ILUSTRASI
PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani
FEATURE PALAPA
Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta
Oleh: Ibnu Sultan
SUARA PALAPA, JAKARTA — Ada nilai yang tidak lekang oleh pergantian zaman. Ia tidak selalu tertulis dengan tinta, tetapi hidup dalam keteladanan. Ia tidak selalu terdengar dalam pidato, tetapi tumbuh dalam kesediaan untuk mengabdi.
Di sanalah kepanduan menemukan jiwanya: pengabdian tanpa pamrih.
Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, pernah menegaskan bahwa kepanduan Indonesia dibangun di atas semangat tersebut. Pesan itu disampaikannya ketika berpidato di hadapan Kongres Kepanduan Dunia di Tokyo, Jepang, pada 1971, melalui pidato bertajuk The Trend in Scouting.
Lebih dari setengah abad kemudian, pesan itu kembali menemukan ruang untuk direnungkan.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengutip kembali gagasan tersebut saat menyampaikan sambutan dalam peluncuran buku Tahta, Darma, dan Karsa: Pemikiran, Karya, dan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, di Auditorium Sukarman Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2026).
Bagi Sri Sultan, pernyataan Hamengku Buwono IX bukan sekadar retorika diplomatik. Di dalamnya terdapat cermin watak kepemimpinan yang dalam kebudayaan Jawa dikenal dengan ungkapan Janma Limpad Seprapat Tamat, sebuah gambaran tentang manusia arif yang mampu memahami keseluruhan persoalan meski baru menangkap sebagian kecil dari yang disampaikan.
“Bukan karena ia tahu segalanya, melainkan karena ketajaman batinnya mampu menangkap keseluruhan dari yang sebagian,” ujar Sri Sultan.
Ketajaman seperti itulah yang tampak dalam perjalanan Hamengku Buwono IX. Ia membaca keadaan bukan hanya dengan pikiran, tetapi juga dengan kepekaan batin. Situasi dipahami secara utuh sebelum keputusan diambil.
Dalam dunia kepanduan, nilai tersebut tetap menemukan relevansinya.
Kepekaan membaca keadaan, menurut Sri Sultan, memungkinkan seseorang bertindak cepat dan tepat. Namun kecepatan tidak boleh berubah menjadi ketergesa-gesaan. Tindakan yang benar lahir dari kejernihan, pertimbangan dan kesediaan untuk sejenak berhenti sebelum menentukan langkah.
“Kecepatan tanpa kejernihan adalah kecerobohan yang dipercepat,” tegasnya.
Kalimat itu terasa seperti nasihat yang melampaui zaman.
Sebab, di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia kerap dipaksa mengambil keputusan sebelum sempat memahami keadaan. Padahal kepemimpinan bukan semata tentang seberapa cepat seseorang bergerak, melainkan seberapa jernih ia mengetahui ke mana harus melangkah dan untuk siapa langkah itu ditujukan.
Di situlah nilai kepanduan menjadi penting.
Sebagai Ketua Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka DIY, Sri Sultan menilai buku Tahta, Darma, dan Karsa merupakan ikhtiar untuk menerjemahkan perjalanan hidup Hamengku Buwono IX menjadi semacam kurikulum moral.
Generasi hari ini mungkin tidak pernah bertemu langsung dengan Bapak Pramuka Indonesia itu. Namun melalui pemikiran, karya dan keteladanannya, mereka masih dapat mengenali cara seorang pemimpin membaca zaman dan menempatkan pengabdian di atas kepentingan pribadi.
“Saya berharap, buku ini menjadi jangkar bagi anggota Gerakan Pramuka di seluruh Indonesia. Bukan untuk mengagumi masa lalu, melainkan untuk menghidupkan nilainya di masa kini,” kata Sri Sultan.
Sebab, lanjutnya, keteladanan yang tidak diteruskan hanya akan menjadi kenangan. Sementara keteladanan yang dihayati dapat tumbuh menjadi peradaban.
Menghidupkan Kembali Nilai
Kegelisahan serupa disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, dalam pidato kuncinya.
Ia menyampaikan rasa syukur atas terbitnya buku tersebut di tengah tantangan kehidupan generasi muda yang dinilai semakin membutuhkan penguatan nilai.
Menurut Abdul Mu’ti, ajaran-ajaran luhur yang diwariskan para tokoh pendiri bangsa tidak boleh berhenti sebagai cerita sejarah. Nilai kebangsaan, nasionalisme dan kecintaan kepada tanah air harus kembali menemukan tempat dalam kehidupan anak-anak Indonesia.
Karena itu, Pramuka dipandang sebagai salah satu sarana penting untuk menanamkan nilai-nilai tersebut.
“Melalui buku ini, saya antusias untuk kita semua bersama-sama membangunkan kembali semangat kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, dengan Pramuka sebagai sarananya,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia juga menyampaikan bahwa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI telah mengambil kebijakan Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib pada seluruh jenjang pendidikan di Indonesia.
Pertimbangannya tidak semata-mata berkaitan dengan kegiatan kepanduan, tetapi juga nilai yang terkandung dalam Dasa Darma Pramuka yang berlandaskan Pancasila.
Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui buku pelajaran. Ia membutuhkan keteladanan, kebiasaan, kedisiplinan, kepedulian dan pengalaman hidup bersama.
Pramuka, dalam konteks itu, bukan sekadar seragam, upacara, perkemahan atau baris-berbaris.
Ia adalah latihan untuk belajar bertanggung jawab ketika tidak ada yang melihat; belajar menolong ketika tidak ada imbalan; dan belajar mencintai tanah air bukan hanya melalui kata-kata, melainkan melalui pengabdian nyata.
Abdul Mu’ti menilai kehadiran buku Tahta, Darma, dan Karsa penting untuk mengingatkan kembali semangat membangun integrasi bangsa.
Peluncurannya pun dinilai memiliki makna tersendiri dalam momentum Hari Pramuka.
Dari Tahta Menuju Darma
Buku Tahta, Darma, dan Karsa ditulis Harto Juwono dan Anis Ilahi Wahdati.
Buku ini bukan biografi dalam pengertian konvensional. Ia merekam sejarah pemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono IX selama dua dekade, 1941–1961, dalam perjuangan membangun Gerakan Pramuka Indonesia.
Dari perjalanan itulah pembaca diajak melihat bahwa kepemimpinan sejati tidak berhenti pada kedudukan.
Tahta adalah amanah. Darma adalah pengabdian. Sedangkan karsa adalah kehendak untuk menghadirkan sesuatu yang lebih baik bagi kehidupan bersama.
Ketiganya bertemu dalam satu nilai yang sederhana, tetapi dalam maknanya: berbuat tanpa menunggu pujian.
Mungkin di situlah warisan terbesar seorang tokoh tidak selalu berupa bangunan, jabatan atau nama yang terukir di batu. Warisan terbesar justru ketika nilai yang ia tanamkan terus hidup dalam diri generasi yang bahkan tidak pernah mengenalnya.
Peluncuran buku tersebut turut dihadiri Kepala Perpustakaan Nasional RI, E. Amunisinya Aziz; Penasehat Khusus Presiden Bidang Keamanan, Ketertiban Masyarakat, dan Reformasi Kepolisian, Letjen Pol (Purn) Ahmad Dofiri; serta Ketua Gerakan Pramuka Kwartir Nasional, Komjen Pol (Purn) Budi Waseso.
Hadir pula Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY, GKR Hayu; Ketua Dewan Pembina Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas, GKR Mangkubumi; serta Ketua Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas, Acep Somantri.
Pada akhirnya, kepanduan bukan hanya tentang bagaimana seorang anak belajar berdiri tegak di lapangan. Ia adalah tentang bagaimana manusia belajar menegakkan dirinya di hadapan tanggung jawab.
Pengabdian tanpa pamrih mungkin terdengar sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah sebuah bangsa dapat menemukan kekuatannya.
Sebab ketika seseorang memilih berbuat baik tanpa menghitung apa yang akan diterimanya, sesungguhnya ia sedang menanam sesuatu yang jauh lebih panjang umurnya daripada dirinya sendiri.
Dan mungkin, di sanalah makna terdalam kepanduan: mengabdi dengan tulus, menjaga amanah, lalu menyerahkan jejak kebaikan itu kepada generasi berikutnya, sebagai bagian dari ikhtiar manusia menjalankan amanah Tuhan di bumi.









