Menjaga Soppeng dari Asap Beracun yang Menipu Generasi

EDITORIAL148 Dilihat

Oleh: Alimuddin
Pemred Palapa Media Group

Di era modern yang serba praktis dan digital, ancaman narkotika tidak lagi hadir dengan wajah lama yang mudah dikenali masyarakat. Ia telah berubah rupa, menyusup melalui tren gaya hidup, membonceng teknologi, lalu menyamar di balik benda-benda yang tampak biasa. Salah satu bentuk ancaman paling mengkhawatirkan saat ini adalah peredaran narkotika liquid sintetis yang dikonsumsi melalui perangkat rokok elektrik atau vape.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan hukum semata, melainkan alarm sosial yang harus dibaca secara serius oleh seluruh elemen masyarakat. Sebab, ketika zat berbahaya dikemas dalam botol kecil dengan aroma menyerupai perisa biasa, maka sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kesehatan, tetapi masa depan generasi muda.

Pengungkapan kasus liquid sintetis oleh Sat Resnarkoba Polres Soppeng baru-baru ini patut diapresiasi sebagai bentuk kewaspadaan aparat dalam membaca pola kejahatan narkotika yang terus berkembang. Penangkapan seorang pemuda berusia 20 tahun di wilayah Citta menjadi bukti bahwa peredaran narkoba kini telah menyentuh lapisan usia produktif yang seharusnya sedang menata masa depan, bukan justru terjebak dalam lingkaran adiksi dan kriminalitas.

Kasus ini juga memperlihatkan bahwa narkotika modern bekerja dengan cara yang manipulatif. Vape, yang selama ini dipandang sebagian kalangan sebagai simbol gaya hidup urban, ternyata dapat dijadikan medium konsumsi zat terlarang yang sulit terdeteksi secara kasat mata. Di sinilah letak bahayanya. Orang tua bisa lengah. Lingkungan bisa terkecoh. Bahkan sekolah dan masyarakat bisa gagal membaca tanda-tanda awal penyimpangan.

Karena itu, perang melawan narkoba tidak cukup hanya mengandalkan operasi penangkapan. Penegakan hukum memang penting dan harus tetap tegas, tetapi langkah represif tanpa penguatan edukasi hanya akan memutus rantai sesaat tanpa menyentuh akar persoalan.

Apa yang disampaikan Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, bahwa polisi tidak dapat bekerja sendiri, merupakan pesan yang sangat relevan. Pencegahan narkotika membutuhkan keterlibatan bersama: keluarga yang aktif mengawasi, sekolah yang membangun karakter, tokoh masyarakat yang memberi teladan, serta lingkungan sosial yang tidak permisif terhadap penyimpangan perilaku generasi muda.

Editorial ini memandang bahwa ancaman narkotika sintetis harus dijadikan perhatian bersama karena sifatnya yang semakin tersembunyi dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Jika dulu masyarakat dapat dengan mudah mengenali narkoba melalui bentuk fisiknya, kini masyarakat dituntut lebih cerdas memahami modus-modus baru yang tampil lebih modern dan lebih rapi.

Soppeng sebagai daerah yang dikenal religius dan menjunjung nilai kekeluargaan tidak boleh memberi ruang sedikit pun bagi berkembangnya budaya adiktif yang merusak moral generasi. Apalagi momentum pengungkapan kasus ini terjadi di tengah suasana keagamaan yang semestinya menjadi ruang refleksi moral dan penguatan spiritual masyarakat.

Kita tentu berharap aparat keamanan tetap konsisten melakukan penindakan tanpa kompromi terhadap jaringan narkotika. Namun di saat yang sama, masyarakat juga harus berhenti memandang persoalan narkoba sebagai urusan polisi semata. Ketika satu anak muda jatuh dalam jerat narkotika, maka sesungguhnya yang terluka bukan hanya keluarga, tetapi masa depan daerah itu sendiri.

Sebab pada akhirnya, narkotika tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan. Kadang ia hadir lewat kepulan asap yang dianggap biasa, lewat botol kecil yang tampak modern, lalu perlahan merampas akal sehat, masa depan, dan harapan generasi bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed