Ketika Teknologi Makin Cerdas, Nurani Tak Boleh Tertinggal

EDITORIAL18 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kabag SDM Polres Soppeng Kompol Sulaeman Abu menyampaikan edukasi pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kepada siswa SMK Negeri 1 Soppeng. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada pelajar mengenai pemanfaatan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab. (Foto Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

EDITORIAL PALAPA
Suara Redaksi untuk Kepentingan Publik

SUARA PALAPA, SOPPENG — Teknologi tidak pernah meminta izin kepada manusia untuk berkembang.

Ia datang, tumbuh, lalu mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan menjalani kehidupan. Kecepatannya bahkan kerap melampaui kemampuan manusia untuk memahami seluruh konsekuensinya.

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) adalah salah satu wajah paling nyata dari perubahan tersebut.

AI bukan lagi cerita tentang masa depan. Ia telah hadir di ruang kelas, di meja belajar, di layar telepon genggam, dan di tangan generasi muda yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia yang belum sepenuhnya kita kenali.

Karena itu, ketika Polres Soppeng memberikan edukasi mengenai AI kepada siswa SMK Negeri 1 Soppeng, Rabu, 26 Agustus 2026, Palapa melihatnya bukan semata-mata sebagai sebuah kegiatan kepolisian di lingkungan sekolah.

Ada pesan yang lebih besar di baliknya.

Generasi muda harus dipersiapkan bukan hanya untuk mengenal teknologi, tetapi juga untuk memiliki kendali moral ketika menggunakannya.

Teknologi Bukan Pengganti Nurani

AI dapat membantu manusia belajar. Ia dapat mempercepat pekerjaan, membuka akses pengetahuan, dan membantu melahirkan gagasan.

Tetapi AI tidak boleh mengambil alih tanggung jawab manusia.

Sebuah teknologi mungkin mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik. Namun, ia tidak otomatis mampu menentukan apakah jawaban itu benar secara moral, pantas digunakan, atau dapat merugikan orang lain.

Dalam dunia senjata dikenal ungkapan “the man behind the gun”, manusia di balik senjata. Senjata hanyalah alat. Arah penggunaannya tetap ditentukan oleh manusia yang berada di belakangnya.

Prinsip yang sama, dalam konteks yang berbeda, berlaku terhadap teknologi.

Bukan kecanggihan AI yang menentukan apakah ia membawa manfaat atau mudarat. Manusialah yang berada di belakang teknologi itu yang menentukan ke mana kecanggihan tersebut diarahkan.

Karena itu, semakin cerdas sebuah teknologi, semakin besar pula tuntutan agar manusia yang menggunakannya memiliki akal sehat, tanggung jawab, etika, dan nurani.

Di sinilah pendidikan teknologi harus menemukan pijakannya.

Polres Soppeng melalui kegiatan tersebut memberikan pemahaman kepada siswa kelas X dan XI mengenai perkembangan serta pemanfaatan AI dalam kehidupan sehari-hari. Para siswa juga diarahkan agar menggunakan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab.

Bagi Palapa, langkah seperti ini patut diapresiasi bukan semata-mata karena siapa yang menyelenggarakannya, melainkan karena substansi yang dibawanya menyentuh kebutuhan generasi muda hari ini.

Teknologi harus diajarkan bersama etika.

Kecerdasan digital harus berjalan bersama kecerdasan moral.

Sebab manusia yang menguasai teknologi tanpa pengendalian diri dapat menggunakan kecerdasannya untuk sesuatu yang justru merugikan manusia lainnya.

Anak Muda dan Dunia yang Berubah

Kita sedang menyaksikan perubahan besar.

Anak-anak sekolah hari ini akan memasuki dunia kerja yang mungkin berbeda jauh dari dunia yang dikenal orang tua mereka. Banyak pekerjaan berubah. Cara belajar berubah. Cara berkomunikasi berubah. Bahkan cara manusia memperoleh dan menghasilkan pengetahuan pun berubah.

Maka pendidikan tidak boleh berhenti pada pertanyaan:

“Apakah anak-anak kita mampu menggunakan teknologi?”

Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

“Apakah anak-anak kita mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan nilai kemanusiaannya?”

Inilah pekerjaan besar keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan seluruh institusi yang bersentuhan dengan kehidupan generasi muda.

Polisi pun dapat mengambil bagian di dalamnya.

Kehadiran kepolisian di sekolah tidak harus selalu dipahami dalam kerangka keamanan dan ketertiban. Di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks, komunikasi dan edukasi juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang sadar hukum, sadar teknologi, dan sadar tanggung jawab.

Kegiatan edukasi AI di SMK Negeri 1 Soppeng merupakan bagian dari tindak lanjut implementasi Program Quick Wins Presisi Triwulan III Tahun 2026, khususnya Indikator 9.1 dan 9.2.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa isu teknologi telah masuk ke dalam ruang pelayanan publik dan menjadi bagian dari perhatian terhadap kehidupan generasi muda.

Namun, Palapa berpandangan, edukasi semacam ini tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Ia harus berkelanjutan.

Sebab perubahan teknologi tidak berhenti pada satu kegiatan, satu ruang kelas, atau satu generasi.

Jangan Biarkan Anak-Anak Kita Hanya Menjadi Pengguna

Ada kecenderungan dalam masyarakat digital bahwa anak-anak didorong menjadi konsumen teknologi.

Mereka diajarkan cara menggunakan aplikasi, tetapi belum tentu diajarkan bagaimana mempertanyakan informasi.

Mereka diajarkan cara memperoleh jawaban, tetapi belum tentu diajarkan bagaimana menguji kebenarannya.

Mereka diberikan teknologi yang semakin pintar, tetapi belum tentu dibekali kebijaksanaan untuk menggunakannya.

Di sinilah kita harus berhati-hati.

AI seharusnya menjadi alat yang memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya.

Anak-anak kita harus tetap membaca. Tetap berpikir. Tetap berdiskusi. Tetap bertanya. Tetap belajar dari kesalahan dan memperbaikinya.

Jangan sampai kemudahan teknologi justru membuat manusia kehilangan kebiasaan berpikir.

Sebab pendidikan bukan sekadar menghasilkan manusia yang mampu menjawab pertanyaan.

Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu memahami mengapa sebuah jawaban harus dipilih dan apa akibat dari pilihan tersebut.

Apresiasi Harus Diikuti Konsistensi

Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto menyampaikan bahwa para pelajar tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka juga perlu memahami batasan, risiko, dan tanggung jawab dalam penggunaannya.

Pandangan itu sejalan dengan kebutuhan zaman.

Palapa memandang, pesan tersebut akan jauh lebih bermakna apabila diterjemahkan ke dalam edukasi yang konsisten dan terukur.

Sekolah membutuhkan pendampingan.

Guru membutuhkan penguatan kapasitas.

Orang tua membutuhkan pemahaman.

Dan siswa membutuhkan ruang untuk bertanya tanpa merasa dihakimi.

Sebab ancaman terbesar di era digital bukan semata-mata teknologi yang semakin cerdas.

Ancaman yang lebih besar adalah ketika manusia kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang benar, mana yang salah, mana yang bermanfaat, dan mana yang harus ditinggalkan.

Pada Akhirnya, Manusia Tetap Menjadi Penentu

Kita tidak mungkin menghentikan kemajuan teknologi.

Dan memang tidak perlu.

Yang harus dilakukan adalah memastikan kemajuan itu tetap berada dalam kendali nilai-nilai kemanusiaan.

AI boleh semakin pintar.

Mesin boleh semakin cepat.

Algoritma boleh semakin canggih.

Tetapi manusia tidak boleh kehilangan akal sehat, tanggung jawab, empati, dan nurani.

Sebab sebesar apa pun kemajuan teknologi, ia tetap hanya sebuah alat.

Seperti senjata yang berada di tangan manusia, teknologi pun memiliki arah sesuai dengan siapa yang menggunakannya dan untuk tujuan apa ia digunakan.

The man behind the gun.

Manusia di balik senjata.

Dan dalam dunia yang semakin digital, kita dapat menarik makna yang lebih luas:

the human behind the technology.

Manusia di balik teknologi.

Di sanalah letak persoalan yang sesungguhnya.

Bukan apakah AI akan semakin cerdas. Kita sudah tahu jawabannya.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah manusia akan menjadi semakin bijaksana seiring dengan semakin cerdasnya teknologi?

Maka kepada anak-anak muda di ruang-ruang kelas itu, sesungguhnya kita sedang menitipkan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar cara menggunakan AI:

Belajarlah menjadi manusia sebelum menjadi pengguna teknologi.

Gunakan kecerdasan buatan untuk memperluas pengetahuan, tetapi jangan serahkan kecerdasan nurani kepadanya.

Gunakan teknologi untuk membangun masa depan, tetapi jangan biarkan teknologi menentukan nilai diri kita.

Sebab pada akhirnya, peradaban tidak akan diukur hanya dari seberapa canggih teknologi yang berhasil diciptakan manusia.

Peradaban akan dikenang dari seberapa bijak manusia menggunakan kecerdasannya untuk menjaga sesama.

Di sanalah teknologi bertemu dengan tanggung jawab.

Di sanalah kecerdasan bertemu dengan kebijaksanaan.

Dan di sanalah, pada akhirnya, nurani harus tetap menjadi cahaya.

Teknologi boleh semakin cerdas.
Tetapi manusia di belakangnya harus tetap lebih bijaksana.

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *