Ardi Bola: Jejak Kaki, Nurani, dan Bekal Menuju Keabadian

OPINI145 Dilihat

Ilustrasi

Oleh: Alimuddin — Pemred Palapa Media Group

Ada manusia yang dikenang bukan semata karena jabatan, harta, atau gemerlap dunia yang pernah ia miliki, melainkan karena jejak-jejak kecil yang ditinggalkannya di hati banyak orang. Jejak itu kadang lahir dari lapangan tanah tempat bola bergulir, dari peluh yang menetes di masa muda, atau dari kalimat sederhana yang menyejukkan jiwa di usia senja.

Suardi adalah salah satunya.

Bagi alumni SMA Negeri 156 Watampone angkatan 1983, nama itu mungkin terdengar formal. Namun begitu menyebut “Ardi Bola,” ingatan kolektif seketika hidup kembali, membuka lembaran masa ketika semangat muda berlari tanpa lelah, ketika sorak penonton menjadi musik kemenangan, dan ketika cita-cita terasa begitu dekat untuk digapai.

Pada masa SMA, sekitar tahun ajaran 1980/1981 hingga 1982/1983, Suardi dikenal luas dengan julukan Ardi Bola. Julukan itu bukan hadir tanpa alasan. Meski postur tubuhnya tidak tergolong besar, ia memiliki fisik yang atletis, lincah, dan penuh energi.

Saat kakinya menyentuh bola, ada sesuatu yang berbeda.

Ia bukan sekadar pemain. Ia adalah pengatur irama permainan. Umpan-umpannya terukur, visi bermainnya tajam, dan insting mencetak golnya sering kali menjadi penentu kemenangan tim almamater. Dalam berbagai pertandingan sepak bola antar-SLTA menjelang momentum Hari Besar Nasional kala itu, Ardi kerap menjadi pusat perhatian. Penonton terpukau menyaksikan bagaimana ia membelah pertahanan lawan, mengalirkan bola dengan presisi, lalu menghadirkan gol yang mengundang sorak kemenangan.

Namun rupanya bakat Ardi tidak berhenti di lapangan sepak bola.

Di arena sepak takraw, ia juga mampu memukau. Smash-smash kerasnya meluncur seperti anak panah, sulit dibendung lawan. Penonton kembali dibuat kagum. Kelincahan, fokus, dan daya juangnya menjadikan Ardi sosok yang disegani, baik sebagai kawan maupun lawan.

Empat dekade telah berlalu.

Waktu memang telah menua, rambut mungkin mulai memutih, langkah tak lagi secepat dulu. Tetapi ada hal yang tidak dimakan zaman: kenangan dan reputasi. Sampai hari ini, julukan Ardi Bola masih melekat erat. Sebuah penanda bahwa jejak masa muda yang tulus akan selalu hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah menyaksikannya.

Penulis memang jarang bertemu langsung dengannya. Namun kedekatan tidak selalu menuntut tatap muka. Kadang, ruang digital justru menjadi jembatan silaturahmi yang tak kalah hangat.

Sebagai sesama alumni SMA Negeri 156 Watampone angkatan 1983, yang akrab disebut Smabo 83, interaksi tetap terjalin melalui grup WhatsApp alumni. Grup itu bukan sekadar ruang percakapan biasa. Ia telah menjadi ruang nostalgia, ruang berbagi, ruang saling menguatkan, dan kadang menjadi obat rindu untuk masa remaja yang tak mungkin kembali.

Di grup itulah Ardi dipercaya menjadi koordinator alumni setelah Ketua Smabo 83, H. Asnawi Badwi, S.H., M.H. sejak Reuni Akbar tahun 2016. Amanah itu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Kepercayaan biasanya lahir dari konsistensi karakter.

Dan Ardi memilikinya.

Kini, di usia yang tak lagi muda, Ardi tampak lebih banyak mengisi hidup dengan aktivitas yang menyehatkan jasmani dan menenangkan rohani. Ia gemar bersepeda lintas daerah, sendiri maupun bersama komunitas pesepeda. Mengayuh sepeda tanpa mesin seakan menjadi metafora hidupnya: bergerak dengan tenaga sendiri, sabar menempuh jarak, dan menikmati perjalanan tanpa tergesa.

Lebih dari itu, yang paling menonjol dari Ardi hari ini adalah kecenderungannya untuk semakin dekat kepada nilai-nilai spiritual.

Ia memilih menjauh dari gosip murahan, dari percakapan yang mengotori hati, dari hiruk-pikuk dunia yang sering menyesatkan nurani. Baginya, hati yang bersih adalah ruang terbaik bagi cahaya iman untuk bersemayam.

Di media sosial, status-status yang ia bagikan kerap mengandung pesan yang meneduhkan. Ia mengajak sesama alumni menikmati masa senja dengan memperbanyak amal ibadah, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, dan menjauhi segala larangan-Nya.

Sebuah pengingat sederhana, tetapi dalam maknanya.

Sebab semakin bertambah usia, semakin jelas pula satu kenyataan: manusia sesungguhnya sedang berjalan menuju kepulangan.

Jika menengok ke belakang, perjalanan hidup Ardi juga menyimpan kisah tentang integritas. Ia pernah menyandang status sebagai Aparatur Sipil Negara di Kabupaten Maros, bertugas sebagai penyidik PNS pada Inspektorat Kabupaten Maros.

Namun hidup kerap menguji manusia bukan pada saat ia kekurangan, melainkan ketika ia memiliki posisi.

Di sanalah integritas diuji.

Ardi dikenal sebagai pribadi yang memegang prinsip. Ia memilih jalan yang selaras dengan nuraninya. Dengan keteguhan yang jarang dimiliki banyak orang, ia memilih mundur dari status tersebut. Entah itu bentuk pensiun dini atau pilihan hidup lainnya, yang jelas keputusan itu menunjukkan satu hal: ada nilai yang lebih tinggi daripada sekadar status duniawi.

Mungkin itulah sebabnya penulis melihat satu filosofi hidup yang sangat melekat pada dirinya:

“Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani.”

Kalimat itu bukan sekadar slogan.

Ia adalah cermin kehidupan Ardi.

Dalam percakapan terakhir penulis dengannya melalui WhatsApp, saat ia berada di Maros dan penulis di Soppeng, Ardi kembali menyampaikan nasihat yang sederhana namun menghunjam.

Ia mengingatkan agar tidak mudah goyah oleh godaan setan dalam menjalani kehidupan. Dunia, katanya, hanyalah persinggahan sementara. Tempat manusia menanam, bukan memanen. Tempat berbekal, bukan menetap.

Sebab kehidupan yang kekal bukan di sini.

Ia ada di akhirat.

Pesan itu terasa seperti embun yang jatuh perlahan ke dalam hati, diam, lembut, tetapi menghidupkan.

Di tengah zaman yang serba gaduh, ketika banyak orang berlomba mengejar pengakuan dunia, Ardi justru mengingatkan tentang sesuatu yang jauh lebih penting: keselamatan jiwa.

Pada akhirnya, mungkin inilah kemenangan terbesar seorang Ardi Bola.

Bukan gol-gol indah yang pernah ia cetak di lapangan.

Bukan tepuk tangan penonton yang dulu pernah menggema.

Melainkan keberhasilannya menjaga hati agar tetap hidup, nurani agar tetap jernih, dan iman agar tetap tegak hingga senja.

Sebab ada pertandingan yang jauh lebih besar daripada sepak bola.

Yakni pertandingan melawan hawa nafsu, ego, dan godaan dunia.

Dan pada pertandingan itulah, manusia sejati diuji.

Salam hormat dan doa terbaik untuk Ardi sekeluarga di Maros, Sulawesi Selatan. Semoga tetap sehat, istiqamah dalam ibadah, dan terus menjaga filosofi hidup yang telah menjadi napas perjuangannya:

Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani.

Semoga kelak, ketika seluruh sorak dunia telah sunyi, yang tersisa adalah ridha Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *