Ketika Golkar Soppeng Diuji: Kaswadi, Suwardi, dan Bayang-Bayang Selle

Politik302 Dilihat

ILUSTRASI

Keterangan gambar:

Dinamika menjelang Musda DPD II Partai Golkar Soppeng mulai menghangat. Sejumlah nama kader potensial disebut dalam bursa kepemimpinan, sementara arah politik partai masih menunggu forum Musda. (Ilustrasi Palapa Media Group)

PALAPA MEDIA GROUP
Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA
Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Alimuddin
Pemimpin Redaksi Palapa Media Group

SUARA PALAPA, SOPPENG — Politik, pada akhirnya, bukan hanya tentang siapa yang berdiri paling depan. Ia juga tentang siapa yang mampu menjaga rumah besar tetap berdiri ketika banyak tangan mulai mengetuk pintunya.

Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kabupaten Soppeng 2026, percakapan mengenai siapa yang akan memimpin DPD II Partai Golkar Soppeng periode 2026–2031 mulai menghangat.

Nama H. Andi Kaswadi Razak dan H. Suwardi Haseng menjadi dua figur yang paling banyak disebut dalam dinamika tersebut. Keduanya bukan nama yang muncul tiba-tiba. Keduanya memiliki sejarah panjang dalam perjalanan politik Soppeng dan Partai Golkar.

Namun, di antara dua nama besar itu, terdapat pula satu nama yang menarik untuk dibaca dalam perspektif politik yang lebih luas: Ir. Selle KS Dalle, Wakil Bupati Soppeng.

Bukan sebagai kesimpulan. Bukan pula sebagai kepastian.

Melainkan sebagai sebuah kemungkinan politik yang dapat muncul ketika sebuah partai sedang mencari jalan terbaik bagi kesinambungan kepemimpinannya.

Dua Nama, Dua Jejak

Andi Kaswadi Razak memiliki modal politik yang tidak ringan.

Ia merupakan Ketua DPD II Partai Golkar Soppeng saat ini, pernah memimpin Kabupaten Soppeng selama dua periode, dan memiliki pengalaman panjang di lembaga legislatif. Rekam jejak tersebut membuat posisinya tetap kuat dalam percaturan internal partai.

Di bawah kepemimpinannya, Partai Golkar Soppeng mampu mempertahankan eksistensi politiknya dengan menempatkan kader-kadernya pada posisi strategis, termasuk di DPRD dan pemerintahan daerah.

Bagi kader partai, pengalaman panjang semacam itu bukan sekadar catatan administratif. Ia adalah modal kepercayaan.

Kaswadi juga dikenal memiliki jaringan sosial-politik yang luas. Kemampuan merangkul berbagai kelompok menjadi salah satu kekuatan yang membuat namanya tetap diperhitungkan.

Namun politik tidak pernah berhenti pada masa lalu.

Setiap Musda selalu membawa pertanyaan baru: apakah pengalaman harus dilanjutkan, ataukah estafet kepemimpinan perlu diberikan kepada generasi dan figur berikutnya?

Di titik inilah nama Suwardi Haseng memperoleh ruang.

Suwardi dan Arus Perubahan

Suwardi Haseng juga bukan pendatang baru dalam politik Golkar Soppeng.

Ia pernah beberapa kali dipercaya sebagai anggota DPRD Kabupaten Soppeng, kemudian terpilih sebagai anggota DPRD Sulawesi Selatan periode 2019–2024 dengan perolehan suara yang sangat signifikan. Kini, ia dipercaya memimpin Kabupaten Soppeng sebagai Bupati bersama Wakil Bupati Ir. Selle KS Dalle.

Di internal Golkar Sulawesi Selatan, Suwardi juga memiliki posisi strategis sebagai Wakil Ketua I DPD Partai Golkar Sulsel.

Dengan modal politik tersebut, wajar apabila namanya ikut diperhitungkan dalam percakapan mengenai masa depan Golkar Soppeng.

Sejumlah pemberitaan sebelumnya bahkan telah menempatkan Suwardi sebagai salah satu figur yang berpotensi masuk bursa Ketua DPD II Golkar Soppeng. Namun, sampai Musda benar-benar berlangsung dan keputusan organisasi ditetapkan, seluruh kemungkinan tersebut tetap berada dalam wilayah dinamika politik, bukan keputusan final.

Di sinilah demokrasi internal partai menemukan maknanya.

Persaingan, apabila berlangsung sehat dan mengikuti aturan organisasi, bukanlah ancaman. Justru ia dapat menjadi tanda bahwa sebuah partai masih memiliki banyak kader yang memiliki kapasitas untuk memimpin.

Ketika Persaingan Menjadi Kekayaan

Kaswadi versus Suwardi, jika benar-benar berhadapan dalam arena Musda, tidak semestinya dibaca semata sebagai pertarungan dua kepentingan.

Ia dapat menjadi cermin bahwa Golkar Soppeng tidak sedang mengalami kekeringan kepemimpinan.

Sebaliknya, partai memiliki sejumlah figur dengan pengalaman, jaringan, rekam jejak dan basis dukungan yang dapat diperhitungkan.

Dalam politik, memiliki banyak kader potensial adalah kekayaan.

Yang menjadi persoalan bukan siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling mampu mengubah kekuatan itu menjadi persatuan.

Sebab setelah Musda selesai, mereka tetap akan berada di rumah yang sama.

Dan rumah politik yang besar tidak akan bertahan hanya karena seorang pemimpin menang. Ia bertahan karena mereka yang kalah masih bersedia menjaga rumah itu bersama-sama.

Bayang-Bayang Selle

Di tengah dinamika tersebut, nama Selle KS Dalle menarik ditempatkan sebagai kemungkinan alternatif.

Sebagai Wakil Bupati Soppeng, Selle berada pada posisi yang memiliki akses politik dan pemerintahan yang strategis. Namun, tidak ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa ia telah dipastikan akan maju atau menjadi pilihan tertentu dalam Musda Golkar Soppeng.

Karena itu, membicarakan Selle lebih tepat ditempatkan sebagai pembacaan terhadap kemungkinan politik, bukan pemberitaan tentang keputusan yang telah terjadi.

Politik mengenal ruang yang disebut kompromi.

Dalam situasi tertentu, partai dapat memilih pertarungan terbuka. Dalam situasi lain, konsensus dapat menjadi jalan yang lebih dianggap mampu menjaga soliditas.

Pengalaman dinamika Musda Golkar Sulawesi Selatan juga menunjukkan bahwa kepemimpinan partai dapat melalui proses konsolidasi dan pencarian titik temu. Dalam proses sebelumnya, pimpinan Golkar Sulsel menyampaikan harapan agar Musda menghasilkan ketua secara aklamasi.

Maka, bukan sesuatu yang berlebihan jika kemungkinan konsensus juga dibaca sebagai salah satu jalan dalam dinamika Golkar Soppeng.

Tetapi sekali lagi, keputusan tetap berada pada mekanisme organisasi.

Jangan Biarkan Beringin Kehilangan Akarnya

Musda bukan sekadar pergantian ketua.

Ia adalah momentum untuk menentukan arah perjalanan sebuah organisasi politik selama lima tahun ke depan.

Karena itu, siapa pun yang kelak dipercaya memimpin Golkar Soppeng harus mampu menjawab persoalan yang lebih besar daripada sekadar memenangkan kontestasi internal.

Ia harus mampu merawat kader.

Menyatukan perbedaan.

Menjaga marwah partai.

Dan yang paling penting, memastikan bahwa kekuasaan politik tidak menjauh dari kepentingan masyarakat.

Sebab politik tanpa rakyat hanya akan menjadi permainan elite.

Jabatan tanpa amanah hanya akan menjadi nama yang tertulis dalam sejarah.

Dan kepemimpinan tanpa nurani akan kehilangan alasan mengapa ia harus dihormati.

Pada akhirnya, Musda Golkar Soppeng akan menentukan satu nama untuk berdiri di depan.

Tetapi sejarah akan menilai lebih jauh dari sekadar nama.

Sejarah akan bertanya: apakah kemenangan itu mampu melahirkan persatuan?

Sebab dalam politik, menang bukanlah akhir dari perjalanan.

Ia justru awal dari tanggung jawab.

Dan bagi Golkar Soppeng, beringin hanya akan tetap rindang apabila akarnya tidak saling mencengkeram, melainkan bersama-sama mencengkeram tanah untuk menjaga pohon tetap tegak.

Di sanalah kepemimpinan menemukan maknanya: bukan tentang siapa yang paling tinggi berdiri, tetapi siapa yang paling kuat menjaga amanah.

PALAPA MEDIA GROUP (PMG)/Alimuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *