Keterangan Gambar:
Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H. saat menyerahkan cenderamata secara simbolis dalam suasana khidmat Lailatul Ijtima’ PCNU Soppeng. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)
PALAPA MEDIA GROUP — Berani Bersikap Tegas dalam Nurani
EDITORIAL PALAPA
Suara Nurani Redaksi
SUARA PALAPA, SOPPENG — Ketika sunyi malam pelan-pelan merayap di bumi Soppeng, di bawah pendar kehangatan Masjid Pondok Pesantren Tarekat NU Sering, Kecamatan Lalabata, gema doa dan zikir mengalun membentang ketenangan. Kamis malam, 20 Agustus 2026, bukan sekadar riyadhah rutin bagi warga Nahdliyin, melainkan sebuah ruang perjumpaan batin antara pengayom negeri dan penjaga syariat: Lailatul Ijtima’ PCNU Kabupaten Soppeng.
Di tengah keheningan yang khusyuk, langkah Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H. bersama jajaran Pejabat Utama Polres Soppeng hadir bukan sekadar menunaikan agenda protokoler. Kehadiran umara di tengah para ulama malam itu adalah penegasan bahwa keamanan sebuah daerah tak hanya dibangun di atas ketegasan hukum formal, melainkan juga disemaikan lewat ketundukan jiwa dan doa-doa tawadhu para ahli hikmah.
Lailatul Ijtima’, malam perjumpaan spiritual ke-NU-an, menjadi oase di mana batas-batas kelembagaan mencair. Di ruangan yang sarat aura keberkahan itu, kepolisian dan ulama duduk bersanding, saling menyimak, dan bertukar pikiran dengan hati yang lapang.
“Silaturahmi seperti ini adalah ruang untuk saling mendengar, menuntun pandangan, dan menguatkan kebersamaan. Kepolisian sejatinya amat merindukan dan membutuhkan keteladanan serta nasihat para ulama demi merawat harmoni di tengah masyarakat,” tutur AKBP Hari Budiyanto, menyuarakan kerendahan hati seorang pemimpin.
Bagi Editorial Palapa, perjumpaan spiritual ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Ada pilar-pilar peradaban yang sedang ditegakkan di Soppeng. Ulama, dengan kedalaman keteladanan dan kejernihan petuahnya, adalah benteng moral yang senantiasa memercikkan kedamaian. Ketika dawuh ulama berpadu dengan kewenangan umara, persoalan sosial tak lagi diselesaikan dengan kekuatan jemari, melainkan dengan kebijaksanaan nurani.
Semangat ini berkelindan erat dengan ruh Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah yang senantiasa menuntun langkah warga NU. Kerangka paham ini bertumpu kokoh pada pilar-pilar keilmuan Islam yang luhur:
Fiqih (Syariat):
Berpegang teguh pada empat madzhab agung, Hanafi, Maliki, Syafii (mayoritas yang membumi di nusantara), serta Hambali.
Aqidah (Teologi):
Melanjutkan kejernihan akal dan hati ala Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.
Tasawuf (Akhlak):
Menatap kebersihan jiwa lewat keteladanan spiritual Imam al-Junaid al-Baghdadi dan Hujjatul Islam Imam al-Ghazali.
Dari mata air keilmuan inilah terpancar empat sikap kemasyarakatan yang menyejukkan: Tawassuth (sikap moderat yang menjauhi ekstremitas), Tawazun (keseimbangan antara akal, wahyu, dan dinamika zaman), I’tidal (sikap tegak lurus mengawal keadilan), serta Tasamuh (tenggang rasa dan keikhlasan menghargai perbedaan).
Pada akhirnya, keamanan dan kedamaian Soppeng bukan sekadar angka-angka statistik kepolisian, melainkan untaian sejadah yang membentang dari sinergi kepolisian dan doa para kyai. Menjaga ketertiban adalah ikhtiar kolektif, sebuah amanah bersama tempat nurani kemanusiaan dan keagamaan saling bertaut.
Dari keheningan Lailatul Ijtima’ malam itu, Soppeng mengirimkan pesan puitis namun tegas kepada kita semua:
bahwa negeri yang kokoh adalah negeri yang dinaungi ketegasan hukum, dan disiram oleh kebenaran zikir serta keteladanan para penyebar kasih sayang.












