Dalam Hangat Silaturahmi, Dua Senior Pers Sulsel Menjahit Harapan Baru untuk PWI Sulsel

PERS20 Dilihat

Keterangan Foto:

SILATURAHMI — Wartawan senior nasional asal Sulawesi Selatan, Sukriansyah S Latief, melakukan kunjungan silaturahmi ke Kantor Persatuan Wartawan Indonesia Sulsel dan disambut Ketua PWI Sulsel, Suwardi Thahir, Kamis (25/6/2026) malam. Pertemuan berlangsung hangat dengan semangat kebersamaan untuk memajukan dunia pers di Sulawesi Selatan. (Foto: Istimewa)

MAKASSAR — Malam di Kota Makassar itu berjalan seperti biasa. Namun di sebuah sudut Jalan Maccini Sawah, ada pertemuan yang memancarkan makna lebih dari sekadar kunjungan biasa. Di Kantor Persatuan Wartawan Indonesia Sulsel, silaturahmi menjadi ruang bertemunya pengalaman, gagasan, dan harapan bagi masa depan dunia pers.

Wartawan senior nasional asal Sulawesi Selatan, Sukriansyah S Latief, atau akrab disapa UQ, datang berkunjung pada Kamis malam (25/6/2026). Kedatangannya disambut hangat oleh Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Sulsel, Suwardi Thahir.

Pertemuan singkat itu terasa istimewa. Dua sosok yang pernah sama-sama mengemban amanah sebagai pemimpin redaksi Harian Fajar itu larut dalam suasana penuh keakraban. Tidak ada sekat jabatan, tidak ada formalitas berlebihan, yang ada hanyalah percakapan hangat di antara insan pers yang sama-sama memahami betapa berat sekaligus mulianya jalan pengabdian seorang wartawan.

Dalam tradisi timur yang kental di tanah Sulawesi, silaturahmi bukan sekadar bertemu. Ia adalah jembatan hati, tempat ilmu diwariskan, pengalaman dibagikan, dan nasihat dititipkan dengan ketulusan. Begitu pula yang tergambar malam itu.

Sukriansyah menyampaikan sejumlah masukan kepada kepengurusan baru PWI Sulsel. Baginya, organisasi profesi wartawan tidak cukup hanya menjadi rumah bagi para jurnalis, tetapi juga harus menjelma sebagai institusi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“PWI Sulsel harus berkontribusi langsung kepada masyarakat, khususnya di bidang pers dan jurnalistik,” ujar UQ.

Menurutnya, peran pers yang sehat adalah menghadirkan informasi yang mencerahkan, mengawal pembangunan, sekaligus menjaga nurani publik. Di tengah derasnya arus informasi digital, wartawan dituntut bukan hanya cepat, tetapi juga akurat, beretika, dan berpihak pada kebenaran.

Ia juga menekankan pentingnya kemitraan yang sehat antara media dan pemerintah, baik di daerah maupun di pusat. Bukan dalam makna kehilangan independensi, melainkan membangun sinergi yang produktif demi kesejahteraan rakyat.

“Saatnya media bermitra dengan pemerintah untuk menyukseskan program pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Pandangan itu disambut positif oleh Suwardi Thahir. Sebagai nakhoda baru PWI Sulsel, ia memandang setiap masukan dari senior sebagai bekal berharga untuk merumuskan arah organisasi ke depan.

“Kami baru saja terpilih pada Konferensi PWI Sulsel awal bulan ini. Saat ini kami sedang merampungkan susunan kepengurusan. Insya Allah, setelah pelantikan, kami akan menyusun program kerja,” kata Suwardi.

Kata Insya Allah yang terucap sederhana itu mengandung ikhtiar dan tawakal, bahwa setiap langkah besar selalu dimulai dengan niat baik, kerja keras, dan harapan akan ridha Tuhan.

Belakangan ini, Kantor PWI Sulsel di Jalan Maccini Sawah 12 memang semakin ramai. Para anggota dari berbagai media datang silih berganti, berdiskusi, bertukar pikiran, dan merumuskan gagasan. Kantor itu bukan sekadar bangunan, melainkan ruang tumbuhnya idealisme.

“Di sinilah kami menggodok program kerja yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, terutama peningkatan kompetensi wartawan, sehingga berita yang disajikan dapat memberikan pencerahan,” ujarnya.

Di tengah tantangan dunia jurnalistik yang kian kompleks, mulai dari disinformasi, polarisasi, hingga tekanan ekonomi media, peningkatan kapasitas wartawan menjadi kebutuhan yang tak bisa ditawar.

Malam silaturahmi itu juga dihadiri sejumlah wartawan senior, di antaranya Mappiar HS, Irianto Amama, Abdullah Rattingan, Ihsan Dj, Titik K, Iga Dwikumari, Megawati, dan Marala, bersama Ketua Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia serta jajaran pengurus lainnya.

Pada akhirnya, pertemuan malam itu mengajarkan satu hal: dunia pers tidak hanya dibangun oleh pena dan berita, tetapi juga oleh persaudaraan. Sebab dari silaturahmi lahir saling percaya, dari diskusi lahir gagasan, dan dari kebersamaan lahir kekuatan untuk terus menjaga marwah jurnalistik.

Di tengah zaman yang bergerak cepat, pers tetap membutuhkan satu kompas yang tak boleh hilang, integritas. Dan mungkin, itulah pesan paling sunyi namun paling kuat dari malam penuh kehangatan di Kantor PWI Sulsel. (*/Masykur Thahir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *