Jalan Mufakat yang Menyelamatkan Marwah PWI

EDITORIAL172 Dilihat

Editorial Suara Palapa

Di tengah iklim demokrasi yang sering kali diwarnai polarisasi, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan justru memperlihatkan sebuah teladan yang patut diapresiasi. Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Sulsel 2026 tidak berakhir dengan pertarungan suara yang keras, melainkan dengan sebuah keputusan yang lahir dari musyawarah mufakat.

Forum organisasi yang sejak awal diperkirakan akan menjadi arena kontestasi antara sejumlah kandidat akhirnya memilih jalan kebersamaan. Dari proses tersebut, Suwardi Thahir dipercaya memimpin PWI Sulawesi Selatan periode 2026–2031, sementara Dahlan Abubakar mendapat amanah sebagai Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Sulsel.

Bagi sebagian orang, hasil itu mungkin sekadar pergantian kepemimpinan organisasi. Namun bagi dunia pers, maknanya jauh lebih besar dari sekadar siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Musyawarah mufakat yang tercapai menunjukkan bahwa para wartawan Sulawesi Selatan masih menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan kelompok. Dalam suasana yang berpotensi melahirkan friksi, para peserta konferensi justru memilih merawat persaudaraan. Di tengah derasnya budaya kompetisi yang kadang mengorbankan harmoni, keputusan tersebut menjadi pesan penting bahwa demokrasi tidak selalu harus melahirkan pemenang dan pecundang.

PWI adalah rumah besar wartawan. Sebuah organisasi profesi yang keberadaannya bukan untuk membelah anggota ke dalam kubu-kubu yang saling berhadapan, melainkan menjadi wadah yang menyatukan berbagai pandangan demi tujuan yang sama: menjaga kemerdekaan pers dan meningkatkan profesionalisme wartawan.

Karena itu, Konferprov PWI Sulsel 2026 layak dikenang bukan karena sengitnya persaingan menjelang forum, melainkan karena kebesaran hati yang ditunjukkan saat forum berlangsung. Semua pihak yang terlibat patut mendapat penghormatan karena mampu menempatkan persatuan organisasi sebagai prioritas utama.

Namun pekerjaan sesungguhnya justru dimulai setelah konferensi berakhir.

Kepemimpinan baru PWI Sulsel akan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dunia jurnalistik sedang berada dalam masa transisi yang kompleks. Disrupsi digital terus mengubah pola kerja media. Informasi palsu menyebar semakin cepat. Persaingan industri media semakin ketat. Sementara tuntutan publik terhadap kualitas dan integritas wartawan semakin tinggi.

Dalam situasi demikian, PWI Sulsel dituntut hadir bukan sekadar sebagai organisasi administratif, tetapi sebagai pusat pengembangan kompetensi, penjaga etika profesi, sekaligus benteng yang menjaga independensi pers dari berbagai bentuk intervensi.

Suwardi Thahir dan Dahlan Abubakar kini memikul amanah besar untuk membawa organisasi menjawab tantangan tersebut. Mereka membutuhkan dukungan seluruh anggota, termasuk mereka yang sebelumnya memiliki pilihan berbeda dalam proses konferensi.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah organisasi tidak ditentukan oleh siapa yang duduk di kursi ketua, melainkan oleh kemampuan seluruh anggotanya menjaga soliditas dan tujuan bersama. Sebab organisasi yang besar bukanlah organisasi yang bebas dari perbedaan, melainkan organisasi yang mampu mengelola perbedaan menjadi energi untuk bergerak maju.

Konferprov PWI Sulsel 2026 telah memberikan pelajaran penting bahwa musyawarah masih relevan di tengah zaman yang serba gaduh. Bahwa mufakat masih memiliki tempat dalam demokrasi modern. Dan bahwa persatuan, hingga hari ini, tetap menjadi modal utama untuk menjaga marwah organisasi dan kehormatan profesi wartawan.

Selamat bekerja kepada kepengurusan baru. Tantangan telah menunggu di depan. Kini saatnya membuktikan bahwa jalan mufakat yang dipilih bukan sekadar akhir dari sebuah konferensi, melainkan awal dari penguatan PWI Sulawesi Selatan untuk lima tahun ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *