Maulid, Silaturahmi, dan Wajah Polisi yang Dekat dengan Warga

EDITORIAL23 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., menyampaikan sambutan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Masjid At Taqwa Aspol Soppeng, Kamis (27/8/2026). Momentum tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus pesan tentang pentingnya keteladanan, komunikasi dan kebersamaan dalam menjaga keamanan lingkungan. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

EDITORIAL PALAPA – Suara Nurani Redaksi

SUARA PALAPA, SOPPENG — Di dalam rumah ibadah, suara manusia seharusnya belajar menjadi lebih rendah. Di sana, jabatan semestinya tidak meninggi, sementara hati justru diajak merendah di hadapan kebesaran Allah SWT.

Kamis, 27 Agustus 2026, Masjid At Taqwa Aspol Soppeng menjadi ruang perjumpaan itu. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah bukan hanya menghadirkan keluarga besar Polri dan masyarakat sekitar, tetapi juga menjadi kesempatan bagi Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., untuk memperkenalkan diri sekaligus membangun silaturahmi dengan warga.

Bagi Redaksi, peristiwa sederhana semacam ini patut diberi makna lebih dari sekadar agenda seremonial.

Sebab, seorang Kapolres tidak hanya bekerja di balik meja, di ruang penyidikan, di jalan-jalan ketika patroli berlangsung, atau ketika hukum harus ditegakkan. Polisi juga dituntut hadir dalam ruang-ruang sosial tempat masyarakat membangun kepercayaan.

Dan kepercayaan tidak lahir dari seragam semata.

Ia tumbuh dari perjumpaan.

Ia dirawat melalui komunikasi.

Ia menjadi kuat ketika masyarakat merasa bahwa aparat keamanan bukan sesuatu yang jauh dan menakutkan, melainkan bagian dari kehidupan bersama.

AKBP Hari Budiyanto sendiri merupakan Kapolres baru di Soppeng. Ia sebelumnya menjabat Kapolres Enrekang sebelum mendapat amanah memimpin Polres Soppeng.

Karena itu, langkah membangun komunikasi sejak awal kepemimpinannya memiliki arti penting.

Soppeng bukan sekadar wilayah hukum. Ia adalah rumah bagi manusia dengan latar belakang, harapan, persoalan dan karakter sosial yang beragam.

Menjaga keamanan di dalamnya tidak cukup hanya dengan pendekatan penegakan hukum. Ada pendekatan kemanusiaan yang tidak kalah penting: mendengar sebelum menilai, berdialog sebelum mengambil kesimpulan, dan mengedepankan musyawarah sebelum persoalan berkembang menjadi konflik.

Di sinilah pesan Maulid Nabi Muhammad SAW menemukan relevansinya.

Rasulullah SAW tidak hanya dikenang karena keteguhan beliau dalam menyampaikan kebenaran, tetapi juga karena akhlak, kejujuran, amanah, kasih sayang dan kemampuan membangun persaudaraan di tengah masyarakat.

Nilai-nilai itulah yang semestinya tidak berhenti di mimbar masjid.

Ia harus turun ke jalan.

Masuk ke kantor-kantor pelayanan.

Hadir di tengah warga.

Dan, bagi institusi kepolisian, tercermin dalam cara aparat memperlakukan masyarakat yang datang membawa persoalan.

Kapolres Soppeng dalam sambutannya mengingatkan bahwa keamanan bukan semata-mata tanggung jawab Kepolisian. Masyarakat juga memiliki peran untuk menjaga komunikasi, kepedulian dan kebersamaan serta tidak mudah terprovokasi.

Pesan tersebut sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar.

Keamanan adalah kerja bersama.

Polisi memiliki kewenangan dan tanggung jawab berdasarkan hukum. Masyarakat memiliki kewajiban menjaga ketertiban dan menghormati hukum. Pemerintah memiliki tanggung jawab menghadirkan kebijakan dan pelayanan yang memberikan rasa adil.

Ketiganya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.

Sebab keamanan yang hanya dibangun dengan kekuatan aparat akan mudah kehilangan akar sosialnya. Sebaliknya, masyarakat tanpa kehadiran negara juga dapat kehilangan tempat untuk mencari perlindungan ketika hukum dan ketertiban terganggu.

Karena itu, silaturahmi bukanlah perkara kecil.

Ia adalah jembatan.

Dan dalam konteks kepemimpinan seorang Kapolres, jembatan itu perlu dibangun jauh sebelum masyarakat datang membawa persoalan.

Redaksi Palapa berpandangan, wajah kepolisian yang paling dekat dengan rakyat bukanlah wajah yang hanya terlihat ketika terjadi kejahatan. Wajah itu justru tampak ketika polisi hadir sebelum persoalan membesar, ketika menyapa warga, mendengarkan keluhan, membangun komunikasi dan menjaga ruang dialog tetap terbuka.

Itulah makna kehadiran negara yang dirasakan secara manusiawi.

Maulid di Masjid At Taqwa Aspol Soppeng akhirnya memberi kita satu pelajaran sederhana: penegakan hukum membutuhkan kewibawaan, tetapi kewibawaan akan lebih bermakna ketika berjalan bersama keteladanan dan kedekatan dengan masyarakat.

AKBP Hari Budiyanto tentu masih berada pada awal perjalanan kepemimpinannya di Soppeng. Karena itu, masyarakat berhak berharap bahwa pesan-pesan tentang silaturahmi, komunikasi, pelayanan dan keteladanan tidak berhenti sebagai kata-kata dalam sebuah sambutan.

Ia harus menjelma menjadi kebiasaan.

Menjadi budaya kerja.

Menjadi wajah pelayanan.

Dan pada akhirnya, menjadi rasa aman yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.

Sebab seorang polisi mungkin dapat membuat masyarakat tunduk kepada hukum dengan kewenangannya.

Tetapi polisi yang dekat dengan rakyat dapat membuat masyarakat percaya kepada hukum karena merasakan keadilan dan kemanusiaan di dalamnya.

Di situlah sesungguhnya nilai sebuah silaturahmi.

Dan di situlah pula, bagi Redaksi Palapa, pesan Maulid menemukan maknanya yang paling dalam: keteladanan tidak cukup untuk dikenang; ia harus dihidupkan.

Redaksi Palapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *