Di Balik Musyawarah dan Persaudaraan, Suwardi–Dahlan Memulai Ikhtiar Baru untuk PWI Sulsel

PERS22 Dilihat

Keterangan Gambar:

Suasana kebersamaan peserta Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Sulawesi Selatan 2026 di Ballroom Fajar Graha Pena Makassar, Selasa (2/6/2026). Tampak dari kiri ke kanan, FAS Rachmat Kami, mantan Ketua PWI Soppeng, A. Syukur, mantan Bendahara PWI Soppeng, bersama tiga peserta konferensi lainnya berfoto usai diumumkannya hasil musyawarah mufakat yang menetapkan pasangan Suwardi Thahir dan Dahlan Abubakar sebagai pimpinan PWI Sulsel periode 2026–2031. Foto ini merekam semangat persaudaraan dan kebersamaan yang mewarnai jalannya konferensi.

Penulis: Syukur Mariorante Katalawala

MAKASSAR — Siang itu, di Ballroom Fajar Graha Pena Makassar, suasana yang semula dipenuhi dinamika Konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan perlahan berubah menjadi ruang persaudaraan. Tidak ada sorak kemenangan yang berlebihan. Tidak ada pula wajah-wajah yang larut dalam kekecewaan. Yang tersisa justru kehangatan, saling menghormati, dan kesadaran bahwa organisasi ini dibangun bukan oleh satu orang, melainkan oleh kebersamaan para wartawan yang mengabdikan hidupnya untuk kebenaran.

Dari proses musyawarah mufakat yang berlangsung pada Selasa, 2 Juni 2026, lahirlah pasangan kepemimpinan baru PWI Sulsel. Suwardi Thahir dipercaya memimpin sebagai Ketua PWI Sulsel periode 2026–2031, sementara Dahlan Abubakar mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Kehormatan Provinsi PWI Sulsel.

Kemenangan itu tidak hadir melalui pertarungan yang menyisakan sekat. Sebaliknya, ia lahir dari sebuah proses yang menunjukkan kedewasaan organisasi. Rival mereka, Amrullah bersama pasangannya, menerima hasil musyawarah dengan lapang dada dan menyerahkan estafet kepemimpinan secara terhormat.

Momen tersebut menjadi pemandangan yang menyejukkan. Di tengah zaman yang sering mempertontonkan perpecahan akibat perbedaan pilihan, para wartawan Sulawesi Selatan justru memperlihatkan bahwa musyawarah masih menjadi jalan terbaik untuk menjaga persatuan.

Bagi Suwardi dan Dahlan, amanah yang diterima bukanlah mahkota kemenangan, melainkan tanggung jawab besar yang harus dipikul dengan penuh kesungguhan. Keduanya bertekad membawa PWI Sulsel menjadi organisasi yang profesional, independen, dan berintegritas tinggi, sekaligus menjadi mitra strategis dalam mencerdaskan masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital.

Di era ketika kebenaran kerap berkejaran dengan hoaks, profesi wartawan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi salah satu prioritas utama kepengurusan baru.

Program peningkatan frekuensi Uji Kompetensi Wartawan (UKW), pelatihan jurnalistik digital, hingga pengembangan keterampilan wartawan menjadi agenda yang akan diperkuat melalui kerja sama dengan berbagai pihak. Harapannya sederhana namun bermakna: melahirkan wartawan yang tidak hanya terampil menulis berita, tetapi juga mampu menjaga etika dan martabat profesi.

Tidak hanya itu, kepengurusan baru juga berkomitmen menghadiri konferensi kabupaten dan pelantikan pengurus terpilih tanpa membebani daerah dengan biaya tambahan atau “mahar” organisasi. Sebuah langkah yang diharapkan semakin mendekatkan PWI dengan anggotanya hingga ke pelosok Sulawesi Selatan.

Kemudahan pelayanan administrasi, termasuk pengurusan Kartu Tanda Anggota (KTA), juga menjadi perhatian. Sebab organisasi yang besar tidak hanya diukur dari jumlah anggotanya, tetapi juga dari kemampuannya melayani mereka dengan cepat, adil, dan transparan.

Lebih jauh, Suwardi dan Dahlan ingin merangkul wartawan muda sebagai generasi penerus yang akan menjaga nyala obor jurnalistik di masa depan. Di pundak merekalah keberlanjutan organisasi akan ditentukan.

Di balik seluruh program itu, tersimpan satu cita-cita yang lebih besar: menjadikan PWI Sulsel sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang cerdas, beradab, dan sejahtera. Sebab pers yang sehat bukan hanya menyampaikan informasi, melainkan juga menghadirkan pencerahan bagi kehidupan publik.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari konferensi yang baru saja usai itu. Bahwa jabatan hanyalah amanah yang akan berganti, sementara persaudaraan harus tetap abadi. Bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika seseorang berhasil terpilih, melainkan ketika seluruh keluarga besar organisasi tetap mampu berdiri dalam satu barisan.

Seperti pesan yang sering diajarkan dalam nilai-nilai keagamaan, amanah adalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Maka perjalanan lima tahun ke depan bukan sekadar masa bakti, melainkan sebuah ikhtiar untuk menjaga marwah profesi, memperkuat persatuan, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *