Di Balik Jeruji, Cahaya Itu Masih Menyala: Sat Resnarkoba Polres Soppeng Mengetuk Kesadaran Warga Binaan tentang Bahaya Narkoba

Keterangan Gambar:

Menengadah dalam Sunyi, Menolak Kembali Terjerumus.
Sejumlah warga binaan berdiri berjajar di dalam masjid rutan, mengangkat telapak tangan sebagai simbol ikrar dan harapan baru. Di bawah lengkung mihrab yang teduh, pembinaan rohani menjadi jalan pulang bagi mereka yang tengah belajar memaafkan diri, menata hati, dan menemukan kembali cahaya kehidupan yang sempat redup. Di tempat yang dibatasi tembok dan jeruji, doa-doa diam-diam tumbuh menjadi harapan: bahwa setiap manusia masih diberi kesempatan untuk berubah dan kembali menjadi lebih baik. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

Penulis: Alimuddin (Pemred Palapa Media Group)

Pagi itu, langit di atas Kota Watansoppeng tampak teduh. Angin berembus perlahan menyusuri halaman Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Soppeng di Jalan Pengayoman, Kelurahan Botto, Kecamatan Lalabata. Di balik dinding dan jeruji yang membatasi kebebasan, ratusan pasang mata duduk tenang mendengarkan pesan-pesan kehidupan, tentang harapan, penyesalan, dan kesempatan untuk kembali menata masa depan.

Sabtu, 9 Mei 2026, suasana Rutan Kelas IIB Soppeng terasa berbeda. Bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang perenungan, tempat di mana kesadaran perlahan ditumbuhkan melalui sentuhan edukasi dan nilai-nilai kemanusiaan.

Sat Resnarkoba Polres Soppeng hadir membawa pesan penting tentang bahaya narkoba melalui kegiatan Pembinaan dan Penyuluhan (Binluh) yang dipimpin langsung Kasat Resnarkoba Polres Soppeng, AKP Heriyadi Nur, S.E., M.M. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Rutan Kelas IIB Soppeng, Dedi Nugroho, A.Md.IP., S.H., M.M., bersama jajaran petugas dan diikuti sebanyak 124 warga binaan.

Di ruangan itu, penyuluhan tidak sekadar menjadi ceramah formal. Ia hadir seperti nasihat seorang saudara kepada saudaranya yang lain, pelan, menyentuh, namun sarat makna. Satu demi satu dijelaskan bagaimana narkoba tidak hanya merusak tubuh, tetapi juga perlahan memadamkan cahaya akal, menghancurkan keluarga, memutus cita-cita, bahkan menjauhkan manusia dari nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

Dalam pemaparannya, Sat Resnarkoba menjelaskan bahwa seluruh ajaran agama menolak penyalahgunaan narkoba karena zat haram tersebut menjadi pintu kerusakan bagi jiwa dan raga manusia. Ketergantungan yang ditimbulkan bukan hanya melukai kesehatan fisik, tetapi juga merusak hati dan masa depan.

Dari sisi kesehatan, narkoba dapat memicu gangguan fungsi otak, menurunkan daya ingat, merusak organ tubuh, hingga menyebabkan penyakit jantung dan gangguan lambung. Sementara dari sisi sosial, penyalahgunaan narkotika sering menjadi awal runtuhnya tanggung jawab, hilangnya pendidikan, rusaknya hubungan keluarga, hingga pelanggaran norma di tengah masyarakat.

Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., menegaskan bahwa langkah pencegahan harus menjadi benteng utama dalam memerangi narkoba. Menurutnya, menyelamatkan generasi muda berarti menjaga masa depan bangsa agar tidak tenggelam dalam lingkaran gelap penyalahgunaan narkotika.

“Pencegahan menjadi langkah utama dalam memerangi narkoba. Kami berharap melalui edukasi seperti ini, masyarakat semakin sadar bahwa narkoba adalah ancaman serius bagi masa depan bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, AKP Heriyadi Nur menuturkan bahwa generasi muda menjadi kelompok paling rentan terjerumus akibat pengaruh lingkungan dan pergaulan yang salah. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling menjaga dan menguatkan lingkungan agar tetap bersih dari narkoba.

“Narkoba bukan hanya merusak kesehatan, tetapi juga menghancurkan masa depan. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap bersih dari penyalahgunaan narkoba,” ungkapnya.

Di balik wajah-wajah warga binaan yang mendengarkan dengan saksama, tersimpan kisah hidup yang mungkin pernah tersesat oleh pilihan dan keadaan. Namun pagi itu, setidaknya ada secercah harapan yang kembali dinyalakan, bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk berubah dan kembali menemukan jalan pulang.

Kegiatan penyuluhan berlangsung aman, tertib, dan penuh perhatian. Pihak Rutan maupun para peserta memberikan respons positif atas kegiatan tersebut. Sebab sejatinya, memerangi narkoba bukan hanya soal penegakan hukum, melainkan juga tentang menyelamatkan manusia dari kehancuran dan mengembalikan mereka pada kehidupan yang lebih bermakna.

Di tempat yang sering dipandang sebagai akhir dari kebebasan itu, pesan tentang kehidupan justru tumbuh perlahan: bahwa masa depan masih bisa diperbaiki, selama hati tetap terbuka untuk menerima cahaya kesadaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *