Soppeng, Bone dan Wajo Masuk Radar Pembenahan PWI Sulsel

BREAKING NEWS27 Dilihat

Keterangan Gambar:

Ketua PWI Sulawesi Selatan Dr. H. Suwardi Thahir bersama Wakil Ketua PWI Sulsel Bidang Organisasi H. Mappiar dalam kegiatan diskusi dan koordinasi bersama sejumlah pengurus PWI kabupaten/kota di Makassar. PWI Sulsel menaruh perhatian terhadap keberlangsungan kepengurusan organisasi di sejumlah daerah, termasuk Soppeng, Bone dan Wajo. (Foto: Dokumentasi PWI Sulawesi Selatan)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

ESSAY PALAPA
Refleksi Nurani di Atas Fakta

Oleh: Syukur Mariorante Katalawala

SUARA PALAPA, MAKASSAR — Ada masa ketika sebuah organisasi tidak sedang mencari siapa yang salah, melainkan sedang bertanya kepada dirinya sendiri: ke mana rumah besar ini hendak dibawa?

Pertanyaan semacam itu tidak selalu lahir dari kegaduhan. Kadang ia tumbuh justru dari kesunyian, ketika masa kepengurusan berakhir, struktur organisasi memerlukan penataan, dan roda perkumpulan harus tetap berjalan meski sejumlah kursinya belum terisi dengan sempurna.

Di titik itulah pembenahan menjadi sebuah keniscayaan.

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan kini menaruh perhatian terhadap keberlangsungan kepengurusan PWI di sejumlah kabupaten/kota. Soppeng, Bone dan Wajo disebut sebagai daerah yang menjadi perhatian khusus dalam proses pembenahan organisasi tersebut.

Bukan sebuah vonis.

Bukan pula penghakiman.

Melainkan sebuah tanda bahwa rumah besar organisasi wartawan itu sedang melihat kembali fondasi di sejumlah daerah agar kehidupan organisasi tetap berjalan dalam koridor aturan dan mekanisme yang berlaku.

Ketua PWI Sulawesi Selatan, Dr. H. Suwardi Thahir, menegaskan bahwa kegiatan, kebijakan, dan kewenangan organisasi PWI di tingkat kabupaten/kota berada dalam kewenangan serta pembinaan PWI Provinsi Sulawesi Selatan.

Pernyataan itu disampaikan Suwardi di Makassar, Minggu, 23 Agustus 2026, di sela kegiatan diskusi dan koordinasi bersama sejumlah pengurus PWI Sulsel dan PWI kabupaten/kota di Warkop Sami, Panakkukang, Makassar. Ia didampingi Wakil Ketua PWI Sulsel Bidang Organisasi, H. Mappiar.

Suwardi mengatakan, sejumlah kepengurusan PWI kabupaten/kota menjadi perhatian serius, terutama daerah yang masa kepengurusannya telah berakhir.

“Sejumlah kepengurusan PWI di kabupaten menjadi perhatian serius kami, terutama sejumlah kabupaten/kota yang masa kepengurusannya telah berakhir. Kami akan melakukan pembenahan struktur organisasi PWI, terutama yang saat ini mengalami kekosongan,” ujar Suwardi.

Untuk sementara, kepengurusan yang mengalami kekosongan akan ditangani oleh PWI Provinsi Sulawesi Selatan hingga proses pembenahan dan penataan organisasi dapat dilakukan.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi dalam sebuah organisasi profesi, ia menyimpan makna yang tidak sederhana.

Sebab organisasi tidak boleh berhenti hanya karena pergantian waktu. Program kerja tidak boleh kehilangan arah hanya karena masa jabatan berakhir. Dan rumah besar yang dibangun dengan sejarah panjang tidak semestinya dibiarkan kehilangan penghuni yang bertanggung jawab menjaga pintunya.

Ketika Struktur Harus Ditata

Dari sejumlah daerah yang disebut, Wajo menjadi salah satu perhatian penting PWI Sulsel menyusul adanya dinamika internal dalam organisasi.

Wakil Ketua PWI Sulsel Bidang Organisasi, H. Mappiar, menyebut Soppeng, Bone dan Wajo sebagai sejumlah daerah yang saat ini menjadi perhatian khusus.

Untuk Wajo, PWI Sulsel akan menunjuk pelaksana harian agar roda organisasi tetap berjalan sembari menunggu penyelesaian dan penyempurnaan struktur kepengurusan.

“Untuk sementara kepengurusan PWI Wajo akan ditunjuk sebagai pelaksana harian. Langkah ini diambil agar roda organisasi tetap berjalan sambil menunggu penyelesaian dan penyempurnaan struktur kepengurusan,” kata Mappiar.

Penunjukan pelaksana harian, menurutnya, bukan sekadar persoalan administratif. Langkah tersebut dimaksudkan untuk menjaga marwah organisasi sekaligus memastikan program kerja PWI Wajo tidak terhenti.

PWI Sulsel juga akan melakukan evaluasi dan pembinaan agar kepengurusan definitif di Wajo dapat segera terbentuk.

Di sinilah pembenahan seharusnya ditempatkan secara proporsional.

Ia bukan hukuman.

Ia bukan pula stempel kegagalan.

Pembenahan adalah jalan untuk mengembalikan sesuatu kepada tempatnya ketika sebuah organisasi mulai memerlukan penataan.

Dan setiap rumah, sebesar apa pun namanya, pada suatu waktu membutuhkan tangan-tangan yang bersedia memperbaiki atapnya.

Soppeng dalam Rumah Besar PWI

Soppeng disebut bersama Bone dan Wajo dalam perhatian PWI Sulsel.

Bagi Soppeng, kabar itu patut dibaca dengan kepala yang dingin dan hati yang jernih.

Tidak perlu ada kegelisahan yang berlebihan. Tetapi juga tidak semestinya ada sikap menutup mata terhadap dinamika organisasi.

Sebab perhatian dari organisasi tingkat provinsi semestinya dapat dimaknai sebagai momentum untuk melihat kembali perjalanan organisasi secara objektif: apakah struktur telah berjalan sebagaimana mestinya, apakah komunikasi internal tetap terjaga, dan apakah seluruh perangkat organisasi mampu menjalankan fungsi masing-masing dengan baik.

Di sinilah kedewasaan organisasi diuji.

Sebab menjadi bagian dari organisasi profesi wartawan bukan hanya tentang mengenakan identitas kelembagaan. Ada tanggung jawab moral yang ikut melekat di dalamnya.

Wartawan berbicara kepada publik setiap hari melalui berita.

Karena itu, organisasi yang menaungi wartawan pun dituntut memberi contoh bagaimana perbedaan diselesaikan secara bermartabat, bagaimana aturan dihormati, dan bagaimana kepentingan bersama ditempatkan lebih tinggi daripada kepentingan kelompok.

PWI adalah rumah besar.

Dan rumah besar akan selalu memiliki banyak suara.

Ada yang berbeda pendapat. Ada yang berbeda cara pandang. Ada yang memiliki harapan berbeda. Itu semua adalah sesuatu yang manusiawi.

Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan tidak lagi menemukan pintu untuk kembali menjadi persaudaraan.

Muruah Tidak Dibangun dengan Kerasnya Suara

Mappiar mengingatkan seluruh anggota PWI kabupaten/kota agar menjaga kekompakan dan profesionalisme dalam menjalankan tugas jurnalistik.

“PWI itu rumah besar wartawan. Jangan sampai ada perpecahan yang merugikan organisasi dan citra wartawan di mata publik,” tegasnya.

Pesan itu sesungguhnya melampaui persoalan struktur.

Ia berbicara tentang muruah.

Muruah tidak lahir dari kerasnya suara. Ia tumbuh dari keteladanan.

Muruah tidak dibangun dengan memenangkan perdebatan. Ia dibangun dengan kemampuan menahan diri ketika perdebatan mulai kehilangan arah.

Dan muruah organisasi tidak ditentukan oleh siapa yang paling lama bertahan di dalam sebuah ruangan, tetapi oleh siapa yang tetap mampu menjaga kehormatan rumah bersama ketika dirinya tidak lagi menjadi bagian dari pusat perhatian.

Dalam dunia jurnalistik, hal semacam itu menjadi semakin penting.

Sebab wartawan bekerja dengan fakta, tetapi publik juga membaca sikap.

Berita boleh tajam.

Kritik boleh keras.

Perbedaan pendapat boleh disampaikan.

Tetapi semuanya harus tetap memiliki batas: kebenaran, keberimbangan, kepatutan, dan tanggung jawab.

Bukankah tugas pers bukan sekadar menyampaikan apa yang terjadi, tetapi juga membantu masyarakat memahami apa makna dari sebuah peristiwa?

Maka ketika sebuah organisasi wartawan melakukan pembenahan, yang perlu dijaga bukan hanya struktur organisasinya.

Yang lebih penting adalah kepercayaan publik terhadap profesi kewartawanan itu sendiri.

Jalan Pulang Bernama Kebersamaan

Soppeng, Bone dan Wajo kini berada dalam satu bingkai perhatian PWI Sulsel.

Masing-masing tentu memiliki perjalanan, dinamika, dan konteks organisasinya sendiri. Karena itu, tidak adil jika semuanya dibaca dengan ukuran yang sama atau diberi kesimpulan yang belum pernah dinyatakan.

Yang pasti, PWI Sulsel telah menyampaikan arah: kepengurusan yang memerlukan pembenahan akan ditata, daerah yang mengalami kekosongan akan mendapat penanganan, dan roda organisasi harus tetap berjalan.

Pesan itu semestinya tidak dibaca sebagai ancaman.

Ia justru dapat menjadi kesempatan.

Kesempatan untuk merapikan yang kurang rapi.

Memperbaiki yang perlu diperbaiki.

Menyatukan kembali yang sempat berjauhan.

Dan mengingatkan bahwa organisasi profesi bukan milik seseorang, bukan milik kelompok tertentu, melainkan rumah bersama yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pada akhirnya, kepengurusan akan berganti.

Nama-nama akan datang dan pergi.

Jabatan akan memiliki awal dan akhir.

Tetapi nama baik organisasi akan tetap tinggal dalam ingatan publik.

Karena itu, ketika pembenahan mengetuk pintu, barangkali yang paling bijaksana bukan bertanya siapa yang akan kehilangan tempat.

Melainkan bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang dapat kita lakukan agar rumah besar ini tetap berdiri dengan kehormatan yang sama ketika kelak kita tidak lagi berada di dalamnya?

Pertanyaan itu mungkin lebih penting daripada siapa yang menang dalam sebuah perbedaan.

Sebab sejarah organisasi tidak selalu mencatat siapa yang paling keras bersuara.

Sejarah justru lebih sering mengingat mereka yang, ketika keadaan sedang tidak mudah, memilih menjaga persaudaraan, menghormati aturan, dan menyelamatkan marwah rumah bersama.

Dan mungkin, di situlah pembenahan menemukan maknanya.

Bukan untuk meruntuhkan rumah.

Tetapi memastikan rumah itu tetap tegak.

Agar di dalamnya, wartawan masih dapat belajar tentang kebenaran.

Masih dapat berbicara tentang keadilan.

Masih dapat mengabarkan suara mereka yang tidak terdengar.

Dan masih dapat menulis dengan satu keyakinan sederhana:

bahwa profesi kewartawanan pada akhirnya bukan hanya soal kemampuan menyampaikan berita, tetapi tentang keberanian menjaga kebenaran dengan nurani.

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *