Menjelang Lampung, Menjelang Sebuah Pertemuan Besar

PERS166 Dilihat

Journalistic Essay
Oleh: Alimuddin (Pemred Palapa Media Group)

Pada akhirnya, setiap perjalanan selalu membutuhkan rumah untuk kembali.

Begitu pula perjalanan panjang pers Indonesia.

Dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, insan pers terus bergerak mengikuti denyut zaman. Mereka hadir di tengah perang dan damai. Menyaksikan pergantian kekuasaan. Menuliskan kegembiraan rakyat. Merekam air mata bangsa. Menjadi saksi bagi berbagai peristiwa yang kelak berubah menjadi sejarah.

Di tengah perjalanan panjang itu, Hari Pers Nasional bukan sekadar peringatan tahunan.

Ia adalah ruang perjumpaan.

Tempat para penulis berita, fotografer, editor, penyiar, dan pekerja media sejenak berhenti dari kesibukan yang tak pernah benar-benar selesai. Mereka datang bukan hanya membawa kartu pers atau identitas profesi. Mereka datang membawa cerita.

Cerita tentang pengabdian.

Cerita tentang idealisme.

Cerita tentang keyakinan bahwa kebenaran masih layak diperjuangkan.

Karena itulah, ketika Lampung ditetapkan sebagai tuan rumah Hari Pers Nasional dan Pekan Olahraga Wartawan Nasional 2027, sesungguhnya yang sedang disiapkan bukan hanya sebuah agenda nasional.

Yang sedang dipersiapkan adalah sebuah pertemuan besar.

Sebuah pertemuan antara pengalaman dan harapan.

Antara mereka yang telah lama mengabdikan hidup di dunia jurnalistik dengan mereka yang baru memulai langkah.

Antara masa lalu yang penuh pelajaran dan masa depan yang masih menunggu untuk ditulis.

Lampung dipilih bukan tanpa alasan.

Di ujung selatan Pulau Sumatera itu, sejarah Indonesia berkali-kali singgah. Dari pelabuhan-pelabuhan yang ramai hingga hamparan kampung yang sederhana, Lampung tumbuh sebagai tanah perjumpaan. Berbagai suku, budaya, dan bahasa bertemu di sana, lalu hidup berdampingan dalam semangat persaudaraan.

Mungkin karena itulah Lampung terasa tepat.

Pers membutuhkan ruang perjumpaan.

Dan Lampung memiliki tradisi menerima perbedaan sebagai kekuatan.

Namun di balik semua persiapan itu, ada pertanyaan yang lebih penting untuk direnungkan.

Ke mana arah pers Indonesia akan melangkah?

Hari ini dunia berubah lebih cepat daripada yang pernah dibayangkan generasi-generasi sebelumnya. Informasi berlari dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan mulai memasuki ruang redaksi. Batas antara fakta dan opini sering kali menjadi kabur. Kecepatan kadang mengalahkan ketelitian.

Di tengah situasi itu, pers menghadapi ujian yang tidak ringan.

Bukan semata-mata ujian teknologi.

Melainkan ujian nurani.

Apakah pers masih mampu menjaga kepercayaan publik?

Apakah wartawan masih mampu berdiri tegak di tengah berbagai kepentingan?

Apakah ruang redaksi masih menjadi tempat lahirnya kebenaran yang diperiksa dengan teliti sebelum disampaikan kepada masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu memiliki jawaban yang mudah.

Tetapi sejarah mengajarkan satu hal.

Pers yang besar bukanlah pers yang paling keras suaranya.

Pers yang besar adalah pers yang tetap setia pada tanggung jawab moralnya.

Sebab pada hakikatnya, jurnalisme bukan sekadar profesi.

Ia adalah amanah.

Dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban.

Bukan hanya oleh organisasi. Bukan hanya oleh masyarakat. Tetapi juga oleh sejarah.

Bahkan, bagi mereka yang meyakini bahwa setiap pekerjaan adalah bagian dari ibadah, amanah itu kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Karena itu, Hari Pers Nasional tidak seharusnya berhenti pada panggung-panggung seremoni.

Ia harus menjadi ruang muhasabah.

Ruang untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah yang kita tulis telah membawa manfaat? Apakah berita yang kita sajikan memperkuat persatuan atau justru memperlebar perpecahan? Apakah pena yang kita genggam telah digunakan untuk menerangi atau malah mengaburkan jalan masyarakat?

Lampung 2027 masih beberapa waktu lagi.

Namun sesungguhnya perjalanan menuju ke sana telah dimulai hari ini.

Dimulai dari ruang redaksi yang sederhana.

Dari wartawan yang tetap bekerja di bawah terik matahari dan guyuran hujan.

Dari editor yang memeriksa naskah hingga larut malam.

Dari fotografer yang mencari sudut terbaik untuk merekam kenyataan.

Dari semua orang yang percaya bahwa kata-kata yang jujur masih memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan.

Ketika April 2027 tiba, ribuan insan pers akan berkumpul di Lampung.

Mereka mungkin datang dari daerah yang berbeda.

Mereka mungkin membawa pandangan yang berbeda.

Tetapi semoga mereka pulang dengan satu keyakinan yang sama.

Bahwa pers Indonesia masih memiliki masa depan.

Dan masa depan itu hanya dapat dibangun oleh mereka yang menjadikan kebenaran sebagai kompas, pengabdian sebagai jalan, dan kemaslahatan masyarakat sebagai tujuan.

Sebab pada akhirnya, pers bukan hanya tentang menulis berita.

Pers adalah ikhtiar menjaga cahaya agar tetap menyala di tengah perubahan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed