Keterangan Gambar:
Personel Polres Wajo bersama unsur TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat menanam bibit pohon dalam rangka Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di kawasan Islamic Center Ulugalung, Desa Lempa, Kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi simbol kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menghadapi tantangan perubahan iklim. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)
Oleh; Sabri
Di bawah langit pagi yang teduh di kawasan Islamic Center Ulugalung, Desa Lempa, Kecamatan Pammana, Sabtu (6/6/2026), puluhan pasang tangan menunduk ke bumi. Sebagian menggenggam bibit pohon, sebagian lagi merapikan tanah yang akan menjadi rumah baru bagi tunas-tunas kehidupan.
Tidak ada sekat jabatan di sana. Aparat pemerintah, TNI, Polri, pelaku usaha, pemuda, dan masyarakat berdiri sejajar di atas hamparan tanah yang sama. Mereka datang bukan sekadar menghadiri seremonial Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, melainkan membawa satu pesan sederhana: bumi harus dirawat bersama.
Peringatan yang mengusung tema nasional “Saatnya Bekerja untuk Iklim” itu menjadi ruang perjumpaan antara kepedulian dan tindakan nyata. Sebab perubahan iklim bukan lagi sekadar isu yang dibicarakan dalam ruang-ruang seminar, melainkan kenyataan yang perlahan menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di tengah kegiatan itu, jajaran Polres Wajo turut hadir menunjukkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan. Mewakili Kapolres Wajo AKBP Muhammad Rosid Rhido, S.I.K., Kapolsek Pammana AKP Ami Suandi, S.H., bersama personel Polres Wajo dan Polsek jajaran mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang diawali dengan pembukaan, sambutan pemerintah daerah, pembacaan Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup, hingga aksi kerja bakti dan penanaman pohon.
Saat bibit-bibit pohon mulai ditanam ke dalam tanah, suasana terasa lebih dari sekadar kegiatan sosial. Ada harapan yang sedang dititipkan kepada alam. Setiap lubang yang digali seolah menjadi ruang untuk menanam doa agar bumi tetap hijau, udara tetap bersih, dan kehidupan generasi mendatang tetap terjaga.
Dalam kesempatan tersebut, AKP Ami Suandi menyampaikan pesan Kapolres Wajo bahwa menjaga lingkungan bukanlah tugas satu lembaga atau kelompok tertentu.
“Pelestarian lingkungan hidup membutuhkan peran aktif seluruh elemen masyarakat. Polri siap mendukung setiap upaya yang bertujuan menjaga keseimbangan alam dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan,” ujarnya.
Pesan itu terasa relevan di tengah berbagai tantangan perubahan iklim yang kini menjadi perhatian dunia. Mulai dari cuaca ekstrem, berkurangnya ruang hijau, hingga ancaman kerusakan lingkungan yang perlahan menggerus kualitas hidup masyarakat.
Karena itu, langkah sederhana seperti menanam pohon memiliki makna yang jauh lebih besar daripada yang terlihat. Sebatang pohon yang ditanam hari ini mungkin baru akan memberikan keteduhan bertahun-tahun kemudian. Namun dari sanalah peradaban belajar tentang kesabaran, tanggung jawab, dan cinta kepada kehidupan.
Bagi masyarakat Wajo yang hadir pagi itu, kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa manusia sesungguhnya adalah bagian dari alam. Dalam nilai-nilai keagamaan, menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, melainkan juga bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah dianugerahkan Sang Pencipta.
Di Islamic Center Ulugalung, semangat gotong royong itu terlihat nyata. TNI dan Polri bekerja berdampingan dengan masyarakat. Pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, dan dunia usaha menyatukan langkah dalam satu tujuan yang sama.
Kebersamaan itulah yang kemudian menjadi kekuatan utama. Sebab menjaga bumi tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Ia membutuhkan kepedulian yang tumbuh bersama, seperti akar-akar pohon yang saling menguatkan di dalam tanah.
Menjelang berakhirnya kegiatan, bibit-bibit yang telah ditanam berdiri tegak di atas lahan yang telah dipersiapkan. Mungkin ukurannya masih kecil. Namun di dalamnya tersimpan harapan besar tentang masa depan yang lebih hijau, lebih sehat, dan lebih lestari.
Hari itu, di Ulugalung, yang ditanam bukan hanya pohon. Yang ditanam adalah kesadaran, tanggung jawab, dan keyakinan bahwa sekecil apa pun ikhtiar manusia untuk menjaga alam, akan menjadi amal kebaikan yang terus tumbuh, memberi manfaat bagi sesama, bahkan bagi generasi yang belum lahir sekalipun.
Menanam Harapan di Ulugalung, Saat Tangan-Tangan Bersatu Menjaga Bumi
Keterangan Gambar
Personel Polres Wajo bersama unsur TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat menanam bibit pohon dalam rangka Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di kawasan Islamic Center Ulugalung, Desa Lempa, Kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi simbol kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menghadapi tantangan perubahan iklim. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)
Oleh; Sabri
Di bawah langit pagi yang teduh di kawasan Islamic Center Ulugalung, Desa Lempa, Kecamatan Pammana, Sabtu (6/6/2026), puluhan pasang tangan menunduk ke bumi. Sebagian menggenggam bibit pohon, sebagian lagi merapikan tanah yang akan menjadi rumah baru bagi tunas-tunas kehidupan.
Tidak ada sekat jabatan di sana. Aparat pemerintah, TNI, Polri, pelaku usaha, pemuda, dan masyarakat berdiri sejajar di atas hamparan tanah yang sama. Mereka datang bukan sekadar menghadiri seremonial Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, melainkan membawa satu pesan sederhana: bumi harus dirawat bersama.
Peringatan yang mengusung tema nasional “Saatnya Bekerja untuk Iklim” itu menjadi ruang perjumpaan antara kepedulian dan tindakan nyata. Sebab perubahan iklim bukan lagi sekadar isu yang dibicarakan dalam ruang-ruang seminar, melainkan kenyataan yang perlahan menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di tengah kegiatan itu, jajaran Polres Wajo turut hadir menunjukkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan. Mewakili Kapolres Wajo AKBP Muhammad Rosid Rhido, S.I.K., Kapolsek Pammana AKP Ami Suandi, S.H., bersama personel Polres Wajo dan Polsek jajaran mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang diawali dengan pembukaan, sambutan pemerintah daerah, pembacaan Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup, hingga aksi kerja bakti dan penanaman pohon.
Saat bibit-bibit pohon mulai ditanam ke dalam tanah, suasana terasa lebih dari sekadar kegiatan sosial. Ada harapan yang sedang dititipkan kepada alam. Setiap lubang yang digali seolah menjadi ruang untuk menanam doa agar bumi tetap hijau, udara tetap bersih, dan kehidupan generasi mendatang tetap terjaga.
Dalam kesempatan tersebut, AKP Ami Suandi menyampaikan pesan Kapolres Wajo bahwa menjaga lingkungan bukanlah tugas satu lembaga atau kelompok tertentu.
“Pelestarian lingkungan hidup membutuhkan peran aktif seluruh elemen masyarakat. Polri siap mendukung setiap upaya yang bertujuan menjaga keseimbangan alam dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan,” ujarnya.
Pesan itu terasa relevan di tengah berbagai tantangan perubahan iklim yang kini menjadi perhatian dunia. Mulai dari cuaca ekstrem, berkurangnya ruang hijau, hingga ancaman kerusakan lingkungan yang perlahan menggerus kualitas hidup masyarakat.
Karena itu, langkah sederhana seperti menanam pohon memiliki makna yang jauh lebih besar daripada yang terlihat. Sebatang pohon yang ditanam hari ini mungkin baru akan memberikan keteduhan bertahun-tahun kemudian. Namun dari sanalah peradaban belajar tentang kesabaran, tanggung jawab, dan cinta kepada kehidupan.
Bagi masyarakat Wajo yang hadir pagi itu, kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa manusia sesungguhnya adalah bagian dari alam. Dalam nilai-nilai keagamaan, menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, melainkan juga bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah dianugerahkan Sang Pencipta.
Di Islamic Center Ulugalung, semangat gotong royong itu terlihat nyata. TNI dan Polri bekerja berdampingan dengan masyarakat. Pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, dan dunia usaha menyatukan langkah dalam satu tujuan yang sama.
Kebersamaan itulah yang kemudian menjadi kekuatan utama. Sebab menjaga bumi tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Ia membutuhkan kepedulian yang tumbuh bersama, seperti akar-akar pohon yang saling menguatkan di dalam tanah.
Menjelang berakhirnya kegiatan, bibit-bibit yang telah ditanam berdiri tegak di atas lahan yang telah dipersiapkan. Mungkin ukurannya masih kecil. Namun di dalamnya tersimpan harapan besar tentang masa depan yang lebih hijau, lebih sehat, dan lebih lestari.
Hari itu, di Ulugalung, yang ditanam bukan hanya pohon. Yang ditanam adalah kesadaran, tanggung jawab, dan keyakinan bahwa sekecil apa pun ikhtiar manusia untuk menjaga alam, akan menjadi amal kebaikan yang terus tumbuh, memberi manfaat bagi sesama, bahkan bagi generasi yang belum lahir sekalipun.
Keterangan Gambar
Personel Polres Wajo bersama unsur TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat menanam bibit pohon dalam rangka Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di kawasan Islamic Center Ulugalung, Desa Lempa, Kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi simbol kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menghadapi tantangan perubahan iklim. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)
Oleh; Sabri
Di bawah langit pagi yang teduh di kawasan Islamic Center Ulugalung, Desa Lempa, Kecamatan Pammana, Sabtu (6/6/2026), puluhan pasang tangan menunduk ke bumi. Sebagian menggenggam bibit pohon, sebagian lagi merapikan tanah yang akan menjadi rumah baru bagi tunas-tunas kehidupan.
Tidak ada sekat jabatan di sana. Aparat pemerintah, TNI, Polri, pelaku usaha, pemuda, dan masyarakat berdiri sejajar di atas hamparan tanah yang sama. Mereka datang bukan sekadar menghadiri seremonial Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, melainkan membawa satu pesan sederhana: bumi harus dirawat bersama.
Peringatan yang mengusung tema nasional “Saatnya Bekerja untuk Iklim” itu menjadi ruang perjumpaan antara kepedulian dan tindakan nyata. Sebab perubahan iklim bukan lagi sekadar isu yang dibicarakan dalam ruang-ruang seminar, melainkan kenyataan yang perlahan menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di tengah kegiatan itu, jajaran Polres Wajo turut hadir menunjukkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan. Mewakili Kapolres Wajo AKBP Muhammad Rosid Rhido, S.I.K., Kapolsek Pammana AKP Ami Suandi, S.H., bersama personel Polres Wajo dan Polsek jajaran mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang diawali dengan pembukaan, sambutan pemerintah daerah, pembacaan Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup, hingga aksi kerja bakti dan penanaman pohon.
Saat bibit-bibit pohon mulai ditanam ke dalam tanah, suasana terasa lebih dari sekadar kegiatan sosial. Ada harapan yang sedang dititipkan kepada alam. Setiap lubang yang digali seolah menjadi ruang untuk menanam doa agar bumi tetap hijau, udara tetap bersih, dan kehidupan generasi mendatang tetap terjaga.
Dalam kesempatan tersebut, AKP Ami Suandi menyampaikan pesan Kapolres Wajo bahwa menjaga lingkungan bukanlah tugas satu lembaga atau kelompok tertentu.
“Pelestarian lingkungan hidup membutuhkan peran aktif seluruh elemen masyarakat. Polri siap mendukung setiap upaya yang bertujuan menjaga keseimbangan alam dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan,” ujarnya.
Pesan itu terasa relevan di tengah berbagai tantangan perubahan iklim yang kini menjadi perhatian dunia. Mulai dari cuaca ekstrem, berkurangnya ruang hijau, hingga ancaman kerusakan lingkungan yang perlahan menggerus kualitas hidup masyarakat.
Karena itu, langkah sederhana seperti menanam pohon memiliki makna yang jauh lebih besar daripada yang terlihat. Sebatang pohon yang ditanam hari ini mungkin baru akan memberikan keteduhan bertahun-tahun kemudian. Namun dari sanalah peradaban belajar tentang kesabaran, tanggung jawab, dan cinta kepada kehidupan.
Bagi masyarakat Wajo yang hadir pagi itu, kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa manusia sesungguhnya adalah bagian dari alam. Dalam nilai-nilai keagamaan, menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, melainkan juga bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah dianugerahkan Sang Pencipta.
Di Islamic Center Ulugalung, semangat gotong royong itu terlihat nyata. TNI dan Polri bekerja berdampingan dengan masyarakat. Pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, dan dunia usaha menyatukan langkah dalam satu tujuan yang sama.
Kebersamaan itulah yang kemudian menjadi kekuatan utama. Sebab menjaga bumi tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Ia membutuhkan kepedulian yang tumbuh bersama, seperti akar-akar pohon yang saling menguatkan di dalam tanah.
Menjelang berakhirnya kegiatan, bibit-bibit yang telah ditanam berdiri tegak di atas lahan yang telah dipersiapkan. Mungkin ukurannya masih kecil. Namun di dalamnya tersimpan harapan besar tentang masa depan yang lebih hijau, lebih sehat, dan lebih lestari.
Hari itu, di Ulugalung, yang ditanam bukan hanya pohon. Yang ditanam adalah kesadaran, tanggung jawab, dan keyakinan bahwa sekecil apa pun ikhtiar manusia untuk menjaga alam, akan menjadi amal kebaikan yang terus tumbuh, memberi manfaat bagi sesama, bahkan bagi generasi yang belum lahir sekalipun.





