Dari Limpomajang, Kapolsek Majauleng Tunjukkan Arti Pelayanan Sesungguhnya

POLRI69 Dilihat

Keterangan Gambar

Personel Polsek Majauleng bersama warga bergotong royong mengevakuasi pohon tumbang akibat angin kencang yang menutup sebagian badan jalan di Kelurahan Limpomajang, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Senin (15/6/2026). Kegiatan tersebut dilakukan untuk menjaga keselamatan pengguna jalan sekaligus memperlancar kembali arus lalu lintas di wilayah tersebut. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)

Oleh: Sabri

WAJO – Di sebuah pagi yang masih menyisakan jejak cuaca tak menentu, angin kencang datang tanpa banyak aba-aba. Ia menyapu pepohonan di tepian jalan Kelurahan Limpomajang, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo. Salah satu pohon tua tak lagi mampu bertahan. Batangnya rebah, ranting-rantingnya menjulur ke badan jalan, seolah menghadang setiap kendaraan yang hendak melintas.

Namun, di balik peristiwa yang berpotensi menimbulkan bahaya itu, tersimpan sebuah pelajaran sederhana tentang kebersamaan.

Senin pagi, 15 Juni 2026, sekitar pukul 09.10 Wita, warga setempat tidak memilih menjadi penonton. Mereka keluar dari rumah, membawa alat seadanya, lalu berkumpul di lokasi pohon tumbang. Tak lama berselang, personel Polsek Majauleng tiba. Tanpa banyak seremoni, mereka langsung bergabung dengan warga, memotong batang pohon, mengangkat ranting-ranting yang berserakan, dan membersihkan badan jalan yang tertutup.

Di tengah tumpukan dedaunan hijau yang masih segar, tampak tangan-tangan yang bekerja dalam irama yang sama. Tidak ada sekat antara aparat dan masyarakat. Yang ada hanyalah satu tujuan: memastikan jalan kembali aman bagi siapa saja yang melintas.

Peristiwa semacam ini mungkin terlihat sederhana. Tidak ada panggung besar. Tidak ada keramaian yang mengundang sorotan. Namun justru dalam momen-momen seperti itulah wajah sejati sebuah komunitas terlihat. Ketika ancaman datang, sekecil apa pun bentuknya, masyarakat dan aparat hadir berdampingan untuk mengatasinya.

Kapolsek Majauleng, IPTU H. Baso Hasbi, menegaskan bahwa respons cepat tersebut merupakan bagian dari pelayanan kepolisian kepada masyarakat. Begitu informasi diterima, personel segera bergerak menuju lokasi dan bersama warga melakukan penanganan agar akses jalan kembali aman digunakan.

Lebih dari sekadar membersihkan pohon tumbang, langkah cepat itu menjadi pengingat bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Cuaca ekstrem yang belakangan kerap terjadi memang menghadirkan berbagai risiko, mulai dari pohon tumbang hingga gangguan lain yang dapat mengancam pengguna jalan. Karena itu, kewaspadaan menjadi sikap yang tak boleh ditinggalkan.

Di daerah-daerah seperti Majauleng, gotong royong bukan sekadar warisan budaya yang sering disebut dalam pidato. Ia masih hidup dalam tindakan nyata. Ketika ada jalan yang terhalang, masyarakat bergerak. Ketika ada warga yang membutuhkan bantuan, tangan-tangan lain datang membantu. Dan ketika alam menunjukkan kekuatannya, manusia menjawabnya dengan persatuan.

Menjelang siang, batang pohon yang semula menghalangi jalan perlahan tersingkir. Ranting-ranting dibersihkan. Debu dan serpihan kayu disapu ke tepi jalan. Kendaraan kembali melintas seperti biasa. Aktivitas masyarakat pun berjalan normal.

Pohon yang tumbang mungkin telah menghalangi sebagian jalan. Tetapi pada saat yang sama, peristiwa itu justru membuka ruang untuk memperlihatkan nilai-nilai yang semakin langka di zaman modern: kepedulian, kebersamaan, dan semangat melayani sesama.

Di Limpomajang pagi itu, jalan bukan hanya kembali terbuka. Yang tampak lebih jelas adalah bahwa di tengah segala tantangan, solidaritas masyarakat masih tumbuh kokoh, berakar lebih kuat daripada pohon yang tumbang diterpa angin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *