Setetes Darah, Sejuta Sinergi: Menakar Pengabdian 80 Tahun Bhayangkara di Tanah Wajo

POLRI69 Dilihat

Keterangan Gambar:

Wujud Sinergitas Kemanusiaan: Kapolres Wajo AKBP Muhammad Rosid Ridho, S.I.K. (kedua dari kiri) bersama personel TNI saat mendonorkan darah dalam bakti kesehatan memperingati Hari Bhayangkara ke-80 di Aula Sandi Mapolres Wajo, Selasa (23/6/2026). Kegiatan yang bekerja sama dengan PMI Kabupaten Wajo ini menjadi simbol kolaborasi lintas instansi dalam membantu ketersediaan stok darah dan meningkatkan kepedulian kesehatan masyarakat. (Foto: Dok. Humas Polres Wajo)

Oleh: Sabri

WAJO. SUARA PALAPA – Hari Bhayangkara bukan sekadar penanda usia bagi Kepolisian Republik Indonesia. Di balik angka “80” yang genap dinikmati pada tahun 2026 ini, terdapat rekam jejak panjang tentang bagaimana institusi baju cokelat ini bertransformasi: dari penjaga keamanan menjadi mitra kemanusiaan yang melekat di hati masyarakat. Di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, refleksi pengabdian itu tidak digaungkan melalui seremoni yang kaku, melainkan lewat denyut nadi kepedulian yang nyata.

Selasa pagi (23/6/2026), Aula Sandi Mapolres Wajo mendadak berubah fungsi. Ruangan yang biasa riuh oleh koordinasi kedinasan itu bertransformasi menjadi ruang kemanusiaan. Sejak pukul 09.00 WITA, puluhan personel kepolisian, anggota TNI, instansi lintas sektoral, hingga warga sipil mengantre dengan satu tujuan yang sama: menyingsingkan lengan baju untuk mendonorkan darah dan memeriksakan kesehatan secara gratis.

Aksi ini melampaui rutinitas medis biasa. Di atas kursi-kursi donor, sekat-sekat seragam dan jabatan melebur. Seorang perwira polisi berdampingan dengan prajurit TNI dan warga biasa, bersama-sama menyumbangkan apa yang paling berharga dari dalam tubuh mereka untuk kehidupan orang lain. Ini adalah potret sinergisitas yang hidup, bukan sekadar jargon di atas kertas.

Kapolres Wajo, AKBP Muhammad Rosid Ridho, S.I.K., yang memimpin langsung jalannya kegiatan, menegaskan bahwa momentum Hari Bhayangkara ke-80 adalah saat yang tepat untuk memperkuat ikatan sosial dengan masyarakat.

“Melalui donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis ini, kami ingin menghadirkan manfaat yang langsung dirasakan masyarakat. Setetes darah yang didonorkan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dan kepedulian sosial,” ungkap Rosid Ridho.

Pernyataan tersebut menegaskan arah baru pelayanan Polri. Di era modern, tantangan kepolisian tidak lagi melulu soal penegakan hukum, melainkan bagaimana menghadirkan rasa aman yang holistik, termasuk ketahanan di bidang kesehatan masyarakat. Kelangkaan stok darah di fasilitas medis sering kali menjadi persoalan hidup dan mati. Dengan langkah taktis ini, Polres Wajo bersama Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (UDD PMI) Kabupaten Wajo telah mengambil peran sebagai jembatan penyelamat nyawa.

Antusiasme yang tinggi dari para peserta menunjukkan bahwa ruang gotong-royong di Tanah Wajo masih sangat subur. Kehadiran tim medis yang cekatan memastikan seluruh proses, mulai dari skrining tensi hingga pengambilan darah, berjalan dengan standar kelayakan yang tinggi, tertib, dan lancar.

Pada akhirnya, peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Polres Wajo memberikan kita sebuah pelajaran penting tentang esensi pelayanan. Bahwa kehadiran Polri di tengah masyarakat tidak hanya diukur dari patroli di jalan-jalan raya, melainkan dari seberapa besar kepedulian yang mampu mereka tularkan. Lewat kantong-kantong darah yang terkumpul hari itu, Polres Wajo tidak hanya sedang memperingati hari lahir institusinya, tetapi sedang merajut kembali rajutan kemanusiaan dan gotong royong yang menjadi akar bangsa ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *