Kala Jemari Kapolres Soppeng Melarung Kelopak Mawar dan Doa di Pusara Sunyi Syuhada

POLRI446 Dilihat

Keterangan Gambar:

TABUR BUNGA DI PUSARA PAHLAWAN: Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Soppeng Ny. Ageng Aditya, menaburkan bunga di atas salah satu pusara pahlawan dalam Upacara Ziarah Rombongan di TMP Salotungo, Lalabata, Kabupaten Soppeng, Selasa (23/6/2026). Prosesi khidmat dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80 ini diikuti oleh jajaran Pejabat Utama dan personel Polres Soppeng sebagai wujud penghormatan, refleksi humanis, serta doa bagi para syuhada bangsa. (Foto: Dok. Humas Polres Soppeng)

Oleh: Andi Okkeng
Editor: Alimuddin

SOPPENG, SUARA PALAPA — Angin pagi berembus perlahan, menyisir dedaunan hijau di Kelurahan Lalabata Rilau, Selasa, 23 Juni 2026. Di bawah langit biru yang bersih, nisan-nisan putih di Taman Makam Pahlawan (TMP) Salotungo berdiri kokoh dalam keheningan yang magis. Hari itu, sunyinya makam tak sekadar menjadi penanda fana, melainkan sebuah ruang temu spiritual yang agung antara masa lalu yang berdarah-darah demi kemerdekaan, dan masa kini yang terus melangkah maju.

Langkah-langkah kaki tegap yang biasa berpacu dengan sirene dan derap tugas, pagi itu melambat, penuh takzim. Jajaran Kepolisian Resor (Polres) Soppeng datang bukan sekadar untuk menggelar upacara formalitas memperingati Hari Bhayangkara ke-80. Lebih dari itu, mereka datang membawa jiwa yang rindu akan keteladanan, bersimpuh di hadapan pusara mereka yang telah selesai menunaikan tugas tertingginya bagi bumi pertiwi.

Upacara ziarah rombongan itu dipimpin langsung oleh Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K. Di bawah komando IPDA Udiyanto dan kesiapan AKP Asep Sibli, seluruh barisan larut dalam keheningan. Detik-detik mengheningkan cipta terasa begitu menghunjam sanubari. Di bawah kibaran sang saka merah putih, ingatan kolektif ditarik kembali pada ribuan malam-malam mencekam yang dilalui para syuhada, di mana doa, darah, dan air mata dipersembahkan agar generasi hari ini bisa bernapas bebas.

Suasana religius kian mengalun kental saat doa-doa dipanjatkan ke langit. Keheningan itu pecah secara lembut oleh kepakan sayap burung dan bisik angin, seolah alam semesta ikut mengaminkan keselamatan bagi arwah para pahlawan di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Kehadiran Ketua Bhayangkari Cabang Soppeng, Ny. Ageng Aditya, beserta barisan peleton Polwan, staf, hingga satuan Reskrim dan Intelkam, melambangkan sebuah kebulatan tekad: bahwa pengabdian tak pernah tegak sendirian, ia disokong oleh kebersamaan dan ketulusan hati.

Puncak dari rasa takzim itu mewujud pada prosesi tabur bunga. Dengan jemari yang lembut namun mantap, AKBP Aditya Pradana melarung kelopak-kelopak bunga mawar merah di atas pusara makam. Di sampingnya, Ny. Ageng Aditya dengan anggun pakaian merah mudanya mendampingi, mengiringi setiap helai bunga yang jatuh dengan doa yang tak putus. Sementara itu, seorang Polwan berdiri sigap memegang keranjang anyaman berisi bunga, dengan sorot mata teduh penuh penghormatan.

Warna merah mawar yang kontras di atas tanah kelabu itu seolah mengisyaratkan bahwa semangat perjuangan tidak boleh memudar. Delapan puluh tahun sudah Korps Bhayangkara mengabdi pada negeri, dan di pusara sunyi Salotungo inilah, komitmen itu kembali diperbarui. Menjadi pelindung masyarakat bukan sekadar profesi, melainkan sebuah panggilan suci, sebuah ibadah panjang yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan manusia dan Sang Pencipta.

“Melalui ziarah rombongan ini, kami ingin meneladani semangat perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian para pahlawan. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan bagi Polri untuk terus meningkatkan pelayanan, perlindungan, dan pengayoman kepada masyarakat sesuai tema Hari Bhayangkara ke-80, yaitu ‘80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat’,” tutur AKBP Aditya Pradana dengan nada bergetar penuh takzim.

Matahari kian meninggi, menyinari ornamen rumah adat yang menjadi latar belakang makam, menegaskan akar budaya yang kuat di bumi Soppeng. Upacara mungkin telah usai dan rombongan perlahan meninggalkan lokasi, namun harum mawar dan esensi dari ziarah itu tetap tertinggal di Salotungo, mengalir bersama tekad baru di dada setiap insan Bhayangkara yang kembali ke medan bakti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *