maupun kehidupan.

Barangkali itu pula yang menjelaskan perjalanan hidupnya.

Seorang anak Bone yang kemudian menyeberangi batas-batas geografis melalui seni.

Ia tidak berhenti menjadi Bugis karena pergi ke luar negeri.

Justru perjalanan itu membuatnya membawa Bugis ke dalam perjumpaan dengan dunia.

Dari Watampone menuju dunia

Pada akhirnya, kisah Firman Jamil bukan semata kisah seorang seniman yang pernah berpameran di luar negeri.

Ia adalah kisah tentang perjalanan manusia.

Dari bangku Kelas IPS 5 SMA Negeri 156 Watampone pada 1983, dengan seorang guru seni lukis bernama Andi Youshan, menuju pendidikan seni di IKIP Ujung Pandang.

Dari ruang kelas menuju desa di perbatasan.

Dari Somba Opu menuju Yokohama.

Dari Jepang menuju Korea Selatan, Australia, Taiwan, Turki, Belanda, Rumania, Kanada dan Hungaria.

Dan dari setiap perjalanan itu, ia kembali membawa sesuatu: pengalaman.

Karya.

Pertanyaan.

Dan ingatan tentang tanah asal.

Dunia seni memang tidak memiliki pagar setinggi tembok.

Ia justru seperti laut.

Orang boleh berlayar sejauh mungkin, tetapi setiap pelayaran pada akhirnya akan menguji satu pertanyaan yang sama: dari mana kita berangkat?

Firman Jamil berangkat dari Bone.

Ia tumbuh di Watampone.

Ia belajar melihat dunia melalui seni.

Dan ketika karya-karyanya menyeberang ke berbagai negeri, jejak Bugis tidak seluruhnya ia tinggalkan di belakang.

Ia membawanya dalam bambu, dalam alam, dalam ingatan, dalam bentuk, dalam simbol, dan dalam cara memandang hubungan manusia dengan lingkungan.

Mungkin itulah arti sebuah perjalanan seni yang sesungguhnya.

Bukan seberapa jauh seseorang pergi.

Melainkan seberapa banyak ia mampu membawa makna dari tempat asalnya, lalu mempertemukannya dengan dunia tanpa kehilangan akar.

Sebab dunia boleh menjadi luas.

Tetapi manusia tetap membutuhkan akar untuk tahu ke mana ia pulang.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *