EDIRORIAL SUARAPALAPA.ID
Di negeri yang besar ini, tidak semua kekuatan lahir dari derap langkah pasukan atau tajamnya pena yang menari di atas lembar berita. Ada kekuatan lain yang sering luput dari perhatian, tetapi justru menjadi fondasi kokoh bagi kehidupan berbangsa: kebersamaan.
Kebersamaan itulah yang tampak dalam rangkaian silaturahmi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan periode 2026–2031, Dr. Ir. H. Suwardi Thahir, M.Si., ke Markas Polisi Militer Kodam XIV/Hasanuddin dan Divisi Infanteri 3 Kostrad dalam beberapa hari terakhir.
Bagi sebagian kalangan, kunjungan tersebut mungkin hanya terlihat sebagai agenda rutin organisasi setelah terpilihnya seorang ketua baru. Namun bagi mereka yang memandang lebih jauh, terdapat pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar seremoni kelembagaan.
Di balik jabat tangan yang hangat, percakapan yang akrab, dan suasana penuh persaudaraan itu, tersimpan sebuah ikhtiar untuk merawat hubungan antarelemen bangsa yang selama ini bekerja pada medan pengabdian yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: mengabdi kepada rakyat dan menjaga Indonesia.
Pers dan prajurit adalah dua institusi yang lahir dari semangat pengabdian.
Prajurit menjaga kedaulatan negara, melindungi bangsa dari berbagai ancaman, serta memastikan merah putih tetap berkibar dengan terhormat di seluruh penjuru negeri.
Sementara pers menjaga ruang publik agar tetap sehat melalui informasi yang benar, edukatif, dan bertanggung jawab. Pers menjadi mata yang mengawasi, telinga yang mendengar, sekaligus jembatan yang menghubungkan suara rakyat dengan para pemangku kebijakan.
Tugas keduanya berbeda. Cara kerjanya pun tidak sama.
Namun keduanya dipertemukan oleh satu nilai yang tidak berubah sejak republik ini berdiri: pengabdian.
Karena itulah, hubungan yang harmonis antara insan pers dan institusi pertahanan negara bukanlah sesuatu yang perlu dipertentangkan. Sebaliknya, hubungan tersebut harus terus dirawat dalam koridor profesionalisme, saling menghormati, dan memahami fungsi masing-masing.
Bangsa yang besar tidak dibangun oleh institusi yang berjalan sendiri-sendiri.
Bangsa yang besar lahir ketika seluruh elemen mampu menemukan titik temu untuk bekerja bersama demi kepentingan yang lebih luas.
Dalam konteks itulah, silaturahmi yang dilakukan Ketua PWI Sulsel patut dimaknai sebagai langkah strategis membangun komunikasi yang sehat dan produktif. Bukan untuk mengaburkan fungsi kontrol sosial pers, bukan pula untuk mencampuradukkan peran masing-masing institusi, melainkan untuk memperkuat jembatan dialog yang selama ini menjadi kebutuhan bersama.
Di era informasi yang bergerak begitu cepat, komunikasi yang baik menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar.
Kesalahpahaman sering lahir dari minimnya komunikasi. Prasangka tumbuh ketika ruang dialog tertutup. Sebaliknya, kepercayaan akan berkembang ketika pertemuan dan silaturahmi terus dijaga.
Nilai inilah yang terasa kuat dari dua kunjungan tersebut.
Yang menarik, pembicaraan yang berkembang tidak hanya berkisar pada hubungan organisasi. Terdapat pula gagasan mengenai berbagai program sosial dan kemasyarakatan yang dapat dilaksanakan bersama.
Ini adalah arah yang patut diapresiasi.
Sebab sejatinya, ukuran keberhasilan sebuah institusi bukan semata-mata pada seberapa besar kewenangan yang dimilikinya, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Ketika pers dan institusi negara berbicara tentang pengabdian kepada rakyat, sesungguhnya mereka sedang berjalan pada jalur yang sama.
Dalam ajaran agama, silaturahmi bukan sekadar tradisi sosial. Ia adalah perintah moral yang mengandung keberkahan. Silaturahmi memperpanjang umur kebaikan, membuka pintu rezeki, dan menghadirkan ketenangan dalam kehidupan bersama.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa bangsa ini membutuhkan lebih banyak ruang pertemuan daripada ruang pertentangan.
Indonesia hari ini menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Mulai dari derasnya arus disinformasi, menurunnya kualitas ruang publik, hingga tantangan sosial yang semakin kompleks.
Menghadapi semua itu, tidak ada satu institusi pun yang mampu bekerja sendirian.
Pers membutuhkan mitra untuk menyebarkan energi positif di tengah masyarakat. Institusi negara membutuhkan media yang profesional untuk menyampaikan informasi yang benar dan membangun kepercayaan publik. Masyarakat membutuhkan keduanya sebagai sumber inspirasi dan harapan.
Karena itu, silaturahmi yang dilakukan Ketua PWI Sulsel ke Danpomdam XIV/Hasanuddin dan Divif 3 Kostrad hendaknya dibaca sebagai simbol dari sesuatu yang lebih besar: semangat untuk merawat kebersamaan.
Kebersamaan yang tidak lahir karena kepentingan sesaat.
Kebersamaan yang tidak dibangun untuk kepentingan kelompok tertentu.
Melainkan kebersamaan yang tumbuh dari kesadaran bahwa pengabdian kepada rakyat adalah tujuan yang harus ditempatkan di atas segala-galanya.
Jalan menuju Indonesia yang lebih baik memang masih panjang. Jalan menuju masyarakat yang semakin cerdas, berdaya, dan sejahtera juga tidak selalu mudah.
Namun jalan panjang itu akan terasa lebih ringan ketika ditempuh bersama.
Dan dari Makassar, melalui langkah-langkah silaturahmi yang sederhana namun penuh makna itu, kita kembali diingatkan bahwa pers dan prajurit sejatinya bukan dua dunia yang terpisah.
Mereka adalah dua anak bangsa yang berjalan pada jalur pengabdian yang berbeda, tetapi menuju tujuan yang sama: menjaga negeri, melayani rakyat, dan merawat Indonesia.









